Melihat Kebenaran dengan Cahaya Tuhan

pajar intanOleh: Pajar Intan

Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda Jakarta

Judul ini kuanggap tepat untuk menyampaikan semua rasa, ide, serta pernyataan-pernyataan yang mendidik dari pribadi-pribadi yang selalu memberi insfirasi, ditengah suasana Negara yang gamang’ “antara terang dan gelap’’ketika kondisi politik carut marut, ketika para pejabat memperebutkan jabatan, ketika itu pula kami belajar mengenal yang berbeda. Aku ke Gereja’ aku tak menemukan Tuhan, aku ke Vihara aku juga tak menemukan Tuhan, Aku Ke Masjid’ aku juga tak menemukanNya. Lalu aku pulang, kucoboba melihat jauh di dalam hatiku, ternyata Tuhan ada disana. Begitu ucapan terakhir Cak Nurcholis, nama yang ku tau, sebelum menutup acara itu. Ucapan itu mengarah pada apa yang sudah kami lakukan selama kurang lebih dua hari. Berkunjung ke tempat-tempat ibadah, ya…inilah salah satu acara utama yang aku ikuti bersama teman sekampus ku, Rosiyono.

Malam itu perkuliahan berakhir pada jam 20.30 WIB. Tak seperti biasanya aku yang sudah lama tidak bergabung dalam forum diskusi, malam itu ikut duduk bersama menikmati dinginnya malam tepat di bawah pohon Mangga di depan Asramaku, Di situlah kami biasanya berdiskusi. Suasana hening tak bertahan lama, karena selang beberapa menit, aku mulai melontarkan pernyataan “ bila ingin berbicara Agama, maka kita harus memosisikan diri sebagai orang yang tidak beragama, dengan demikian apa yang disampaikan orang lain mengenai Agamanya tidak akan kita nilai berdasarkan sudut pandang kita.”

Setelah menyampaikan pernyataan ini, aku bagai menjelma sebagai seorang pujangga besar, siapa yang mampu menyangkal pendapatku, tanyaku dalam hati. Sebenarnya pernyataan itu adalah penyederhanaan terhadap apa yang telah disampaikan oleh Prof Tanggok dalam perkuliahan perdana Mahasiswa Pasca Sarjana yang dilaksanakan kira-kira pada 2 September lalu. ‘’Kita jangan menilai Agama orang lain dari sudut pandang Agama kita, itu tidak akan ada hasilnya’’ begitu tutur Profesor yang berperawakan sederhana itu.

Pernyataan ini langsung ditanggapi Supardi, dan tahukah kalian Ia bukannya berusaha menyelami makna kata-kataku, tetapi malah membuat pernyataan yang menolak pernyataanku. Entah apa alasannya, aku lupa’ yang ku tau Ia tidak setuju. Namun bukan itu inti pembicaraanku, yang ingin kusampaikan adalah’ malam itu aku ditunjuk untuk mewakili kampusku sebagai peserta dalam kegiatan Lintas Agama.

Aku berangkat bersama Rosiyono. Wawan yang saat itu berprofesi sebagai ketua BEM ingin turut  berpartisipasi. Ia mencoba mencari peserta tambahan, setelah melakukan konfirmasi dengan beberapa mahasiswi, ia diminta menunggu, tetapi akhirnya ia mendapatkan kata tidak, itu pun bukan dari mahasiswi tersebut’ melainkan dari aku sendiri.

Tidak puas dengan dengan kata tidak, aku lalu mencoba membuat presentasi kecil kepada setiap mahasisiwi semua ku lakukan, mencegat mahasiswi yang baru keluar dari kelas filsafat, dari pintu kampus, serta berdemonstrasi di kelas, aku aingin menunjukkan kepada mereka’ betapa pentingnya acara ini. Saat membeli makanan di kantin kampus pun aku mengatakan hal yang sama kepada mahasiswi yang bertugas ’’mengajaknya untuk bergabung’’ tetapi hanya dua kata yang mendarat halus dari bibirnya, tidak, tidak bisa, sangat halus, apa karena dia adalah wanita berkebudayaan jawa ? Untuk hal ini kalian mungkin bisa memberikan pendapat.

