Nilai-Nilai Kemanusiaan dalam Keragaman Rumah Ibadah: Refleksi Kunjungan ke Berbagai Rumah Ibadah

komar tsuji1Oleh: Drs. Komar, M.Hum (Koordinator Program Pelatihan Yayasan Cahaya Guru)

“If someone were to ask me whether I believed in God,

or saw God, or had a particular relationship with God,
I would reply that I don’t separate God from my world in my thinking.

I feel that God is everywhere.
That’s why I never feel separated from God

or feel that I must seek God any more than a fish in the ocean feels it must seek water.
In a sense, God is the “ocean” in which we live.”

(Robert Fulghum)

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

(QS Al Baqarah 115)

 GPIB Immanuel masjid Istiqlal

klentengpura 

 Gereja KetdralGPIB Tugu

Tuhan Saya hadir di Beragam Rumah Ibadah

Coba perhatikan foto-foto tersebut dengan mata hati kita masing-masing! Perasaan apa yang muncul ketika memadangi rumah ibadah beragam agama tersebut? Bagi saya, yang bergelora adalah perasaan takjub, karena kelima bangunan itu menampilkan keindahan yang mempesona walaupun dalam nuansa arsitektural yang berbeda. Kelimanya mencerminkan betapa kayanya kreatifitas, dan betapa tingginya peradaban kita. Ketika mulai melangkah perlahan ke dalam masing-masing bangunan, hanya ada satu perasaan yang mendominasi batin saya: rasa damai.

Ini adalah pengalaman pertama saya berkunjung ke beberapa rumah ibadah dalam suatu rangkaian Wisata Rumah Ibadah pada hari Sabtu-Minggu, 31 Januari -1 Pebruari 2015 yang diselenggarakan oleh YCG dan ICRP. Ketika melangkah memasuki Katedral, Gereja Immanuel, Pura, Vihara dan Kuil Sikh, saya menemukan suasana dan spirit yang sama seperti ketika memasuki Masjid dalam balutan konstruksi bangunan yang berbeda. Tuhan saya hadir di beragam rumah ibadah tersebut, dan ada di sekitar kita. Pengalaman batin ini menjadi bukti tak terbantahkan dari kebenaran ayat Al-Qur’an yang menjelaskan:  “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS Al Baqarah 115).

Keragaman bentuk bangunan justru mencerminkan kekayaan budaya bangsa yang menghormati dan mengakomodir semangat berkreasi dan mencipta untuk mengaktualisasikan ruh spiritualitas dalam beragam nuansa arsitektural. Perbedaannya terletak pada dimensi eksoterik (lahiriah) ajaran agama-agama, sedangkan pada dimensi esoterik (batiniah) atau substansinya sama, bahwa setiap ajaran agama ingin mewujudkan masyarakat yang dinaungi welas asih, keadilan, kedamaian, saling menghormati, kesejahteraan dan nilai-nilai kemanusiaan universal lainnya. Pada keragaman ajaran agama dan perbedaan kepercayaan terhadap wujud transenden yang terimplementasi pada keragaman ibadah ritual, keragaman simbol-simbol dan arsitektural rumah ibadah, terkandung substansi yang sama yaitu nilai-nilai kemanusiaan. Bagi saya, tidak ada realitas objektif tentang Tuhan, karena Tuhan adalah simbolisasi potensi kemanusiaan kita yang tanpa batas. Tuhan adalah orientasi dan rujukan hidup kita. Cita-cita luhur yang ingin kita wujudkan bersama, melalui cara yang berbeda sesuai dengan konteks perkembangan sejarah dan budaya. Hal ini selaras dengan doktrin dalam Islam, di mana manusia merupakan khalifah Tuhan, yang punya tanggung jawab untuk mengaktualisasikan sifat-sifat Tuhan (asmaul husna) dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana dipaparkan dalam Al-Quran: ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (Al-Baqarah:30). Begitu pula  dengan doktrin Katolik, yang menegaskan bahwa manusia diciptakan menurut citra Tuhan (Imago Dei).

