I think I found God

Dimas Wahyu Bagasworo*

Agama adalah sebuah medium untuk para pemercaya Tuhan untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Agama memberikan metode-metode dan hukum yang bisa diikuti dan dipraktikan oleh para penganut agama. Karena saya seorang agnostic, Agama tidak terlalu penting untuk saya.

Saya tidak percaya dengan agama, tetapi saya ingin percaya kepada Tuhan. Tuhan bisa ditemukan dan dilihat secara fisik dengan kedua mata saya sendiri. Dengan banyaknya agama, makin banyak diskriminasi dan prejudice yang membuat saya tidak menyukai agama.

Menurut saya, agama adalah suatu filosofi yang sangat kompleks dan multiverse. Sangat susah agar orang yang kurang pendidikan atau intelektual untuk bisa mengerti agama, termasuk saya. Saya tidak percaya akan agama, saya hanya percaya dengan cinta dan kasih sayang sebagai wujud pencitraan terhadap Tuhan.

Pedoman hidup saya adalah ilmu Psikologi. Semua manusia mempunyai jiwa dan mental, maka dari itu saya memilih program studi Psikologi sebagai jalan hidup saya. Karena Psikologi adalah ilmu yang sangat dekat dengan kita semua dan semua teorinya sangat nyata dan bisa disentuh, maka perjalanan saya di dunia ini sangat dekat dengan Psikologi dan saya ingin menjadi psikolog terbaik di dunia.

Setiap hari saya bersentuhan dengan penganut agama. Sebagai seorang agnostik yang lumayan terbuka, saya agak kurang suka bergaul dengan penganut agama yang masih belum bisa menerima keadaan seorang agnostik di sekitar hidupnya. Walaupun secara KTP saya adalah seorang Islam, tetapi masih banyak orang yang mencemooh saya bila saya tidak sholat. Secara jujur, saya agak kurang suka bila saya dicemooh oleh mereka yang mengaku bahwa mereka menghormati keberagamaan.

Ternyata Universitas Pembangunan Jaya, tempat saya kuliah, memang kampus yang teguh terhadap tiga pilarnya, salah satunya adalah Liberal Arts yang diwujudkan secara jelas dan nyata di mata kuliah Agama. Sebelumnya saya mengira mata kuliah agama yang akan saya ikuti sama seperti yang apa saya lakukan dulu di UI: masuk kelas sesuai agama yang dipilih di pengisian KRS, mendapat materi, ujian, tugas dan protokol standard lainnya. Tetapi, mata kuliah agama ini beda dan sangat merevolusi gaya pembelajaran agama di Indonesia. Di kelas, tidak ada perbedaan agama, tidak ada segregasi. Semuanya sama, mempelajari agama-agama yang berbeda tetapi mempunyai tujuan yang sama, to promote love and care. Saya tidak keberatan dengan kelas yang dicampur, justru saya malah senang. Sebagai agnostik, saya memang haus akan ilmu agama yang ada di muka bumi ini. Apa lagi cara yang lebih baik dengan berkomunikasi dan bertukar pikiran dengan pemeluk agama yang berbeda-beda.

Yang lebih eye-opening dan wujud nyata terhadap komitmen UPJ untuk mempromosikan liberal arts adalah pengadaan ekskursi ke rumah ibadah di wilayah Jakarta dan Banten. Mungkin sebuah loncatan besar dalam dunia pendidikan, menerjunkan langsung remaja-remaja yang masih penuh dengan prejudice dan kurangnya informasi terhadap agama lain ke pemuka agama lain. Saya berharap bisa banyak perguruan tinggi yang mencontoh kegiatan kami sebagai pembelajaran akan religious prejudice yang kerap terjadi di Indonesia ini.

Setelah dua hari sabtu yang telah saya pakai dengan rekan-rekan saya untuk mengunjungi rumah ibadah yang berbeda, saya merasa sangat dihargai sebagai seorang manusia dan juga sebagai stranger pada agama-agama tersebut. Dihargai, karena saya belum pernah sedekat itu dengan ajaran-ajaran agama yang berbeda. Mungkin saya bisa mendapatkan ilmu mereka dari internet, tetapi perasaan welcome dan intimacy yang saya dapat dari para pemuka agama adalah suatu pengalaman yang belum pernah saya dapatkan dalam kehidupan saya sebagai seorang manusia.

