Ulil Abshar abdalla

Tanpa Tipping Point, Dunia Islam Dinilai Sulit Lakukan Reformasi

JAKARTA, ICRP – Ketua Harian Indonesian Conference on Religon and Peace (ICRP) Ulil Abshar Abdalla menilai bayang-bayang konservativisme masih menghantui dunia Islam. Demikian disampaikan Ulil dalam kegiatan text reading yang diselenggarakan di Freedom Institute, Selasa (10/2).

“Sejak revolusi Iran tahun 1979, dunia Islam hidup di bawah bayang-bayang revolusi Islam Iran dan hingga kini belum ada turning pointnya,” ujar Ulil.

Di hadapan peserta text reading, Ulil mengakui perubahan-perubahan yang terjadi di Timur Tengah memiliki dampak yang besar pada dunia Islam. Menurutnya, hal ini tidak lepas dari masih kuatnya persepsi bahwa Timur Tengah menjadi domain pusat wacana keislaman.

Meski demikian, dalam kacamata Ulil, dunia Islam sempat mengalami ‘reformasi singkat’. “Pada tahun 1950an hingga 1960an, masyarakat timur tengah dan dunia Islam pada umumnya memiliki keinginan untuk terlihat setara dengan bangsa-bangsa Eropa. Mereka melakukan modernisasi,” ucap Ulil.

Singkatnya masa “reformasi” itu, Ulil melanjutkan, karena sifatnya top-down. “Modernisasi dipaksakan oleh kekuasaan,” jelas Ulil yang mengenakan kemeja berwarna biru khas partai Demokrat itu. Sore itu, Ulil mengisahkan betapa miripnya proyek modernisasi yang dipaksakan negara-negara di Timur Tengah sebagaimana dilakukan Attaturk di Turki dan Syah Reza di Iran. Menurut Ulil cara modernisasi demikian memang tidak kokoh dan bisa bertahan dengan lama.

Namun, Ulil melihat reformasi sebagaimana yang pernah dilakukan sosok seperti pemikir Mesir Muhammad Abduh merupakan hal yang mendesak bagi dunia Islam. Hanya saja, Ulil menggaris bawahi reformasi Islam perlu dilakukan dari masyarakat sendiri, bukan paksaan kekuasaan. “Saya ingin di Islam ada reformasi tapi tidak dipaksakan oleh negara,” tegasnya.

Ulil meyakini kemampuan dunia Islam untuk mengadopsi modernitas tidak kalah dengan bangsa-bangsa Eropa.

Tonggak reformasi di dunia Islam, Ulil menambahkan, memerlukan satu fenomena penting. “Kita memerlukan sebuah tipping point. Sebuah peristiwa yang mengguncang sebagaimana revolusi Islam Iran,” kata Ulil. Tanpa tipping point, Ulil melihat dunia muslim akan sulit mengalami reformasi.

Pada peserta text reading menantu Gus Mus ini memberikan sebuah pertanyaan menarik. “Apakah ISIS bisa menjadi tipping point bagi dunia Islam?” tanya Ulil sore itu.

“Saya yakin akan datang waktunya tipping point bagi dunia Islam,” ujar Ulil penuh percaya diri

759 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

2 × 5 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>