 

Tuhan: antara Konsepsi dan Realitas

Gagasan manusia tentang Tuhan memiliki jejak sejarah yang panjang, karena gagasan itu selalu memiliki arti yang sedikit berbeda bagi setiap kelompok manusia yang menggunakannya pada berbagai periode waktu. Konsepsi tentang Tuhan yang dibentuk oleh sekelompok manusia pada suatu generasi, bisa saja tidak memiliki arti lagi bagi generasi selanjutnya. Bahkan pemahaman para teolog tentang Tuhan walaupun pada periode yang sama, mungkin sangat berbeda dengan pemahaman para filsuf atau ilmuwan. Sehingga, tidak ada satu gagasan pun yang tidak berubah dalam kandungan kata Tuhan. Kata ini mencakup keseluruhan rentang makna, di mana sebagian di antaranya ada yang bertentangan atau bahkan saling meniadakan. Jika gagasan Tuhan tidak memiliki keluwesan seperti ini, niscaya ia tidak akan mampu bertahan untuk menjadi salah satu gagasan besar umat manusia, karena ketika sebuah konsepsi tentang Tuhan tidak lagi mempunyai makna atau relevansi, ia akan diam-diam ditinggalkan dan digantikan oleh sebuah teologi baru.

Setiap kita memiliki konsepsi dan imajinasi sendiri-sendiri tentang Tuhan. Setiap konsepsi dan imajinasi tersebut, tentu saja bukan Tuhan. Selama ribuan tahun kita bergumul dengan konsep-konsep dan imajinasi tentang Tuhan yang tidak merujuk pada realitas objektifnya. Tetapi, mungkin orang yang mengaku beriman akan keberatan dengan pernyataan tersebut, karena menurut mereka Tuhan telah mewahyukan diri-Nya pada kitab-kitab suci, baca dan hafalkan. Titik! Pertanyaannya adalah kitab suci yang mana? Injilkah, dengan atau tanpa Perjanjian Baru? Al-Qur’an? Kitab Veda? Avesta?  Mengapa bukan ketahayulan Realian? Dan masih ada beberapa kitab suci agama lain. Bagaimana caranya memutuskan akan mempercayai yang mana? Bukankah ayat-ayat tersebut juga harus kita tafsirkan? Menafsirkan tidak terlepas dari aktivitas mengonsepsi dan mengimajinasikan. Jika kita mau jujur, Tuhan-tuhan yang kita imani sebenarnya adalah Tuhan-tuhan ciptaan pikiran dan imajinasi kita sendiri. Bukan Tuhan yang sesungguhnya, yang berada di luar konsep kebahasaan dan keterbatasan pikiran serta imajinasi kita.

XenopanesDalam kaitannya dengan hal tersebut, seorang penyair dan filsuf Yunani kono, Xenophanes menentang cara pandang orang Yunani pada waktu itu terhadap dewa-dewi. Ia memberikan kritik terutama kepada Herodotos dan Hesiodos yang memberikan pengaruh besar terhadap masyarakat Yunani. Menurut kedua penyair itu, dewa-dewi melakukan pelbagai perbuatan yang memalukan, seperti pencurian, zina, dan penipuan satu sama lain. Di sini, Xenophanes membantah antropomorfisme dewa-dewi, maksudnya penggambaran dewa-dewi dalam rupa manusia. Menurut Xenophanes, manusia selalu menaruh sifat-sifat manusia kepada dewa-dewi sesuai kehendak mereka. Misalnya saja, dewa-dewi dilahirkan sebab manusia juga dilahirkan, dan bahwa dewa-dewi memakai pakaian, suara, dan rupa seperti manusia. Xenophanes memberikan argumentasi sesuai bukti yang ia temukan:

“Seandainya sapi, kuda, dan singa mempunyai tangan dan pandai menggambar seperti manusia, tentunya kuda akan menggambarkan dewa-dewi menyerupai kuda, sapi akan menggambarkan dewa-dewi menyerupai sapi, dan dengan demikian mereka akan menggambarkan tubuh dewa-dewi serupa dengan tubuh mereka.”.

“Orang Etiopia mempunyai dewa-dewi yang berkulit hitam dan berhidung pesek, sedangkan orang-orang Thrake mengatakan bahwa dewa-dewi mereka bermata biru dan berambut merah.”.

Xenophanes dapat menyimpulkan bahwa antropomorfisme terhadap dewa-dewi tidaklah tepat sebab ia telah melakukan perjalanan ke berbagai tempat dan melihat pelbagai kepercayaan mereka. Karena itu, ia menjadi yakin bahwa semua itu bukanlah konsep dewa-dewi yang tepat. Ia menyatakan bahwa sebenarnya hanya ada “Satu yang meliputi Semua”.  Maksudnya di sini serupa dengan konsep “Tuhan” namun tidak sama dengan monoteisme sebab ia juga menyebutnya dalam bentuk jamak.

