Suasana Rapat Persiapan Konferensi Indonesian Conference on Religion and Peace

(English) “Dunia Pendidikan Semakin Tidak Pluralis”

JAKARTA, ICRP – Dunia pendidikan kembali disinggung dalam rapat persiapan konferensi Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Pasalnya, berdasar temuan di lapangan, sekolah-sekolah menjadi basis menguatnya radikalisme. Kali ini, permasalahan itu disampaikan Henny Supolo dari Yayasan Cahaya Guru.

“Sekolah menjadi pintu masuk radikalisme,” tegas Henny Supolo, Rabu (3/12) sore di Sekretariat ICRP, Jalan Cempaka Putih Barat XXI no. 34

Henny Supolo mengatakan permasalahan radikalisme  bukannya massif terjadi di sekolah-sekolah agama, tetapi di sekolah-sekolah Negeri. Sekolah-sekolah ini, lanjut Henny, cenderung lebih mudah tersebar ide-ide radikalisme.

Henny menduga persoalan menguatnya radikalisme di sekolah-sekolah negeri membuat masyarakat minoritas enggan untuk menitipkan anak-anaknya di sekolah yang dimiliki negara. Karena, di sekolah-sekolah milik negara sendiri berdasar temuan di lapangan tengah ada penyeragaman tentang religiusitas. Henny mencontohkan jika para siswi dipaksa harus menggunakan pakaian yang sesuai dengan tafsiran pandangan agama tertentu.

“Sekolah negeri memiliki masalah tentang keberagaman,” ungkap Henny menyimpulkan.

Ketua yayasan ICRP Musdah Mulia yang juga hadir pada rapat kali ini mengamini paparan Henny Supolo. Musdah yang telah lama menggeluti isu keberagaman menilai sekolah telah menjadi sarang bagi kelompok-kelompok Islamis di tanah air.

“Dunia pendidikan kita semakin tidak pluralis,” ucap Musdah menyayangkan.

Permasalahan komodifikasi religiusitas di dunia pendidikan ke arah penyeragaman menurut  Peneliti Senior The Wahid Institute Alamsyah Djafar kini telah mendapatkan legitimasi. Menurut Alamsyah, pemaksaan tafsr agama di dunia pendidikan tidak semata terjadi karena adanya ide-ide radikalisme. “Bukan cuma adanya penyebaran gagasan intoleran dan radikal, tapi secara struktur ada dukungan ke arah sana,” ucap Alamsyah.

Anies Baswedan kini menjadi arsitek Joko Widodo dalam membenahi dunia pendidikan. Hingga kini, mantan rektor Universitas Paramadina belum pernah menyinggung permasalahan radikalisme di dunia pendidikan. Apakah ini menunjukan Anies tidak memiliki kepedulian terhadap  keberagaman?

894 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

thirteen + five =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>