Bersyukur atas Keberagaman

fatmaOleh: Fatma Utami Jauharoh (Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Mengikuti program PID (Peace In Diversity), berkumpul dan berdialog dengan sodara-sodara lintas iman, serta berkunjung ke tempat ibadah berbagai agama-agama menjadikan khazanah keilmuan lebih terbuka. Tak hanya bertemu dengan sodara-sodara lintas agama, tetapi juga mengenal dan menjadi lebih dekat dengan kelompok penghayat kepercayaan. Belajar studi agama-agama pada jurusan Perbandingan Agama di UIN Jakarta menjadikan saya tidak asing dengan kelompok penghayat kepercayaan/aliran kepercayaan. Melalui mata kuliah Aliran Kepercayaan, saya belajar tentang beberapa kelompok aliran penghayat seperti Sapta Dharma dari Jawa Timur, Sunda Wiwitan di Kuningan-Jawa Barat, Kejawen di Jawa Tengah, Parmalim di Sumatera, Kaharingan di Kalimantan, Talontang dari Sulawesi, dan lain sebagainya. Tetapi mendengar salah satu teman adalah perwakilan dari kelompok penghayat Kapribaden, sama sekali saya belum pernah mendengarnya. Karena tertarik untuk mengetahui, saya dan beberapa teman program PID, bertanya kepada Eryani, salah satu teman perwakilan dari kelompok penghayat Kapribaden. Mendengar penjelasan dari Eryani menjadikan kami mengenal dan tahu tentang kelompok penghayat kepercayaan Kapribaden, yang saat ini dipimpin oleh Ibu Hartini Wahyono berasal dari Semarang-Jawa Tengah ini.

Dari hasil diskusi kami dan beberapa teman, kelompok penghayat kepercayaan sering disalahpahami sebagai sekte dari salah satu dari enam agama yang “diakui” negara. Memakai istilah agama yang “diakui” dan “tidak diakui” sebenarnya kurang pas, karena enam agama tersebut sebenarnya adalah agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk Indonesia. Jauh sebelum kedatangan agama-agama mondial/agama dunia (Islam, Kristen, Katolik, Yahudi) dan agama Timur (Cina: Tao, Konghuchu; India: Hindu, Buddha) yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia, agama asli Indonesia atau disebut agama lokal Indonesia telah lebih dahulu berkembang.

Kelompok penghayat kepercayaan yang dulunya dikenal dengan sebutan aliran kebatinan, secara akademis sama seperti agama. Penghayat kepercayaan bukan berasal dari sempalan salah satu agama atau sekte agama. Penghayat kepercayaan sering juga disalahpahami sebagai budaya spiritualitas bahkan disamakan dengan penganut paham animisme dan dinamisme, sehingga banyak kalangan menyebut penghayat kepercayaan bukan sebagai agama. Namun demikian penghayat kepercayaan ini merupakan “agama” mandiri. Secara akademik berfungsi sebagai agama, tetapi secara yuridis bukan sebagai agama dalam konteks Indonesia.

Menurut Muhammad Ali[1], istilah “agama”, “religion”, seringkali dipakai untuk sistem keyakinan atau ritual yg memiliki tradisi tulisan sedangkan masyarakat adat umumnya lisan. Padahal  masyarakat adat juga memiliki kepercayaan dan ritual yg bisa dikategorikan sebagai agama. Istilah agama adalah konstruk sosial. Nomenklatur dalam negara menempatkan enam agama yang “diakui” negara beraada dalam naungan Kementrian Agama RI, sedangkan penghayat kepercayaan berada dalam naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Direktorat Pembinaan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi. Jumlah kelompok penganut penghayat kepercayaan relatif sedikit dan bersifat lokal, oleh karenanya banyak masyarakat di luar penghayat kepercayaan kurang memahami keberadaannya.