Hari pelaksanaan acara semakin dekat, sementara tugas-tugas menumpuk, menunggu untuk diselesaikan. Malam itu aku berpacu dengan waktu belajar sampai larut malam hingga tak sadar pagi datang menyapa. Hal ini kulakukan agar aku tak dianggap konyol oleh Ibu Yeny Harianto, bisa mengikuti organisasi tetapi tidak bisa menyelesaikan tugas, begitu biasanya Ia menyindir mahasiswa-mahasiswa lain yang mengabaikan tugasnya. Waktu menunjukkan pukul 04.00. Mataku sudah tidak bisa diajak berkompromi. Aku terlelap. Tepat pukul 05.30 aku bangun. Mengenai keadaan mata dan pikiranku, kurasa tak perlu kuceritakan, kata orang mahasiswa memang harus begini. Bahkan terkadang aku sama sekali tidak tidur, sebagai mahasiswa super aku pernah tidak tidur selama 27 jam’hebat bukan?

Usai berceloteh dengan mimpi masa depan yang kadang tampak dekat, aku pun berangkat. Kelincahan Ryan mengendarai motor dapat terlihat ketika ia dengan lihai melanggar rambu lalu lintas, buruk memang namun berkat kelihayannya, kami dapat sampai tepat waktu. Satu persatu wajah ku perhatikan, diantara mereka ada yang memang sudah mengenalku, tetapi ada juga yang baru ku kenal saat itu. Informasi singkat yang kudapat, mereka rata-rata mahasiswa filsafat , sejenak terlintas di benakku “akan lama sekali waktu yang dibutuhkan untuk menyatukan pandangan dan pemikiran filsafat versi Einstein dan Karl Mark atau bahkan Purbach dengan filsafat timur selain Filsafat Buddha. Di luar dari hal tersebut, aku bahagia, dapat mengenal yang berbeda. Yang tidak sama denganku. Dan yang dulu membenci aku dan Agamaku. Waktu keberangkatan tiba, Dalam beberapa menit, bis yang sebelumnya tampak lengang berubah menjadi padat, meski beberapa bangku masih terlihat  kosong. Ketua rombongan kami adalah Cak Nur,  Ia begitu lucu, lugu dan terlihat palsu, ‘’ soalnya sikap, sifat dan syariatnya tak berbanding lurus dengan wajahnya ” ada banyak karakter yang tersimpan dalam dirinya. Bagiku, ia pantas menjadi apa saja, kecuali menjadi pelawak..itupun sebenarnya hanya karena ia tak mau.

Dalam perjalanan, kami diminta memperkenalkan diri, sulit memang berbicara di keadaan sempit, akan tetapi semua tampak menikmati suasana itu. Aku tidak bisa menyebutkan semua Institut, LSM atau organisasi yang hadir. Namun yang pasti peserta yang hadir tidak hanya beragama Islam, melainkan beragama Buddha, Katolik dan Protestan, disini aku juga menjumpai perwakilan dari aliran kepercayaan Kapribaden, bila diminta memandangi peserta  wanita dari aliran Kapribaden, aku tak akan bosan memandanginya, ia begitu indah ’’sudahlah, aku tak ingin terlalu banyak memujanya”.

Dalam tenang aku mencoba membuang tatapan sejenak ku perhatikan bangku di sampingku, kulihat senyuman kecil dari gadis berkerudung itu’ kucoba menyapanya dan mengulurkan tangan. Ia menyambut tanganku dan anehnya ia tak bertanya’ apapun. Yang membuat aku heran’ ia tak seperti gadis-gadis berkerudung di luar sana. Elvin…namanya seindah senyuman yang terpancar lewat bola matanya. Sela beberapa menit, kualihkan pandanganku, ‘’aq mencoba berbicara lewat senyuman” semua yang hadir seakan mengerti bahasaku, mereka menjawabku dengan senyuman khas masing-masing, namun tentu saja senyuman mereka tidak seindah senyuman Elvin, ‘’ucapku dalam hati”.

