Talkshow di Tempo TV

Pendidikan Multikulturalisme Jadi Alternatif Kikis Intoleransi

JAKARTA, ICRP – Intoleransi di masyarakat kian meningkat pasca reformasi. Beberapa kalangan menilai dunia pendidikan menjadi salah satu basis berkembangnya gagasan intoleran. Karena itu, beberapa upaya dilakukan para aktivis pro keberagaman dengan menggunakan sekian pendekatan. Salah satu pendekatan untuk mengikis intoleransi di dunia pendidikan adalah mengembangkan pendidikan multikulturalisme.

Peneliti Senior Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP), Ahmad Nurcholish dan Teolog Kristen Maryam Kurniawati didaulatTempo TV dalam acara Agama dan Masyarakat untuk mengurai pendidikan multikulturalisme, Rabu (3/12).

Dipandu oleh Aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) Novriantoni Kahar selaku host, Ahmad Nurcholish memberikan pandangannya mengenai pendidikan multikulturalisme.

“Pendidikan multikulturalisme merupakan proses belajar untuk mendidik orang agar memahami bahwa kita hidup beragam, sehingga tidak bisa diseragamkan,” ucap Nurcholish.

Nurcholish menuturkan pendidikan multikulturalisme merupakan upaya untuk mendorong terciptanya penghargaan pada tiap individu yang memiliki keunikan baik dari segi budaya maupun agama. ICRP, Nurcholish melanjutkan, telah melakukan kerjasama dengan beberapa universitas salah satunya adalah Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) dalam mengembangkan pendidikan religious studies yang memaktubkan pendidikan multikulturalisme.

“Multikulturalisme jadi perspektif keagamaan yang kami terapkan di UPJ,” jelas Nurcholish.

Ketika ditanya oleh host acara tentang bagaimana mengembangkan pendidikan multikulturalisme secara massif, Nurcholish mengakui hal tersebut sulit. “Secara umum sulit namun bukan berarti tidak mungkin,” ujar Nurcholish. Mengambil temuan dari Yayasan Cahaya Guru, Nurcholish memaparkan kondisi pendidikan di tanah air cukup memprihatinkan. Pasalnya, ditemukan, di beberapa sekolah di Jabodetabek ada guru-guru yang bahkan menolak untuk menyanyikan lagu kebangsaan dan menolak keberagaman budaya dan agama.

Karena itu, Nurcholish berharap selain di peserta didik, pendidikan multikulturalisme pun perlu ditanmkan di para pejabat publik. Sebab, para pemangku kebijakan lah, Nurcholish nilai, memiliki peran penting dalam menciptakan struktur pendidikan yang ramah pada keberagaman atau tidak.

Sementara itu, Maryam Kurniawati menyinggung adanya relasi Orde Baru dan lemahnya keberagaman di Indonesia pasca reformasi. Menurutnya, selama Orde Baru perkara Suku Agama dan Ras (SARA) disenyapkan dari wacana di ruang publik.

Sebagaimana diketahui bersama, pemerintahan Soeharto selama berkuasa menutup permasalahan keberagaman di Indonesia. Bahkan Soeharto, dinilai banyak kalangan, telah melakukan penyeragaman Indonesia dengan kultur Jawa.

“Dulu kita pada masa orba tidak boleh bahas multikulturalisme karena hal itu SARA dan tabu untuk diperbincangkan,” ucap Maryam

Jika ditelusuri lebih lanjut, Maryam menilai, permasalahan intoleransi tidak bisa dilepaskan dari adanya kesenjangan sosio ekonomi di masyarakat. Sayangnya, Maryam yang sedari S1 tertarik dengan Islamologi ini melanjutkan, ada pihak-pihak yang menggunakan kondisi ini untuk dipolitisir dan dipoles sedemikian rupa untuk dapat kuasa.

“Masalahnya ada yang senang mencampur-campur politik dan agama sehingga sekarang ktia kerepotan semua,” ucap Maryam menyesalkan politisi yang mempermainkan kondisi kesenjangan sosio ekonomi masyarakat.

Karena itu, menurut Maryam memberikan pendidikan multikulturalisme menjadi penting. Tidak lain, sambung Maryam untuk memberikan kesadaran bagi tiap orang di tanah air untuk mengapresiasi keberagaman.

“Kita perlu pendidikan yang mendorong publik agar tidak menjadikan identitas kultur dan agama sesuatu yang ekslusif,” tutur Maryam.

910 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

four × 2 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>