pemakaman

Perangkat Desa di Brebes Tolak Pemakaman Penghayat Sapto Darmo

Brebes, ICRP- Seorang perempuan penghayat aliran kepercayaan Sapto Darmo di Desa Siandong, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, meninggal Ahad, 7 Desember 2014, pada pukul 23.00 WIB. Namun perempuan bernama Daodah itu tidak bisa dikebumikan karena perangkat desa melarang memakamkan jenazah Daodah di pemakaman umum setempat.

Direktur Lembaga Studi Sosial dan Agama Jawa Tengah Tedi Kholiluddin menyatakan perangkat desa Siandong beralasan TPU (tempat pemakaman umum) itu milik umat Islam. Padahal pemakaman tersebut, menurut Tedi, milik umum.

Daodah meninggal dalam usia 55 tahun. Selama ini, penganut Sapto Darmo itu menetap di RT 01 RW 04 Desa Siandong.

Lembaga Studi Sosial dan Agama kerap mengadvokasi masyarakat yang mengalami diskriminasi dalam masalah keagamaan. Menurut Tedi, mereka sudah berkoordinasi dengan pengurus Sapto Sarmo di Brebes. “Kami terus melakukan advokasi kasus diskriminasi seperti ini,” kata Tedi.

Tedi menyayangkan sikap perangkat desa yang tidak mengizinkan Daodah dimakamkan di TPU. Sebab status TPU tersebut bukan milik kelompok agama tertentu.

Tedi mendesak pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini. Sebab, kata Tedi, tempat pemakaman desa merupakan fasilitas umum sehingga setiap warga berhak mendapatkan fasilitas tersebut. Apalagi ini terkait dengan penghormatan warga yang sudah meninggal dunia. “Tidak boleh ada diskriminasi terhadap agama apa pun,” kata Tedi.

Tedi menambahkan, selama ini penghayat aliran kepercayaan Sapto Darmo sudah sering mendapatkan celaan dan diskriminasi. “Misalnya Sapto Darmo dianggap aliran sesat,” kata Tedi. Padahal, Sapto Darmo merupakan agama yang turun di Pare, Kota Kediri, Jawa Timur. Agama ini sudah turun-temurun ada pengikutnya.

Salah satu pemuka Penghayat Sapta Darma Brebes, Chalim membenarkan informasi tersebut. Menurut dia, Daodah meninggal karena sakit akut. Semasa hidupnya, Daodah adalah salah satu anggota Sapta Darma.

“Kami tak ada pilihan lain, selain menggunakan pekarangan sendiri. Karena kondisi warga sekitar yang tidak memungkinkan kami untuk memakaman di TPU setempat,” ujar Charlim, saat dihubungi Kompas.com dari Kota Semarang, siang tadi.

Dikatakan Chalim, sesuai adat kepercayaan Sapta Darma, orang yang meninggal harus segera dimakamkan secepatnya. Namun, sebelum hendak dimakamkan, jenazah tidak diberi izin untuk dimakamkan di tempat umum.

Pada pagi harinya, Ketua Kerohanian Sapta Darma sempat bernama Rakyo berinisiatif bertemu Kepala Desa Siandong, Taufik HS. Karena kondisi masih pagi, Rakyo tak bertemu Taufik, hingga berusaha menemui pejabat desa setempat atau lebe. Setelah bertemu lebe, Ketua Penghayat disarankan untuk menemui lagi kepala desa setempat.

“Pagi hari, Pak Rakyo berhasil menemui Pak Kades. Pak Rakyo minta kepala desa beri izin agar jenazah boleh dimakamkan di TPU,” ujar dia.

Namun, permintaan Rakyo, ujar Chalim, kandas lantaran kepala desa tidak mengizinkan jenazah dimakamkan di TPU. Karena ditolak, jenazah pun dimakamkan di pekarangan pribadi. “Kepala desa bilang, kalau TPU di Desa Siandong memang tempat pemakaman umum. Namun, umum bagi umat Islam. Selain umat Islam tak boleh dimakamkan di TPU ini,” tambah Chalim.

Dia pun menumpahkan kekesalannya itu. Sebagai tokoh penghayat, dia bingung harus mengadu kepada siapa untuk masalah demikian. Dia pun berharap agar ada solusi yang bisa diberikan untuk menyelesaikan persoalan ini. (tempo.co/kompas.com)

 

2.142 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

five × two =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>