Perempuan-Perempuan Fundamentalis (ilustrasi)

Perempuan Fundamentalis Samakan Anak Dengan Tentara

JAKARTA, ICRP – Perempuan ternyata memiliki peran yang penting dalam agenda kelompok-kelompok fundamentalis. Menurut peneliti Senior Rumah Kitab, Lanny Octavia, perempuan menjadi aktor utama dalam reproduksi. Perempuan dinilai menjadi transmitter penting gagasan fundamentalisme .

“Di kalangan fundamentalis jumlah anak selalu banyak. Hal ini sengaja karena mereka melihat anak sebagai calon kader potensial,” ujar Lanny dalam diskusi Perempuan dan Fundamentalisme di Teater Utan Kayu, Rabu, (26/11).

Perempuan lulusan University of Exeter ini mengungkapkan penggunaan idiom kekerasan di kalangan perempuan fundamentalis telah melekat kuat. Hal ini, Lanny melanjutkan, terlihat dari bagaimana hubungan antar para perempuan di kalangan ini melihat posisi anak. “Kalau di kalangan perempuan ini merka menyebut anak sebagai “Jundi” (tentara dalam bahasa Arab),” tambah Lanny.

Adanya pengidentikan anak-anak sebagai tentara menurut Lanny tidak lepas dari cara pandang kalangan fundamentalis melihat fungsi reproduksi. “Reproduksi ini erat kaitannya dengan ideologi,” ucap Lanny.

Temuan yang Lanny paparkan dari hasil riset Yayasan Rumah Kitab tahun lalu itu menunjukan betapa seriusnya kalangan fundamentalis merekrut perempuan sebagai kader. “Karena saking strategisnya peran perempuan maka perempua diperebutkan,” ujarnya.

Selain itu, berdasar temuan penelitian, Lanny mengungkapkan perempuan di kalangan fundamentalis sulit untuk diberikan wacana feminisme. Meminjam istilah Karl Marx, Lanny menilai kalangan fundamentalis telah menanamkan secara kuat kesadaran palsu di anggota perempuan. “Ketika saya menanyakan konsep kesetaran gender, mereka akan tanya balik lha memang di dalam Islam ada perintahnya? hati-hati ini merupakan konspirasi Barat merusak Islam,” ungkap Lanny menirukan salah seorang dari 20 perempuan yang Ia wawancarai.

Bahkan Lanny melanjutkan, para perempuan di kalangan fundamentalis telah menerima untuk diposisikan tidak setara. Kuatnya indoktrinasi yang berakibat mengentalnya kesadaran palsu, dinilai menjadi salah satu faktor sulitnya wacana feminis masuk ke kalangan perempuan fundamentalis.  “Perempuan Fundamentalis diajarkan untuk ditindas dan diinferiorkan,” ujar Lanny.

Lanny menyayangkan masih kuatya pendekatan yang maskulin dalam melihat fundamentalisme. “Kebanyakan di publik melihat persoalan fundamentalisme sebagai sesuatu yang maskulin,” papar Lanny. Padahal, sebagaimana hasil temuan Rumah Kitab yang dipaparkan Lanny agenda fundamentalisme tidak bisa dilepaskan dari peran perempuan.

937 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

1 × 1 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>