agama dan kekerasan (ilustrasi)

Agama dan Kekerasan? Ini Kata Ketua ICRP!

JAKARTA, ICRP – Ketua Harian Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Ulil Abshar Abdalla meyakini akar kekerasan dalam agama memiliki dimensi sosio-politis. Demikian ujar Ulil dalam diskusi publik bertajuk “Agama dan Kekerasan” yang diselenggarakan Freedom Institute, Rabu (28/1) malam di Jakarta Pusat.

“Ketika agama diadopsi oleh kekuasaan dimulailah sejarah kekerasan,” ucap intelektual muda Nahdlatul Ulama ini. Bermulanya kekuasaan itu, Ulil menambahkan,  diawali dengan  perubahan masyarakat nomaden ke sistem agraris. Sistem yang menetap seperti masyarakat agraris, menurut Ulil, menuntut adanya stratifikasi sosial, dan hirarki yang berujung munculnya kekuasaan dan kekerasan.

“Agama menjadi elemen penting dalam membangun komunitas dan sistem yang hirarkis seperti di masyarakat agararis dulu,” imbuh Ulil.

Meskidemikian berkelindannya antara agama dan kekuasaan, ungkap Ulil, merupakan hal yang terkesan kontradiktif. Pasalnya, kata Ulil, para pembawa ajaran agama pada mulanya menentang sistem sosial politik dimana mereka tinggal. “Para nabi mengkritik struktur politik yang ada di masyarakat yang begitu hirarkis…pada dasarnya para nabi ini memiliki motif “anarkis”. Semangat pembebasan!”

Tetapi, pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) ini menggarisbawahi, setelah melakukan perubahan politik, agama dalam sejarahnya justru menjadi bagian dari kekuasaan yang menjadi faktor penting munculnya kekerasan. Kondisi semacam ini yang menurut Ulil menjadi dilema antara agama, kekuasaan, dan kekerasan.

“Karenanya, sekarang ada dua wajah agama yang secara garis besar bisa kita kategorikan. Pertama, etos agama yang anti struktur dengan membawa semangat pembebasan. Kedua, adalah semangat keagamaan yang cenderung ingin menciptakan hirarki dan berujung pada kekerasan,” kata Ulil.

Dalam diskusi yang didasari pada buku baru Karen Amstrong berjudul Field of Bloods : Religon and The History of Violence itu selain mengundang ketua harian ICRP, Freedom Institute juga mendaulat Direktur Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta Septemy Lakawa.

Malam itu, ruangan diskusi Freedom Institute nampak penuh. Kursi berjejer hingga ke bagian belakang ruangan. Saking penuhya, beberapa peserta diskusi nampak berdiri. Acara diskusi berakhir pada pukul 22:00.

1.367 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

thirteen + two =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>