Ada Apa dengan Buku-Buku Keislaman?

 

Siti Musdah Mulia[1]

Islam adalah agama yang paling vokal bicara soal pentingnya membaca. Buktinya, Al-Qur’an memulai tuntunannya dengan serangkaian ayat berisi perintah membaca (QS. al-Alaq, 1-6). Sepintas, terkesan aneh. Mengapa tidak dimulai dengan perintah salat, puasa atau ritual lainnya? Mengapa membaca menjadi konsen utama? Jawabannya simpel saja, membaca merupakan media utama untuk mencerdaskan manusia; membaca merupakan jendela ilmu pengetahuan dan jembatan kemajuan; membaca adalah instrumen inti pendidikan.

 Umat Islam meyakini bahwa pendidikan sangat penting, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Sejumlah argumen teologis, baik ayat maupun hadis menjelaskan tingginya posisi mereka yang mencintai ilmu dan menekuni pendidikan, di antaranya firman: “Allah mengangkat derajat mereka yang beriman dan berilmu pengetahuan” (QS. al-Alaq, 1-6); hadis Nabi: ”menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi laki-laki dan perempuan”  atau “tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina.” Sayangnya nilai-nilai ideal yang begitu luhur pada tataran normatif tidak berlanjut ke tataran empiris sebagaimana terlihat dalam realitas sosiologis kehidupan umat Islam, khususnya di Indonesia.

Ironis sekali, meskipun ajaran Islam sangat kuat mendorong umatnya menekuni dan mengembangkan pendidikan melalui aktivitas membaca, namun faktanya di berbagai belahan dunia tetap dijumpai jutaan umat Islam tidak tersentuh pendidikan. Angka partisipasi mereka dalam semua level pendidikan, terutama pendidikan tinggi sangat rendah, terlebih lagi kaum perempuan. Sebagian besar umat Islam  tidak memiliki akses dan tidak mampu berpatisipasi dalam pendidikan, dan akibat lanjutannya tidak mampu mengambil manfaat dari pembangunan bidang pendidikan. Tidak heran kalau umat Islam masih menempati posisi lemah dan terkebelakang, khususnya dalam bidang sains, teknologi dan informatika.

Sementara itu, muncul fenomena di masyarakat yang mengesankan maraknya buku-buku keislaman dan kegandrungan umat Islam membaca buku-buku keagamaan, terutama di saat menjelang bulan puasa atau selama bulan Ramadhan. Di berbagai pelosok tanah air memang terlihat ramainya bursa penjualan buku-buku keagamaan. Lalu, apakah itu berarti umat Islam sudah bangkit dari ketertinggalannya dan menyadari pentingnya membaca sebagai media utama pendidikan?

Ternyata tidak demikian. Sebab, penelitian saya tahun 1992 tentang buku-buku keislaman yang paling banyak diminati masyarakat mengungkapkan bahwa buku-buku keagamaan yang paling banyak tersebar dan diminati masyarakat adalah buku-buku keislaman normatif, yang banyak bicara soal fikih dan seluk beluk ibadah dalam arti sempit. Lebih mengejutkan lagi, buku-buku terlaris justru buku-buku tuntunan do’a (termasuk Yasinan, dan Mujarobat), tuntunan salat, manasik haji dan sejenisnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa mayoritas umat Islam dalam pengamalan kegamaan mereka masih berkutat pada masalah ritual yang bersifat legal-formal dan hal-hal yang sangat simbolistik, bahkan bernuansa mistik.

Buku-buku keagamaan yang banyak diminati masyarakat bukanlah jenis buku-buku agama yang menjelaskan substansi Islam dengan pemikiran rasional dan analisisi kritis yang mampu menggugah umat Islam melakukan kritik diri dan introspeksi diri, untuk selanjutnya memberikan respon dan  mencari solusi terhadap pelbagai persoalan sosial kontemporer yang secara riil dihadapi umat Islam, seperti  busung lapar, kemiskinan, pengangguran, korupsi, eksploitasi anak, anak-anak jalanan, anak-anak korban perang dan konflik, problem penyandang cacat (disable people) dan para lansia, perdagangan perempuan, buruh migran, HIV/Aids, pencemaran udara dan  pengrusakan lingkungan hidup, serta berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi lainnya.

Buku-buku keislaman yang banyak dijumpai di masyarakat pada umumnya hanya dapat mengantarkan pembacanya membangun kesalehan individu, tetapi sangat sulit menuju kesalehan sosial yang ditandai dengan rasa empati terhadap penderitaan kelompok rentan dan tertindas. Justru yang terakhir itulah yang amat diperlukan dalam kehidupan umat. Umat Islam masih harus diajarkan cara membaca yang bersifat analitis dan kritis sehingga pikiran dan wawasan mereka terbuka seluas-luasnya sehingga pada gilirannya membentuk mereka menjadi cerdas, kritis, rasional, dan arif bijaksana yang kesemuanya itu merupakan ciri khas orang beriman.

Umat Islam masih perlu disuguhi bahan bacaan yang dapat mengubah dan mengembangkan ketiga aspek utama dalam diri manusia: aspek kognitif, afektif dan psykomotorik secara silmutan. Bahan bacaan yang mampu mengubah pengetahuan, sikap dan perilaku umat Islam ke arah lebih baik, lebih positif, lebih arif dan lebih manusiawi. Buku-buku keislaman seharusnya mampu mengubah pengetahuan dan wawasan pembacanya menjadi lebih luas dan terbuka; mengubah sikap mereka ke arah lebih inklusif, toleran, pluralis, dan humanis sehingga menjadi lebih empati terhadap sesama, serta lebih peduli pada kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya; dan mengubah perilaku mereka ke arah perilaku lebih santun dan bermoral. Ringkasnya, umat Islam perlu lebih banyak lagi bahan bacaan yang mampu mengantarkan pembacanya menjadi manusia berakhlak mulia karena itulah tujuan akhir dari keberagamaan dalam Islam.

Melalui bahan bacaan seperti inilah umat Islam Indonesia dapat mewujudkan sumber daya manusia handal dan berkualitas yang pada gilirannya akan mempromosikan ajaran Islam yang ramah dan sejuk serta akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaa sehingga pada akhirnya Islam sungguh-sungguh menjadi rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin).  In urîdu illa al-ishlâh mastatha’tu. Wa mâ tawfîqiy illâ billâh. Wa Allah a’lam bi as-shawab.

 

 

 

 

[1] Professor Riset Bidang Lektur Agama dan Dosen Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

1.159 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

four × one =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>