Satu Tuhan, Banyak Sebutan

Oleh Ahmad Nurcholish

 

 

 

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah al-Rahman;

dengan nama apapun kamu seru Dia,

pada-Nya nama-nama yang indah (al-asma’ul husna)”

(Q., s. al-Isra’/17: 110)

The Tao that can be told of

Is not the Absolute Tao;

The Names that can be given

Are not Absolute Names

(Lao-tze)

Though all the Names (of God) refer to a single Reality,

none denotes Its true nature. From this point of view even

the Name of Allah, which is called the “all-comprehensive Name”

(al-ism al-jami’) since it is the referent of all other Names,

is said to denote that Reality only in as much

as It makes It self known

(William C. Chittick)

 

 

Berbeda dari filsafat rasionalisme murni, dalam filsafat perennial, kepercayaan, pengetahuan dan kecintaan terhadap Tuhan merupakan landasan bagi pengembangan epistimologinya. Berangkat dari komitmen imani untuk menjawab sapaan kasih Tuhan, filsafat perennial melangkah pada fase praksis-implementatif untuk melayani manusia sebagai sesama hamba Sang Khaliq. Jadi, sebagaimana diuraikan oleh Komaruddin Hidayat dan Muhammad Wahyuni Nafis (Agama Masa Depan, 1995: 23-24), benih iman yang telah tertanam pada setiap kalbu agar tumbuh subur, maka diperlukan siraman berupa pengetahuan, suasana yang memungkinkan untuk merasakan kehangatan dan keintiman dengan Tuhan (dzikir dan doa) dan juga interaksi social. Dengan kata lain, perjalanan iman yang bermula dari pemahaman dan keyakinan terhadap obyek Yang Maha Abstrak  lalu bergerak ke muara kehidupan konkrit berupa amal kebajikan, yang pada akhirnya perjalanan itu menerobos batas duniawi yang empiris memasuki hidup di seberang sana yang meta-empiris.

Oleh karena pengetahuan dan keimanan pada Sang Pencipta merupakan titik awal sekaligus titik akhir (alpha-omega), maka ada sejumlah persoalan mendasar yang muncul dan menggelitik pikiran kita. Seberapa dekat manusia bisa mengenal Tuhan secara benar? Atau, dapatkan Tuhan Yang Absolute dikenali oleh manusia yang relative dan serba terbatas ini? Bisakah manusia dalam menyembah Tuhan terbebaskan dari “konsep tuhan” yang ia kontruksikan dalam pikirannya sendiri? Adakah dengan banyaknya sebutan atau nama Tuhan berarti secara ontologis juga terdapat banyak Tuhan? Adakah kesamaan antara Tuhan yang dipuja oleh orang Yahudi, Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Buddha, Khonghucu, Sikh, Baha’i, dan pemeluk agama-agama lain?

Sebelum kita melangkah lebih jauh membahas nama,  sebutan, atau sifat Tuhan, persoalan pertama yang perlu dituntaskan adalah, apakah hubungan antara “nama” (ism, name) dan “yang diberi nama” (al-musamma, the named)? Apakah nama identic dengan yang diberi nama? Apakah ia sekedar tanda penuntuk? Apakah ia sebatas sebutan saja? Seberapa jauh sebuah nama dapat menunjuk dan menjelaskan sesuatu yang ditunjuk? Sebab Tuhan itu Maha Absolut dan Maha Gaib, seberapa jauh bahasa manusia mampu menangkap dan memahami Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan  ini penting untuk dikemukakan, untuk menyadarkan kita bahwa sejauh-jauh bahasa menjelaskan tentang Tuhan, termasuk bahasa yang dugunakan untuk mengekspresikan wahyu Tuhan, di sana tetap terdapat suatu “jarak” antara proposisi kognitif yang dibangun oleh nalar manusia di satu sisi dan hakikat Tuhan yang “tak terjangkau” pada sisi lain.

Persoalan berikutnya, sebagaimana disinggung oleh Hidayat dan Nafis (Ibid., 28), jika kesimpulan di atas kita terima, maka problem serius akan menyusul kemudian. Yakni, kalau memang Tuhan yang Maha Absolut itu tak terjangkau dan tidak mungkin bisa dipahami oleh manusia, bukankah istilah “mengetahui Tuhan” adalah ungkapan yang paradox dan absurd? Selain itu, jika memang Tuhan tidak mungkin dijangkau oleh pemahaman manusia, bukankah lebih masuk akal jika manusia tidak perlu membicarakan dan mencari sesuatu yang tidak mungkin bisa dipahami dan didapatkan?

Dalam sebuah riwayat, Muhammad Rasulullah pernah memberi nasehat kepada seorang sahabat, “Janganlah kamu membicarakan tentang Tuhan, tetapi sebaiknya kamu pikirkan saja tentang ciptaan-Nya”. Sabda Nabi ini dapat kita tafsirkan dengan beragam cerna. Bisa jadi sahabat yang dihadapi merupakan kelompok awam sehingga tidak memungkinkan kalau dijelaskan lebih jauh dengan pendekatan filosofis. Bukannya paham, justru malah bingung jika diajak mempelajari agama dengan pendekatan intelektualistik. Nah, apa yang disampaikan Nabi Muhammad tersebut tepat jika ditujukan kepada kelompok orang semacam ini.