Perkenalan diri berakhir, semua peserta memulai obrolan dengan teman sebangkunya, ada yang asyik berbicara tentang Agama, Filsafat, Negara, bahkan ada juga yang membicarakan tentang asmara, semua dilakukan…hanya atas satu alasan “ agar dapat lebih mengenal yang berbeda. Jari-jari Bis yang semula berputar kencang tampak melambat, dari kejauhan, tampak dua menara, sepintas ku perhatikan menara itu seperti dibentuk dengan gaya Eropa, lihat saja ukirannya, halus dan penuh dengan rasa, usianya terlihat sangat tua. Tepat di depan kedua menara tersebut jari-jari Bis berhenti total,  rupanya dua menara megah yang tampil dengan gaya Eropa itu adalah Icon dari Gereja katedral. Perjalanan yang menyenangkan.  Kami bergegas turun. Cak Nur selaku ketua rombongan mengarahkan kami menuju pintu masuk Gereja, setelah bercakap-cakap dengan salah seorang pengurus Gereja, kami pun dipersilakan masuk dan duduk di deretan kursi yang biasanya dipakai untuk beribadah oleh umat. Suasana dalam Gereja amat menenangkan. Syahdu, benar-benar syahdu. Entah apa yang menjadi penyebab kesyahduan ini, mungkin karena sudah begitu banyak umat yang menaruh harapan mereka di sini’ dan harapan itu kini telah dijamah oleh Tuhan. Indah memang, bila apa yang menjadi harapan kita, dapat menjadi kenyataan. Aku pun turut berdoa, “semoga damai menyelimuti semua hati, semoga Tuhan selalu hadir disini ” .

Sebelum meninggalkan Gereja, gadis berkerudung, dengan lilin di tangannya berdiri di depan patung Yesus dengan penuh khidmat, entah apa maksudnya, menurutku ia tidak sekedar berpose, aku melihat jelas sorot matanya, ada cahaya yang berbeda’ dan cahaya itu penuh dengan cinta. Usai mengunjungi Gereja, rombongan kami bergerak menuju Masjid Istiqlal, hanya butuh waktu lima menit bagi kami untuk sampai ke masjid tersebut, karena memang posisinya berseberangan pas dengan Gereja Katedral. Tak banyak yang dapat ku ceritakan mengenai Masjid itu, karena memang kehadiran kami di masjid itu tidak cukup lama. Usai berkeliling, melihat beduk berukuran besar, melihat kubah serta pondasi masjid, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, tujuan kami adalah Sebuah Vihara yang terletak di daerah Lodan. Belum lama melaju, bis yang kami tumpangi sudah disuguhkan dengan keadaan jalan yang melimpah ruah, seakan tak ada celah, suasana jalan yang tak ramah membuat kami lelah, di tambah lagi dengan sinar  matahari yang memayungi Bis kami, oh’ sungguh tak nyaman berada dalam kondisi seperti ini, tapi bila sudah terperangkap, sepertinya tidur menjadi pilihan yang paling tepat. Mata yang semulanya sayu, perlahan terpejam pasti. Aku baru terbangun ketika Bis kami memasuki area Vihara. Disini tidak ada menara, juga tidak ada kubah, yang ada adalah barisan patung pria botak, dengan telinga melar dan dengan perut yang sedikit gendut, kawan, aku tau kalian pasti akan bertanya’ siapa pria itu ? Apakah dia Tuhan, atau Dewa?

