zawawi Imron

Dalam Haul Gus Dur Kelima, Penyair Mengenang Bapak Pluralisme Indonesia

JAKARTA , ICRP – Turut serta dalam perayaan haul Gus Dur kelima, Kyai Zawawi Imron didaulat panitia memberikan testimoninya tentang “Bapak Pluralisme Indonesia”.  Dalam kacamata kyai asal Sumenep ini, Gus Dur merupakan sosok berhati jernih.

“Dalam hati yang jernih ada pandangan melihat tanah air sesuatu yang indah. Kita perlu hati yang jernih untuk mencintai Indonesia,” ucap Kyai yang kerap nyambi sebagai  penyair ini di Ciganjur, Sabtu (27/12).

Kejernihan hati Gus Dur, Zawawi Imron melanjutkan, terlihat ketika presiden keempat RI ini dilengserkan. “Meski dipaksa mundur, namun Gus Dur sama sekali tidak mendendam,” ujar penyair yang terkenal dengan puisi berjudul “Ibu” itu.

Menurut Zawawi Imron Gus Dur memandang tanah air Indonesia sebagai sajadah. “Maka barangsiapa yang mencintai Gus Dur pasti tidak mau menumpahi sajadah ini dengan darah,” kata Zawawi Imron.

Gus Dur, sambung Zawawi Imron, meyakini memakmurkan Indonesia merupakan kewajiban semua rakyat Indonesia. Wajah kemakmuran Indonesia dalam benak Gus Dur, menurut Zawawi terletak pada senyum para petani dan nelayan. Tak mengherankan, kata Zawawi Imron, Gus Dur memberikan perhatian serius pada para petani dan nelayan ketika menjabat sebagai orang nomor 1 di republik ini.

“Bagi Gus Dur petani dan nelayan adalah para pahlawan,” imbuh Zawawi.

Sepanjang  sepatah dua patah kata tak lebih dari 15 menit itu, Zawawi berulang-ulang kali membubuhi  testimoninya dengan puisi-puisi. Salah satu puisinya berceritakan tentang sanjungan pada  istri Gus Dur, Shinta Nuriyah Wahid.

Beberapa politisi teras malam itu juga turut meramaikan acara haul Gus Dur kelima. Menteri Sosial yang juga tokoh perempuan NU Khofifah juga turut hadir. Khofifah diberikan panggung untuk menyampaikan pandangannya mengenai Gus Dur. Terlihat pula politisi senior Golkar Akbar Tanjung duduk di panggung bersama tamu undangan lainnya.

Testimoni terakhir disampaikan oleh pelawak asal Jawa Timur yang kerap menemani Gus Dur, Kirun. Dengan logat nyentriknya, Kirun bertanya pada hadirin, “Bisakah kita dicintai sebegitu besar ketika pergi sebagaimana Gus Dur?”

Acara haul Gus Dur pun ditutup dengan manis oleh Darvish Dance.

1.032 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

4 × 3 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>