Saparinah Sadli

Ibu Bekerja dan Revolusi Mental

Belum ada seratus hari Pemerintah Jokowi-JK  mengajak  kita untuk  Kerja, Kerja,Kerja  muncullah gagasan  Wakil Pres J. Kalla untuk   mengurangi jam kerja perempuan PNS dengan dua jam.  Alasannya :  agar  ibu menyediakan waktu lebih sebagai  pengasuh anak2nya.   Menteri Yudi Crisnadi segera menyambutnya dengan menyatakan gagasan wapres J Kalla adalah gebrakan yang manusiawi ??? (Jak Post 2 – 12 – 2014 ). Apa  arti sikap mental kedua pejabat tinggi terhadap ibu bekerja  dalam konteks Revolusi Mental? Melecehkan atau menghormati perempuan yang menjadi ibu DAN bekerja???  Perlukah ibu bekerja diajarin (laki-laki) cara  membagi waktunya antara  bekerja dan mengasuh / mendidik anaknya?

Marilah kita berfikir jernih!  Apakah ada ibu yang tidak bekerja?? Yang ada adalah ibu yang bekerja tanpa imbalan dan ibu kerja dengan  imbalan.   Contoh ibu bekerja yang tidak mendapat imbalan adalah perempuan yang  memilih menjadi  ibu  ‘full time’ meskipun telah meraih gelar sarjanapun.  Kadang-kadang juga karena tuntutan suami (yang masih) bersikap feodal atau karena  kondisi  khusus keluarganya yang menyebabkan ia  memilih berperan sebagai ibu rumahtangga penuh.  Mereka ibu bekerja yang tidak mendapat piala dari siapapun meskipun mereka telah  memprioritaskan seluruh waktunya untuk kepentingan orang lain . Bayangkan ibu bekerja yang harus sampai meninggalkan keluarganya (menjadi TKW) karena negara tidak bisa menyediakan lapangan kerja yang cukup bagi warganya.  Semua dilakukan ibu demi masa depan generasi muda dan bangsa.

Tetapi ada pula ibu-ibu bekerja yang punya pilihan dan bekerja dengan mendapat imbalan sesuai kemampuan profesionalnya  dan  dapat meraih prestasi yang terukur.   Kalau mereka memilih menjadi PNS maka  mereka ,hari ini,  dianggap (oleh para pejabat tinggi laki-laki  tertentu) perlu dibatasi jam kerjanya agar generasi muda mendapat asuhan yang cukup dari ibunya. Gagasan yang  melecehkan kemampuan perempuan dalam menemukan cara  membagi waktunya sebagai ibu sekaligus ibu bekerja di luar rumah. Mengapa melecehkan?   Karena dengan telah makin  terbukanya  kesempatan bagi perempuan untuk menjadi ibu dan sekaligus bekerja,  setiap ibu bekerja tanpa diajari laki-laki akan selalu mencari cara bagaimana mengkombinasikan peran gandanya  dengan mengalami  konflik minimal dalam diri sendiri maupun dalam relasinya dengan suami tercinta.  Jelas tidak selalu mudah dalam prakteknya, tetapi ribuan atau mungkin jutaan ibu telah mampu menemukan cara-caranya.

Gagasan Wapres dalam tahun 2014 mengingatkan saya  ketika dalam tahun 80an, ibu bekerja dituduh  jadi penyebab terjadinya kenakalan remaja . Isu sosial yang dalam tahun-tahun tersebut mengemuka dan menjadi perhatian media massa.  Sesuatu tuduhan pada ibu bekerja  yang sekarang tidak terbukti. Karena  kenyataannya adalah bahwa anak-anak ibu yang saat itu menjadi PNS penuh waktu kini terbukti  telah mampu menghasilkan anak-anak yang berprestasi dan malahan bisa menjadi orang-orang yang mempunyai kedudukan terhormat di dalam masyarakt. Karenanya: jangan ‘underestimate’ (melecehkan)  kemampuan perempuan untuk dapat menemukan cara mengatur waktu dalam perannya sebagai ibu rumahtangga  sekaligus  ibu  bekerja (di luar rumah). Dalam konteks tersebut, secara psikologis  Revolusi Mental  berarti antara lain adalah perlunya merubah secara mendasar sikap mental laki-laki bahwa  perempuan perlu diatur perilakunya.  Sudah waktunya  para lelaki yang masih  menempatkan dirinya sebagai superior dan memandang perempuan sebagai mahluk yang  tidak sempurna (  pandangan ahli psikoanalisa bernama  S. Freud di abad  ke 19).

Kita sekarang hidup dalam abad ke 21.  Kedudukan perempuan Indonesia dalam kehidupan bersama telah banyak berubah. Dari hanya boleh menjadi  istri dan ibu  (zamannya Kartini) sampai  menjadi pekerja di ranah publik yang bisa diandalkan.   Ternyata sampai hari ini masih ada laki-laki yang  ketinggalan zaman dan masih belum menyadari bahwa proses perkembangan anak menjadi dewasa memerlukan role model dan mentor dalam berbagai bentuk  relasi gender yang setara. Baik  dalam relasi sebagai suami-istri maupun dalam mengisi berbagai perannya dalam  masyarakat yang sedang berubah.   Bagi laki-laki fokus pada pekerjaan jelas perlu.  Tetapi mewujud dalam sikap dan perilaku  tidak mau dibebani dengan masalah pengasuhan  (yang dianggap adalah tanggunjawab  ibunya) adalah sikap mental yang keliru dan  perlu ditinggalkan. Apalagi kalau hanya mewujud dalam ADA secara fisik tetapi TIDAK ADA secara psikologis.  Karena yang rugi adalah  anak-anak yang kehilangan  role model dan mentor tentang bagaimana mengembangkan relasi gender yang setara yang dimulai dalam kehidupan bekeluarga.

Revolusi Mental  terkait pada ibu bekerja adalah  jelas. Yang  perlu berubah dan dirubah segera adalah sikap mental laki-laki yang di tengah-tengah seruan Kerja, Kerja, Kerja justru menganggap perlu  mengatur jam kerja ibu bekerja. Sedang yang manusiawi adalah bila setiap laki-laki sebagai suami dan  ayah  menyadari bahwa perkembangan kepribadian anak2nya  juga merupakan tanggungjawabnya sekaligus  menyadari  perempuan adalah sesama manusia yang harus  diperlakukan  secara manusiawi  dengan memenuhi kebutuhannya sebagai sesama manusia.  (Saparinah Sadli, pemerhati perempuan).

.

 

 

 

                                                                                                    Oleh :  Saparinah Sadli (Pemerhati Perempuan)

 

811 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

10 − four =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>