Yesus disatirkan oleh Charlie Hebdo

Mengapa Katolik di Perancis Tidak Menyerang Charlie Hebdo?

JAKARTA, ICRP – Serangan brutal pada majalah Charlie Hebdo menjadi salah satu topik hangat dalam pekan-pekan ini. Untuk diketahui bersama majalah satir yang berkantor di Paris ini bukan saja menyindir habis-habisan Islam, tetapi juga Yahudi dan Kristiani. Pernahkah tergelitik untuk menanyakan,”kenapa Katolik dan Kristen tidak melakukan serangan serupa terhadap Charlie Hebdo?”

Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Prof. Dr. Frans Magnis Suseno memberikan “bocoran” kenapa umat Katolik yang menjadi agama mayoritas di Perancis tidak menyerang Charlie Hebdo.

“Di Perancis dan Barat kebebasan berekspresi itu sebuah nilai yang amat tinggi. Di Perancis terutama kemampuan psikologis untuk menerima satir dinilai menjadi tanda kedewasaaan,” ucap sosok yang kerap disapa Romo Magnis ini dalam diskusi yang diselenggarakan Center for Dialogue and Cooperation among Civillizations (CDCC), Kamis (15/1).

Adanya kondisi psikologis semacam ini di masyarakat Perancis, menurut Romo Magnis menjadi alasan umat Katolik tidak melakukan aksi-aksi kekerasan terhadap beragam satir yang menyinggung Yesus. Romo Magnis pun meyakini keberhasilan Barat dan Perancis dalam proses sekularisme tidak lepas dari kesediaan Protestan dan Katolik untuk terbiasa dengan sistem ini. Meskipun, ungkap lelaki kelahiran Polandia ini, terjadi kekerasan yang begitu mengerikan bagi Katolik dalam sejarah Perancis.

Selain itu, menurut pemuka agama Katolik di tanah air ini adanya satir-satir yang keras terhadap agama juga berkaitan erat dengan adanya ‘trauma’ masyarakat Perancis terhadap agama. “Ada latar belakang dari kerasnya Perancis pada agama yakni Revolusi Perancis,” ucap  Romo Magnis  dalam diskusi bertajuk “Kekerasan Charlie Hebdo : Antara Kebebasan Pers dan Toleransi Kehidupan Umat Beragama” itu.

Trauma terhadap perselingkuhan agama dan negara dalam sejarah ini, menurut Romo Magnis, tidak terjadi di negara-negara Barat lainnya. “Karena itu Anda tidak akan temukan majalah sekeras Charlie Hebdo di Jerman atau Amerika Serikat,” imbuh Romo Magnis.

2.203 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

15 − twelve =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>