Acara Anggoro Kasih pertama tahun 2015 di Sasana Adirasa TMII

Nurcholish Harap Penghayat Kepercayaan Segera Dirikan Lembaga Pendidikan

JAKARTA, ICRP -Merebaknya intoleransi di tanah air diduga masif berkembang di sekolah-sekolah negeri. Fakta tersebut merupakan temuan beberapa tahun ke belakang dari Yayasan Cahaya Guru. Hal tersebut membantah asumsi publik yang menuding bahwa di sekolah berbasis agama seperti sekolah milik kristen, katolik, pesantren atau madrasah menjadi pusat radikalisme.

Temuan Yayasan Cahaya Guru itu ditegaskan kembali oleh Peneliti Senior Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Ahmad Nurcholish dalam acara Anggoro kasih di Sasana Adirasa Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Senin (5/1). “Di sekolah-sekolah milik kristen misalnya tidak ditemukan guru yang menolak untuk menghormati bendera merah putih atau menyanyikan lagu Indonesia raya,” ucap Nurcholish.

Dalam acara yang diadakan komunitas penghayat kepercayaan ini,  Nurcholish juga menyinggung pentingnya para penghayat kepercayaan untuk segera membangun institusi pendidikan. “Sayang sekali, saya belum melihat adanya perguruan tinggi milik penghayat kepercayaan,” kata Nurcholish.

Menurut Nurcholish pendirian institusi pendidikan menjadi sangat penting bagi penganut kepercayaan. Salah satu tujuannya yakni, sambung Nurcholish,  untuk  mengembangkan nilai-nilai luhur Ketuhanan Yang Maha Esa yang senantiasa diperjuangkan penghayat kepercayaan. Dengan dikembangkannya nilai-nilai luhur Ketuhanan Yang Maha Esa itu, Nurcholish berharap mampu menangkal pemahaman keagamaan yang radikal.

Selain itu, lembaga pendidikan menurut tokoh yang telah lama bergelut dalam isu toleransi antar umat beragama ini, memiliki fungsi eksistensialistis.  Nurcholish meyakini, masyarakat di tanah air akan mengingat warisan cita-cita luhur agama-agama di nusantara jika penghayat kepercayaan berhasil membangun institusi pendidikan hingga ke tingkat perguruan tinggi.

Berkaitan dengan masalah pudarnya wacana keagamaan penghayat kepercayaan, Nurcholish menyoroti minimnya publikasi. “Karena itu kami di ICRP bersama Mang Engkus merasa penting untuk membuat publikasi mengenai agama-agama lokal. Saat ini kami tengah merumuskan pembentukan ensiklopedia yang di dalamnya juga memuat mengenai agama-agama lokal agar warisan luhur ini tetap eksis dan diingat oleh anak bangsa,” jelasnya di hadapan para penghayat kepercayaan.

 

1.382 views

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

ten + 13 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>