Prof. Dr. Musdah Mulia

Pemerintah Dinilai Keliru Melihat Diskriminasi Atas Nama Agama

JAKARTA, ICRP – Penanganan kasus-kasus diskriminasi pada kelompok-kelompok minoritas pasca reformasi seperti kasus pengungsi Ahmadiyah di Transito, Syiah Sampang, dinilai memiliki permasalahan. Hal ini diungkapkan oleh muslimah progresif Prof. Dr. Musdah Mulia dalam acara rapat persiapan musyawarah besar Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Jakarta Pusat, Rabu (26/11).

Sejauh ini, menurut tinjauan Musdah Mulia, perspektif pemerintah dalam melihat kekerasan yang menimpa kelompok-kelompok minoritas sebagai persoalan komunitas. Mindset semacam itu, Musdah mulia melanjutkan, perlu diubah.

“Saya ingin pemerintah melihat permasalahan yang misal menimpa Ahmadiyah, GKI Yasmin, bukan sebagai permasalahan komunitas tapi sebagai masalah kebangsaan,” ujar ketua ICRP ini.

Perspektif yang ada di para pengambil kebijakan itu, ungkap Musdah, tidak lepas dari cara para korban kekerasan atas nama agama dan aktivis pro keberagaman berhubungan dengan pemerintah. Selama ini menurut Musdah para korban keberagaman lebih menggunakan pendekatan komunal daripada melihat perkara ini sebagai permasalahan holistik kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak mengherankan, menurut Musdah, sikapnya tidak terstruktur, massif, dan sistematis.

“Kita jangan maju sendiri-sendiri. Karena perkara ini pasti dianggap sebagai persoalan masing-masing komunitas oleh pemerintah,” ucap Musdah.

Musdah menegaskan permasalahan toleransi antar umat beragama perlu ditinjau sebagai permasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara. “Penyelesaian dengan cara segregasi semacam itu tidak akan menyelesaikan masalah. karena permasalahan utamanya adalah hak-hak sipil yang diabaikan oleh negara,” imbuhnya.

Selain itu, Musdah Mulia pun berharap para aktivis pro keberagaman memanfaatkan periode Jokowi-JK untuk menggencarkan semangat kebhinekaan.

“Saya kira pemerintahan baru ini harus benar-benar kita manfaatkan. Kita harus soroti janji-janji pemerintahan sebagaimana tertuang di Nawa Cita yakni semangat menjaga keberagaman. Kalau sudah lewat? Wah sudahlah,” tutur Musdah.

1.440 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

three × 1 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>