Tetapi, tidak demikian dengan kaum intelektual. Bagi mereka yang akrab dan terbiasa dengan penalaran yang konsisten dan filosofis, bisa jadi justru  dengan membahas apa dan siapa Tuhan maka kadar imannya justru malah meningkat. Bahkan, bagi orang seperti ini, dianjurkan untuk berfikir tentang Tuhan. Hadits Nabi tersebut juga bisa kita pahami bahwa, menjadikan Tuhan sebagai obyek kajian memang tidak mudah, terlebih kajian tentang Tuhan, karena apapun yang dihasilkan oleh penalaran kita tentang Tuhan, termasuk juga hasil pemahaman kita terhadap kitab suci, tetap terdapat jarak ontologis dan epistimologis antara produk pemahaman manusia di satu pihak dan Tuhan Yang Sesungguhnya di pihak yang lain.

Namun demikian, setiap kita berhak merasa mengenal Tuhan sehingga karenanya manusia menyebut nama dan sifat-sifat-Nya ketika berdoa, bersembahyang atau ketika dalam situasi membahayakan dengan beragam sebutan yang berbeda. Kata Tuhan, God, Allah,Yahweh, Sang Hyang Widhi, Thianataupun sebutan lain, semuanya tetap bersifat simbolik. Kita harus dapat membedakan antara “nama” dan “yang diberi nama”, “symbol” dan “the thing symbolized”“al-ism” dan “al-musamma”“sign” dan “something signified”, “prediket” dan “subtansi” dan seterusnya.

Dalam bahasa Tillich, seperti dikutip Hidayat dan Nafis (h. 32), God is symbol for God. Meminjam ungkapan Abu Ja’far al-Shadiq, kata Allah itu sendiri artinya Yang Dipuja. Maka barangsiapa memuja Allah (tanpa mengacu pada subtansi-Nya), maka ia telah kafir. Dan barangsiapa memuja Allah (nama dan subtansi-Nya sekaligus), maka ia telah musyrik. Tetapi barangsiapa yang memuja Dzat yang diacu oleh kata Allah itu, barulah benar tauhidnya.

Dalam tradisi keagamaan memang banyak sekali nama atau sebutan tentang Tuhan, tempat dan orang yang dianggap suci, tetapi pada dasarnya tiada suatu apapun yang memiliki kesucian absolut kecuali Tuhan Yang Mahasuci. Ka’bah, misalnya, bisa saja dikatakan suci tetapi kesuciannya tidak intrinsic. Oleh karena itu, jika seorang Muslim mensucikan Ka’bah sejajar dengan sikap mensucikan Tuhan, maka ia telah jatuh kedalam kemusyrikan, sebab keyakinannya tak jauh berbeda dari keyakinan orang Arab jahiliyah pra-Islam yang juga mensucikan patung yang dianggapnya sebagai Tuhan. Holy things are not holy in themselves, but they point beyond themselves to the source of all holiness, that which is of ultimate concern, demikian imbuh Paul Tillich.

Yang menarik adalah, dari sekian aliran filsafat ataupun agama, ajaran Buddha dinilai yang paling konsisten untuk tidak mau memberi prediket Tuhan secara positif sehingga Buddha kerap dipahami sebagai pahamatheisme, meskipun “atheisme” Buddha sangat berbeda dari pengertian atheism pada umumnya. Jika benar spekulasi sejarawan agama bahwa Budhha (Sidharta) Gautama itu tidak lain adalah Nabi Dzu al-Kifl sebagaimana dinarasikan dalam al-Qur’an – yang lahir di Kapilawastu, India – Lao-tze itu adalah Nabi Luth, maka kita perlu melakukan penafsiran hermeneutic terhadap ajaran Buddha dan Lao-tze.

Ketika keduanya tidak mau menyebut Tuhan tidaklah berarti secara subtansial keduanya tidak mengakui melainkan justru hendak melakukan tanzih, yaitu penyucian absolut pada Tuhan sehingga jika Tuhan itu diberi lebel atau nama, hal itu berarti telah menutup rembulan dengan jari telunjuk. The Buddha tells us that God can only be named in vain, demikian terang Raimundo Panikar sebagaimana dikutip oleh Hidayat dan Nafis (h. 33).

Oleh sebab itu, imbuh Panikar, diam (silence) adalah bahasa tertinggi, yang melampaui bahasa ucapan dan bahasa pikiran, untuk menyapa Tuhan agar terhindar dari sikap mereka-reka tentang Tuhan. Dalam khasanah Islam, Ibn al-‘Arabi juga mengakui munculnya paradox ketika seseorang mau mendekati Tuhan. Bahwa Tuhan dalam keabsolutan-Nya berada di luar konsepsi manusia, sementara manusia tidak mungkin terbebaskan dari bahasa konseptualisasi ketika berkomunikasi dengan Sang Khaliq, yang dalam bahasa Ibn al-‘Arabi disebut al-ilah al-mu’taqad atau “Tuhan sebagaimana yang dibayangkan dan yang diyakini manusia” (the conceived God).

Dengan demikian, nama, sebutan atau sifat Tuhan bukanlah Tuhan yang sesungguhnya. Itu merupakan Tuhan yang ada dalam pikiran kita, Tuhan yang kita konsepsikan, Tuhan yang berhasil kita jangkau melalui nalar intelektual dan keyakinan kita yang terbatas. Meski begitu, dengan beragam nama, sebutan atau sifat-sifat tersebut, apa yang kita komunikasikan kepada-Nya tidak “terhalang” sama sekali. Ia dapat dijangkau oleh siapapun kita, apapun agama atau keyakinan kita, dengan nama dan sebutan apapun jua. Sebab ia Mahacinta, Mahamengetahui terhadap apa yang diinginkan oleh umat-Nya dan Mahatahu apa yang dibutuhkan oleh umat manusia. [ ]

 

Ahmad Nurcholish, Pegiat ICRP, Direktur Eksekutif Nusantara Damai

1.322 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

one × 2 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>