Kawan, simpan saja dulu pertanyaan kalian, bukan maksudku tak ingin menjawab, sejujurnya ini bukanlah wewenangku. Aku rasa Bhikksulah yang berhak menjawab pertanyaan kalian. Untuk sementara aku berikan kebebasan pada kalian, mau kalian sebut apa pria gendut itu, Dewakah ataukah Tuhan ? Semua terserah pada kalian. Kami bergegas masuk, tak ingin terlihat pongah, kami memberikan senyuman termanis yang kami miliki pada tiap orang yang kami temui, di luar dugaan kami, di sini kami disambut dengan jamuan makan, menu yang disajikan begitu menggugah, siapa sangka, di sini kami diperlakukan bagai raja. Usai menikmati makan siang, seorang Bhiksu muda tampak hadir di depan kami, melalui media power point ia menjelaskan mengenai sejarah Vihara tersebut. Tak ada yang istimewa dari penjelasannya, jujur, aku pribadi tak begitu menikmati presentasinya, kurasa kalian pun begitu. Untung saja perut dalam keadaan kenyang, kalau tidak kantuk pun pasti tak terelakkan. Suasana menjadi sedikit cair ketika kami dibawa berkeliling Vihara, patung Buddha besar dalam posisi duduk dengan  tangan membentuk cakra atau dirangkapkan, lilin, lonceng serta alat-alat peribadatan yang lainnya, kurasa semua itu adalah pemandangan baru bagi kebanyakan anggota rombongan, satu persatu alat dijelaskan Fungsinya oleh Bhiksu tersebut, semua terlihat mengerti. Kecuali aku, sampai malam ini aku masih bertanya-tanya tentang keabsahan sebuah Lonceng yang menurut penjelasan Bhikkhu itu’ bila dibunyikan maka dapat mengundang para dewa sungguh sulit dipercaya. Waktu ‘Asar hampir-hampir tiba, kami bersiap-siap menaiki bis, rupanya masih ada agenda  hari pertama yang belum rampung, yaitu ‘’pelatihan singkat mengenai seni dan lekuk dunia tulis’’kali ini, kami dipandu oleh seseorang yang namanya tak bisa ku ingat, sekedar agar kalian mengerti, ia adalah pria berperawakan kurus, aku sangat suka dengan cara ia bebicara, kadang ia juga mengutip kata-kata dari seniman lawas, misalnya’ hewan yang tidak bepolitik disebut binatang, sementara binatang yang berpolitik adalah manusia, agar tak mudah dikalahkan maka manusia dan hewan harus berpolitik, sebab dalam politik tak ada kesalahan. Seperti kata W.S Rendra dalam sajaknya, politik tak punya mata, politik juga tak punya telinga dalam politik tak ada aturan yang jelas. Dan sekarang aku rasa kalian sudah dapat menentukan, apakah kalian akan berpolitik atau tidak ???, semua tergantung kalian, mau jadi manusia atau menjadi binatang ?

Dibalik kutipan yang penuh dengan kritik, ia sempat menyisipkan kata kata ini “ kalau kalian bukan anak raja atau anak pejabat, dan kalian ingin dikenal dunia, maka menulislah’ karena dengan menulis kalian akan dikenal dunia ’’karena kalimat pendek ini, aku berhar-hari berjuang, malam dan siang, pagi dan sore bahkan terkadang aku bergadang hingga fajar. Semua ku lakukan hanya demi sebuah tulisan. Alasanku sederhana, karena aku ingin dikenal dunia dan aku yakin, suatu hari dunia juga akan memanggil namaku.

Hari beranjak malam, seni dan lekuk dunia tulis telah ditunjukkan pada kami. Semoga kami akan mengerti. Melihat agenda kegitan esok hari, rumah ibadah yang pertama kali akan kami kunjungi adalah Gereja kampung tugu, dari Gereja kampung tugu kami akan beranjak ke Lithang tempat peribadatan orang Konghucu’’.

