Prof. Dr. Syafii Maarif (kanan) Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin (kiri)

“Islam Ada di Titik Nadir Peradaban”

JAKARTA, ICRP – Dalam seminar bertemakan “Fikih dan Tantangan Kepemimpinan dalam Masyarakat Majemuk”, di Hotel Alia Cikini, Jakarta Pusat (24/2) Prof. Dr. Syafii Maarif mengkritik corak pandang sebagian muslim di tanah air. Menurut sosok yang kerap disapa Buya Syafii ini, dunia Islam kini mengalami keterpurukan yang dalam.

“Dunia Islam kini berada di titik nadir peradaban, yang bisa kita banggakan hanya jumlah 1,6 Milyar umat muslim. Selain itu, kita semua tertinggal.” ujar Buya Syafii. Sore itu ia mencontohkan betapa lemahnya negara-negara muslim dalam mensejahterakan masyarakatnya. Sementara para pemimpin-pemimpinnya, sindir intelektual itu, sibuk mengurusi diri dan berfoya-foya.

Dewasa ini, lanjut Buya, umat Islam sulit untuk menerima penuturan dari orang non-muslim meskipun baik. kerap kali, menurut Buya, umat Islam lebih mengutamakan siapa pembicara daripada apa yang disampaikan. “Sebagian umat Islam selalu bertanya dulu, ‘dia muslim atau bukan’, pertanyaan semacam itu kan pertanyaan orang jalanan,” sindirnya.

Tidak heran, menurut Buya, sosok dari Barat sulit diterima di kalangan tersebut. “kaum fundamentalis itu gak suka dengan orang semacam Karen Amstrong yang sangat simpati pada nabi,” sambung Buya.

Buya Syafii Maarif menilai fase paling mengerikan dari cara pandang umat Islam dewasa ini adalah berkembangnya “teologi maut”. “Dikritik sedikit sudah langsung marah lalu mengfatwa orang mati,” cetus Buya.

Di mata pria asal Minangkabau ini, akar permasalahan munculnya corak pandang keislaman yang demikian itu disebabkan posisi Islam berada di bawah. “Karena kita berada di bawah maka umat Islam cenderung menjadi defensif,” tegas Buya.

Sahabat Nurcholish Madjid ini berharap kelak jika anak-anak muda progresif NU dan Muhammadiyah memegang kepemimpinan bangsa maka Indonesia sebagai negara mayoritas muslim  mampu untuk menegakan kepala dalam memandang dunia.

Dalam acara sore itu, turut juga hadir menteri agama Lukman Hakim Saifudin di kursi pembicara. Tak biasanya, menteri agama yang kerap menjadi harapan menyemai keberagaman ini mengisi diskusi dengan membaca teks.

Seminar ini merupakan rangkaian dari Halaqah Fikih Kebhinekaan yang dilaksanakan pada 24-26 Februari. para pembicara dan peserta aktif Halaqah Fikih Kebhinekaan ini terdiri dari para pakar dan akademisi, pengurus Muhammadiyah, dan Praktisi. Yang menarik, sebagaimana dilaporkan dalam siaran pers, Lurah Susan yang sempat menjadi pusat perhatian di Ibukota dikabarkan menjadi salah satu pembicara dalam rangkaian acara ini.

1.272 views

One comment

  1. Apa yg dikatakan buya 100% bener, bahkan bukan hanya dititik terendah, namun terendah yg semakin rendah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

17 − 13 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>