Para Guru di depan pintu Katedral

Celoteh Para Guru Soal Ekskursi

JAKARTA, ICRP – Dalam ekskursi hari pertama para guru ke rumah ibadah, Sabtu (31/1) banyak cuplikan menarik. Salah satu bagian yang asik untuk diperhatikan adalah selama di bus dari rumah ibadah satu ke rumah ibadah lainnya. Sepanjang perjalanan, panitia dari Yayasan Cahaya Guru  (YCG) dan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) memberikan kesempatan para guru untuk menyampaikan testimoni.

Tanpa ragu, seorang pak guru langsung maju kemuka untuk menyampaikan testimoni. “ Saya merasa perlu untuk mengenal wawasan mengenai agama lain. Karena pengetahuan saya mengenai agama lainnya terbatas,” ujar pak guru bernama Fahmi ini.

Pak Fahmi menyadari selama ini pengetahuannya berkenaan agama lainnya kerap didapat dari sumber-sumber yang tidak jelas. Karenanya dalam kunjungan ke rumah-rumah ibadah itu berharap mendapat pemahaman lebih mengenai agama-agama di Indonesia.

“Harapan saya bertemu orang-orang disana bisa dapat informasi lebih baik. Sehingga semakin membuat kita bisa saling menghargai,” ujar lelaki berkopiah putih itu.

Menurut guru SD Kebon Jeruk 15 ini, acara ekskursi merupakan kesempatan untuk saling mengenal penganut agama satu dan lainnya. “Dengan acara ekskursi ini perbedaan-perbedaan yang jadi benih-benih konflik bisa kita minimalisir,” pungkasnya selama perjalanan menuju Katedral.

Hal senada pun disampaikan oleh salah seorang guru lelaki lainnya. “Belakangan ini kita semakin mempersoalkan keyakinan orang lain,” ungkap bapak guru yang mengenakan batik ini.

Padahal, menurutnya, keberagaman keyakinan di tanah air sudah final sejak didirikannya republik ini oleh para founding fathers.

“Kita tak bisa memungkiri bahwa takdir kita adalah beragam keyakinan,” tegas bapak guru itu.

Bapak berkumis tipis itu meminta para guru yang mengikuti ekskursi kali ini untuk menceritakan perjalanan hari itu pada anak-anak didik di masing-masing sekolah. “Kita punya kewajiban untuk membuka wawasan yang kita dapat selama dua hari ini pada anak-anak didik kita. Mudah-mudahan anak-anak kita kelak menghargai keberagaman,” ucapnya penuh harapan.

Pernyataan yang tidak kalah menarik terlontar dari seorang pengampu mata pelajaran Kristen, Pak Immanuel. Seusai mengunjungi katedral dan Istiqlal, Ia merasa mendapat wawasan baru mengenai Islam.

“Dulu yang saya tahu kalau bicara Islam ya radikal, ekstrimis, namun setelah mengunjungi Istiqlal, saya merasa ada wajah Islam yang tidak juga berbeda jauh dengan kami, cinta kasih” imbuh Pak Immanuel.

Pak Immanuel pun berniat untuk terus melakukan dialog dengan para guru lintas agama untuk mempererat persaudaran sebagai satu bangsa.

Nah, guru-guru ini telah menunjukan besarnya niatan untuk saling mengenal dan menyebarkan rasa damai antar para pemeluk agama. Bagaimana dengan sikap pemerintah?

897 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

2 × three =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>