Pagi datang, perlahan ku buka mata jam dinding menunjukkan pukul 05.30 WIB. Aku segera berkemas, semoga perjalanan hari ini menyenangkan. Sambil menunggu, kopi hitam kupacu laju, terasa tawar memang, tapi ya sudahlah. Matahari terlihat jelas, pertanda pagi hampir sirna, kami segera berangkat. Dengan Bis yang sama kami dibawa menuju Gereja kampung Tugu, keadaan jalan terlihat sedikit lancar, supir bis memasang kecepatan sedang, tak berapa lama kemudian kami pun sampai di Gereja Kampung Tugu. Tempatnya tak begitu ramai, konon katanya, daerah ini dulu adalah tempat di mana orang-orang Portugis diasingkan. Kami diberikan kesempatan bertemu dengan seorang pendeta keturunan Portugis, tinggi besar dan bersuara lantang, logat bicaranya memang terlihat tak seperti orang Indonesia pada umumnya, em, mungkin memang begitu perawakan serta pembawaan orang Portugis. Sebuah pintu utama dan jendela yang berukuran besar, kurasa ini dapat menjadi ciri utama gereja ini.

Tak berapa lama kemudian, kami melanjutkan perjalanan, sebelum meninggalkan Gereja puluhan kata terima kasih dilontarkan kepada Bapak Pendeta keturunan Portugis itu. Supir Bis tampak bersiap, satu persatu rombongan kembali memadati jajaran kursi, kali ini tujuan kami adalah Lintang. Lintang adalah Rumah Ibadah umat Konghuchu, secara keseluruhan bentuknya hampir sama dengan Kelenteng, aku hampir tak dapat menemukan perbedaannya. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjag kami akhirnya sampai, banyak diantara kami terlihat pucat dan lemas, maklum’ kondisi jalan di Ibukota Jakarta sampai detik ini belum terlalu banyak berubah’ terperangkap di jalan membuat kami jenuh dan kehilangan semangat, muka, baju, rambut, semua terlihat berantakan. Tak terkecuali aku.

Aku mencoba untuk tersenyum, kuucapkan lagi kata yang ku pelajari dari gadis remaja peraih IPK tertinggi jurusan Biologi Kampus Universitas Pendidikan  Indonesia itu, semangat!!! Kata inilah yang selalu diucapkan gadis berperawakan kecil itu setiap kali ia mulai merasa lelah, belum pernah ku dengar Ia mengeluh, sungguh patut dicontoh. Tak cukup dengan satu kata ajaib, aku lalu meregang tubuhku. Setelah melakukan senam dan sedikit peregangan, tubuhku terasa membaik. Aku segera berjalan menuju Lintang. Banyak cerita yang kami dengar dari juru pemandu , dan yang paling ku ingat adalah mengenai perlakuan diskriminasi yang diterima kaum minoritas pada zaman orde lama.

Rangkaian acara selesai, dalam perjalanan pulang kami diminta untuk memberikan pesan dan kesan kami. Berbagai macam pernyataan keluar dari masing-masing peserta, tetapi yang paling berkesan bagiku adalah pernyataan dari perwakilan Perkumpulan Tionghoa Muslim, “sebenarnya bukan Tuhan yang memberikan kebahagiaan, melainkan diri kita sendiri, maka dari itu kita harus banyak melihat dalam diri, agar dapat melihat kebahagiaan sejati”. Singkat memang pernyataannya, tetapi bagiku, ini amat berkesan. Oh ya kawan, aku hampir saja melupakan satu hal, mengenai perlakuan diskriminasi terhadap kaum minoritas, aku ingat betul apa yang dikatakan pemandu wanita itu mengenai hal ini. Begini katanya” dulu, ia harus menjemurkan mukena di depan rumahnya, agar Ia tidak dijadikan korban pembantaian dan diintimidasi oleh penguasa pada waktu itu”. Aku terkejut, sebegitu besarkah diskriminasi pada zaman itu… , lebih-lebih ketika Ia mengatakan, “ untuk beribadah saja kami harus diam-diam” karena kalau ketahuan akan dianggap melanggar aturan. Mendengar hal itu, aku jadi membayangkan, negaraku seperti negara mayoritas minoritas, dan bukan Negara Pancasila. Pada waktu itu Pancasila mungkin hanya slogan, pasalnya begitu banyak ketidakadilan yang dirasakan masyarakat Minoritas pada waktu itu, tak peduli Agama, bila melawan, semua akan diperlakukan sama, dijarah, diperkosa atau bahkan dibunuh. 1998, aku hafal benar angka ini. Waktu itu masyarakat di kampungku menyebut bencana besar ini dengan istilah krismon (krisis moneter). Pada waktu itu, tangan pemerintah ibarat  tangan Tuhan, melawan pemerintah berarti melawan Tuhan. Demokrasi namun otoriter, rakyat boleh berspekulasi, tetapi pemerintahlah yang mengeksekusi.

