Bedah Buku "Ngaji Quran di Zaman Edan"

“Penafsiran Quran Tak Bisa Disegeramkan”

JAKARTA, ICRP – Tokoh Muda Nahdlatul Ulama (NU) Abdul Moqsith Ghazali  menilai penyeragaman metodologi tafsir terhadap teks Quran sebagai langkah yang tidak bijak. Ia mencontohkan metode penafsiran terhadap ayat-ayat hukum tidak bisa dipakai dalam ayat-ayat yang menceritakan kisah para nabi dan rasul.

“Metode penafsiran tidak bisa ditunggalkan atau diseragamkan,” ujar Moqsith dalam kajian di Nurcholish Madjid Society (NCMS) di Omah Btari Sri, Jakarta Selatan, Kamis (11/12).

Bagi Moqsith, metode penafsiran yang mengutamakan teks atau pun yang menekankan pada konteks memiliki permasalahannya masing-masing. Malam itu, Ia mencontohkan beberapa masalah dari kedua cara penafsiran terhadap teks.

“Kalau kita menekankan pada teks, maka Quran bisa dijadikan alat legitimasi bagi kelompok radikal,” kata Moqsith memberikan contoh polemic dalam penafsiran Quran.

Sementara itu, Moqsith melanjutkan, penafsiran yang memperhatikan konteks juga tidak  sempurna sebagaimana yang diharapkan. Malam itu, Moqsith mencontoh problematisnya penafsiran ayat-ayat dengan menggunakan metode yang mengutamakan konteks dengan surat An-Naas dan Al-Falaq.

Moqsith melihat pandangan intelektual muslim asal Pakistan, Fazlur Rahman merupakan alternatif yang cukup tepat dalam penafsiran terhadap teks Quran. “Tafsir sebagaimana Fazlur rahmat perlu ditafsirkan pula dengan posisi dimana kita menafsirkan, sehingga tafsir Quran di Indonesia bisa jadi berbeda dengan di negara lainnya,” ucap Moqsith.

Moqsith juga menyinggung perkara masih  kuatnya pandangan dunia muslim melirik Timur Tengah sebagai pemilik otoritas penafsiran. Selama ini, di dunia muslim, sambung Moqsith, kewilayahan masih menjadi problem dalam penafsiran. “Masih ada pandangan bahwa yang disana itu benar, dan yang di sini tidak bisa dirujuk,” kata Moqsith.

Pandangan demikian  menurut Moqsith memiliki implikasi yang tidak baik bagi hubungan umat dengan Tuhan.

“Padahal kan Quran ini sebagaimana mestinya enjadi petunjuk bagi kita semua,” ucapnya.

Dalam acara bedah buku terjemahan“Ngaji Quran di zaman edan” ini Selain mendaulat Moqsith sebagai pembicara, NCMS juga menghadirkan penerus gagasan keislaman yang hanif Nurcholish Madjid, Wahyuni Nafis.

Buku yang dibedah malam itu  merupakan kumpulan tulisan dari seorang intelektual muslim asal Pakistan Ziauddin Sardar.

 

1.137 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

4 × five =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>