Saya sudah menduga bahwa semua agama mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk dicintai dan mencintai. Dan kegiatan ekskursi mengkonfirmasi itu. Tetapi, ada beberapa dugaan saya yang untungnya salah dan berubah. Seperti, paham bahwa agama Tao, Konghucu, Buddha, dan Hindu, menyembah berhala atau dewa. Ternyata saya yang bodoh. Semua agama menyembah Tuhan. Mereka percaya kepada sebuah higher being yang mengontrol dan menciptakan dunia ini. Kepercayaan mereka tersebut, menambahkan kepercayaan saya terhadap Tuhan, for some reason.

Salah satu rumah ibadah yang mengguncang hati dan otak saya, adalah Gereja Katedral di Jakarta Pusat. Pertama kali saya menginjakkan kaki ke dalam gereja dengan kamera di tangan saya, entah kenapa saya tidak ingin mengambil gambar. Tak hanya itu, di sesi tanya jawab pun saya sama sekali tidak ingin bertanya-tanya secara kritis tentang agama Katolik, malah saya mendekati beberapa rekan saya yang sedang berdoa di depan altar. Saya tergerak untuk mencoba untuk belajar berdoa, belajar untuk berserah diri kepada Tuhan. Malah, saya langsung meminta tolong teman, Grim, untuk mengajari saya cara berdoa. Tak lama kemudian, saya memisahkan diri dari kelompok. Saya memasukkan kamera ke dalam tas, saya duduk di dalam Katedral, dan saya merenung. Mencoba untuk mencari Tuhan, untuk diberi penjelasan, untuk diberi sebuah tanda bahwa Kau memang ada. Bila saya punya kesempatan untuk ke Katedral, saya mungkin akan ke sana lagi. Bukan gaya arsitekturnya, tetapi kedamaian yang ada di dalam gereja itu sendiri. Saya pun tidak mengerti, apa yang terjadi dengan diri saya. Needless to say, I think I found God.

Agama Buddha mempunyai konsep-konsep yang sangat berdekatan dengan program studi saya, yaitu psikologi. Yang paling mencolok adalah konsep mindfulness meditation. Konsep ini sering menjadi bahan penelitian di Stanford University, bahkan mereka mengeluarkan audio guidance visualisation untuk melakukan mindfulness meditation. Mindfulness meditation adalah meditasi yang bersifat aktif dan terus terjadi di alam sadar. Bila menggunakan teori Sigmund Freud, mindfulness meditation menurut saya adalah ego manusia. Sebagai manusia, mencapai titik di mana ego mendominasi jiwa, adalah suatu perjalanan yang lama dan penuh rintangan. Sama seperti yang dialami oleh para biksu-biksu agama Buddha di seluruh dunia. Sebagai mahasiswa psikologi, salah satu dari tugas perkembangan saya adalah untuk diri saya didominasi oleh ego itu sendiri. Apakah bisa dibilang kalau semua manusia adalah seorang Buddhist? Mungkin saja. Tetapi saya merasa takjub saat ajaran Buddha sangat dekat sekali dengan ajaran-ajaran psikologi, terlebih mendekati teori psikoanalisa milik Freud.

Toleransi adalah hal yang seharusnya dipejarari oleh pengambil mata kuliah ini. Yang paling menonjol dari agama lain adalah Buddha. Buddha mengajarkan pemikiran kritis dan kasih sayang. Seorang buddhist harus dan bisa berpikir kritis untuk menuju nirvana. Saya sangat terkesima saat salah satu dari biksu bilang bahwa ada mata kuliah debat pada waktu ia kuliah untuk menjadi seorang biksu. Sesuatu yang mungkin jarang ditemukan di agama lain. Tak hanya itu, kentalnya Buddha dengan pembelajaran filosofi mungkin bisa memberikan pelajaran untuk semua penganut agama di Indonesia. Orang-orang Indonesia seharusnya bisa belajar banyak dari agama buddha. Sebagai seorang mahasiswa, suatu kewajiban juga untuk berpikir kritis dan bisa berdebat.[]

* Dimas Wahyu Bagasworo adalah mahasiswa Psikologi Universitas Pembangunan Jaya

* Tulisan ini diedit seperlunya oleh Anick HT

1.523 views

2 comments

  1. Besok jangan masuk gereja tong.. Ente kan muslim. Coba masuk masjid, belajar ngaji, ikut majelis taqlim. Insha Allah, ente dapet berkah fan hidayah.

  2. Ya itulah indahnya agnostik theis……
    Bila anda mencari diluar niscaya anda tidak akan ketemu , karena yang anda cari sudah ada dlam diri anda.
    Bersekutu dan berbulan madu dengan Tuhan adalah misteri dan keindahan itu sendiri, dan keindahan itu ada dalam kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

17 − 2 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>