Lama tulisanku terbengkalai, karena tak ada kata-kata yang tepat bagiku untuk memulai bait selanjutnya, kata-kata habis, hilang, sirna, dan tenggelam dalam tenang…mendengar penuturan dari wanita Tionghoa  yang pada waktu itu kami temui di Lintang , aku seperti hilang. Mungkin karena aku adalah salah satu orang yang  harusnya bersembunyi pada waktu itu. Karena aku adalah seorang Warga peranakan Tionghoa yang dulu disebut Cina, sebenarnya sangat banyak sebutan olokan untuk orang Tionghoa, namun sebutan Cina, tampaknya yang paling populer, buktinya keputusan Presiden saja seakan tak mampu mengubah apa-apa. Dan sampai saat ini masih ada di antara kami yang kadang tak dianggap sebagai Warga Negara Indonesia, bagi mereka kami adalah orang Cina. Orang Cina adalah orang Cina, dan tak akan pernah menjadi Warga Negara Indonesia.

Kawan, tak sedikit waktu yang kubutuhkan untuk menyelesaikan tulisan ini, maklum, untuk membuat cerita yang menarik, aku harus memutar otak untuk menggali kembali memori yang sebelumnya sudah terpisah-pisah atau bahkan hilang. Aku memang gemar menulis, tetapi aku lebih sering menulis puisi dan bila  harus menulis berdasarkan tema tertentu itu tidak mudah bagiku. Berhari-hari aku berpikir, tetapi yang namanya seniman’ ada saja ide yang mampir ke otaknya. Aku tidak berpikir tentang bagaimana qualitas tulisanku, yang ku lakukan hanya menuliskan setiap kata yang melintas di Otakku.

Dan kawan, tahukah kalian’apa yang ku lakukan ketika insfirasiku hilang ‘’aku belajar kawan’’. Belajar dari kerasnya hidup, belajar dari egoisnya manusia, belajar dari busuknya cinta juga indahnya, itulah yang ku lakukan. Lantas bagaimana dengan tulisanku ? Lama ku letakkan tulisanku saat aku balajar pada segala hal “aku meletakannya di Mezbah Agung’ seperti MezbahNya’’. Lama ku lalui waktu dalam gamang. Malam ini aku kembali. Aku terinsfirasi  oleh Rendra dan anak SD yang dengan gamblang memborong karakter puisinya. Waktu hampir pagi, tetapi mataku seakan enggan terpejam, perutku keroncong, puisi sudah tak mampu lagi membuatku tenang, tampa berpikir panjang’ aku lalu melesap ke warung makan dekat kampusku. Kentang, Telor Balado, Urap, begitu ucapku tampa ragu. Selesai makan aku lalu pulang. Walau kantuk seakan merajai mataku, aku tetap berusaha keras untuk menyelesaikan tulisanku. Kawan, sadarkah kalian, bahwa kita telah mampu mengalahkan perbedaan, kita dapat berjalan bersama tampa memandang apapun, tak ada jarak yang mampu membatasi kita. Cinta yang universal membuat kita bersatu tampa melihat perbedaan. Hal yang sebelumnya tak biasa, mampu kita ubah menjadi hal yang biasa. Tuhan, tetaplah berada di hati kami, agar kami selalu dapat melihat kebenaran melalui sinarmu.

08 0ktober 2014

* Tulisan ini dinobatkan sebagai juara III dalam lomba penulisan Peace in Diversity yang diselenggarakan oleh ICRP, PGI, dan The Wahid Institute

827 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

eight − three =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>