Menurut Xenophanes, “yang Satu meliputi Semua” ini tidak dilahirkan dan tidak memiliki akhir, artinya bersifat kekal. Hal ini berbeda dengan konsep dewa-dewi yang dilahirkan dan dapat mati. Ia tidak menyerupai makhluk duniawi mana pun, baik manusia ataupun binatang. Ia juga tidak memiliki organ seperti manusia, namun mampu melihat, berpikir, dan mendengar. Ia juga senantiasa menetap di tempat yang sama namun menguasai segala sesuatu dengan pikirannya saja.

Wisata yang Mencerdaskan dan Mencerahkan

Wisata rumah ibadah adalah sebuah terobosan cemerlang ketika masyarakat lebih gandrung pada sesuatu yang bersifat materil dan kemewahan dalam wujud wisata belanja atau wisata mall. Terlebih lagi, begitu terasa manfaatnya ketika negeri ini masih sering dilanda konflik mematikan antar umat agama. Dari kunjungan ke berbagai rumah ibadah dan dialog dengan para tokoh lintas agama tersebut, maka diharapkan jurang budaya dan jurang iman yang sebelumnya terbentang menganga, bisa terjembatani dengan baik, sehingga yang tumbuh bukan lagi rasa curiga,  saling menghina dan menyalahkan, tetapi rasa empati dan saling memahami perbedaan masing-masing.

Jika saya renungkan lebih dalam, ada kemiripan antara wisata rumah ibadah dengan wisata kuliner yang sekarang menjadi acara sangat populer di beberapa stasiun televisi. Kita bisa menikmati kelezatan rasa beragam kuliner dari berbagai etnis di Indonesia: karedok, tutug oncom atau gepuk dari tanah Pasundan, getuk, gudeg atau lumpia dari Jawa, mpek-mpek dari Palembang, rendang dan pange dari Minang, coto dari Makasar dan sebagainya. Jika kita amati lebih seksama, keragaman kuliner tersebut terutama terletak pada proses atau teknik pembuatan, rasa, tampilan hidangan dan peruntukannya. Tetapi secara substansi, ada kandungan  universal yang ada pada beragam jenis hidangan tersebut. Misalnya: karbohidrat selain ada pada nasi juga terdapat pada ubi, singkong, sagu, jagung, talas, atau gandum. Protein terkandung pada daging ayam, daging sapi, daging babi, ikan, udang, kepiting, dan seterusnya. Vitamin dan mineral terdapat pada beragam buah dan sayur: jeruk, manga, manggis, delima, markisa, wortel, brokoli, buncis, dan lain-lain. Jika kita mau jujur, maka sebenarnya yang kita butuhkan bukan beragam jenis kuliner tersebut, tetapi kandungan gizi yang ada di dalamnya. Kita bukan butuh nasi, tapi kita butuh karboidrat sebagai sumber energi yang selain ada pada nasi juga terdapat pada biji-bijian dan umbi-umbian yang lainnya. Kita bukan butuh daging atau ikan, tetapi kita butuh protein yang ada pada daging, ikan, udang dan sebagainya. Beragam kuliner tersebut adalah bungkus luar dari substansi utama yang ada di dalamnya.

Beragam agama, dengan segala perbedaan ritual, simbol dan variasi bentuk rumah ibadahnya, hanyalah menampilkan bungkus dari substansi yang lebih universal, yaitu nilai-nilai kemanusiaan  luhur yang ingin kita wujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Malahan ingin kita implementasikan dalam dimensi global untuk kemaslahatan umat manusia. Bukankah itu yang menjadi tujuan ajaran agama-agama?

Semoga kegiatan Wisata Rumah Ibadah ini bisa mewujudkan saling pemahaman di antara berbagai pemeluk agama sehingga terjalin simpul-simpul persaudaraan yang disatukan oleh nilai-nilai kemanusiaan.

Sebagai penutup, izinkanlah saya mengutip ungkapan yang indah berikut ini:

Aku mencari Tuhanku, tetapi Tuhan meninggalkan aku

Aku mencari jiwaku, tetapi aku tidak dapat menemukannya

Aku mencari saudaraku untuk melayaninya

dan aku menemukan ketiganya, Tuhan, jiwa dan saudaraku.

(Anonimous)

1.421 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

1 × 2 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>