Dengan kegiatan semacam ini, menjadi kesempatan untuk kami belajar mengenai ajaran agama-agama dan belajar menjalin kerukunan. Kerukunan memiliki makna lebih luas dari toleransi. Namun demikian kerukunan dan sikap toleran/toleransi saling berkaitan, karena terciptanya kerukunan salah satunya adalah dengan adanya sikap toleran. Jika toleransi hanya pada taraf sifat atau sikap toleran (membiarkan, membolehkan) pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb. Kerukunan dimaknai sebagai hidup berdampingan tanpa adanya kecurigaan, tidak saling mengganggu dan ketulusan berinteraksi dan menjalin kerjasama.

Sangat berkesan dapat mengikuti even yang diselenggarakan oleh Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) yang bekerjasama dengan Wahid Institute ini. Tidak hanya sekedar “jalan-jalan” saja, tetapi melalui kegiatan kunjungan ini kami dapat bertukar wawasan mengenai ajaran agama dari penganutnya secara langsung. Sehingga menjadi lebih objektif dalam menilai agama lain. Informasi yang kami dapatkan menjadi lebih faktual dan dalam mendiskripsikan suatu ajaran agama akan sesuai dengan apa yang penganut agama lain percayai. Lebih menghargai dan memahami simbol agama-agama, mengetahui bahwa fungsi rumah ibadat tidak hanya sebagai tempat melaksanakan ibadat/ritual keagamaan saja tetapi sebagai icon kerukunan. Dapat dilihat dari bagaimana hubungan antara masjid Istiqlal dan gereja Katedral berdiri berdampingan dan antar jemaat masing-masing rumah ibadat saling membina kerukunan.

Bagi yang masih menganggap bahwa kegiatan semacam ini beresiko pendangkalan akidah, saya rasa pendapat tersebut adalah tidak benar. Dr. Media Zainul Bahri[2] menjelaskan bahwa iman yang kokoh adalah iman yang terbuka, iman yang siap dibentur-benturkan dengan paham dan pandangan apapun. Sikap penuh ketakutan dan kecurigaan adalah bukti iman yang rapuh. Lebih dari sekedar kedewasaan beragama, tetapi juga kedewasaan pemikiran dan bertingkah laku, karena adalah kenyataan bahwa kita hidup di tengah masyarakat plural. Berbeda pendapat tentu saja boleh, namun jangan sampai memutlakkan satu pendapat.

Bersyukur menjadi bagian dari negara yang mempunyai kultur budaya dan agama, yang begitu plural. Nilai-nilai agama menjadi spirit berbangsa dan dengan falsafah Pancasilanya menjadikan kita setara walaupun dengan beraneka rupa. Walaupun masih ada sebagian warga negara yang masih mudah tersulut oleh isu SARA tetapi mungkin karena “mereka” belum mencapai esensi ajarannya, atau terhimpit karena menghadapi retorika kepentingan golongannya. Karena perbedaan adalah kehendak-Nya maka, perbedaan itu bukan untuk diseragamkan, tetapi harus dengan bijak dalam menyikapinya. Ketika di luar sana masih banyak yang menghujat yang berbeda dengannya. Kami mencari titik temu agar ada keselarasan kehidupan berbangsa tetap terjaga.

Hatiku bisa berbentuk apa saja,

biara bagi rahib, kuil untuk berhala

padang rumput untuk rusa,

Ka’bah bagi para penggemarnya,

lempengan-lempengannya Taurat, Qur’an.

Kasih adalah keyakinanku: ke manapun pergi

unta-unta-Nya, kasih tetap keyakinan dan kepercayaanku

-Ibn ‘Arabi-

 


[1] Assistant Professor, Islamic Studies: Islam in Southeast Asia, politics, law, education, religious pluralism, Middle East. University of California, Riverside.

[2] Dosen Perbandingan Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Keterangan: Tulisan ini menjadi juara II pemenang lomba penulisan dalam program Peace in Diversity yang diselenggarakan ICRP-PGI-The Wahid Institute

1.313 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

20 + twelve =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>