launching

Agama Jadikan Seksualitas Lebih Bermartabat

Jakarta, ICRP – Bagaikan dua sisi mata uang, agama dan seksualitas begitu berkaitan dan tidak bisa dilepaskan. Agama hadir untuk menjadikan seksualitas menjadi lebih bermartabat. Jika seksualitas tanpa dilandasi dengan agama, maka yang terjadi adalah kekacauan. Demikian ungkap Romo Peter Aman, Dosen Etika di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarakara, dalam peluncuran dan bedah buku “Agama, Seksualitas, dan Kesehatan Reproduksi”, Rabu (25/2/2015).

Seperti judulnya, buku ini membahas mengenai hubungan antara agama, seksualitas dan kesehatan reproduksi. Menurut Ahmad Nurcholish, editor buku tersebut menyatakan saat ini masih banyak kesalahpahaman dalam memaknai seksualitas dan kesehatan reproduksi. Terlebih jika dihubungkan dengan agama. Karena selama ini agama memandang bahwa perbincangan soal seksualitas adalah tabu.

“Banyak agamawan yang menafsirkan bahwa penundaan kehamilan yang lazim disebut program Keluarga Berencana (KB), merupakan bagian dari konspirasi untuk mengurangi populasi agama tertentu” tentu bukan seperti itu pemaknaannya, lanjut Nurcholish.

Oleh sebab itu, tegas Nurcholish menyatakan bahwa buku ini merupakan upaya untuk memberikan pemahaman terkait seksualitas dengan menggunakan kacamata agama. Selain itu, dalam buku ini juga akan banyak membahas mengenai isu-isu seksualitas dan kesehatan reproduksi menggunakan perspektif agama. Seperti, bagaimana memaknai aborsi menggunakan perspektif agama-agama.

Menanggapi peluncuran buku tersebut, Direktur Megawati Institute, Musdah Mulia mengapresiasi upaya penerbitan buku ini. Menurutnya memang tidak banyak lembaga atau penulis yang berani menulis hal kontroversial seperti ini, yakni soal seksualitas dan agama.

Musdah menegaskan agama seharusnya memberikan penafsiran kepada umat mengenai kesehatan reproduksi ini secara gamblang. Karena menurutnya, pengajaran kesehatan reproduksi saat ini bak api jauh dari panggang. Pendidikan seksual dan reproduksi seharusnya bisa dimulai dari sejak dini. Sehingga anak-anak mengetahui persis hak privasi dan kedaulatan tubuh mereka. Sehingga tindakan kekerasan seksual terhadap anak-anak seperti beberapa kasus kekerasan anak belakangan ini bisa diminimalisirkan.

Agama dan seksualitas tidak bisa dilepaskan

Sementara itu, pembicara lain, Saraswati Dewi, Dosen Filsafat Universitas Indonesia menyatakan bahwa pada dasarnya agama dan seksualitas itu satu kesatuan. Bahkan menurutnya, kitab Kamasutra, yang terkenal sebagai kitab nomer 1 tentang seks, merupakan karangan seorang agamawan pada zaman itu.

Menurut Saras, tugas seorang agamawan tidak hanya menyebarkan agama belaka tetapi juga harus berurusan dengan soal kemanusiaan. Termasuk salah satunya mendidik umatnya dengan pendidikan seks yang komprehensif.

“memang banyak orang yang menganggap bahwa Kamasutra merupakan salah satu kitab porno semata” tegas Saras. Padahal kamasutra telah membebaskan jiwa manusia untuk mendapatkan sebuah kenikamatan.

Selain itu Saras menegaskan, pada dasarnya dunia seksualitas terdiri dari dua kategori. Yakni heterogenitas, dan homogenitas.

“Keduanya adalah anugerah tuhan yang memiliki hak yang sama dalam memiliki hak atas pemenuhan seksualnya” pungkasnya.

1.046 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

one × 1 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>