Rombongan ICRP kunjungi kedubes Austria

ICRP Kunjungi “Austria”, Konservativisme Agama Jadi Tema Bahasan

JAKARTA, ICRP – Dalam kunjungan ke kedutaan besar Austria di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (26/2) Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) membincangkan beberapa hal dengan duta besar Austria Andreas Karabaczek. Salah satu topik yang cukup menarik perhatian di mata  dubes Austria ini adalah konservatisme Islam dan persoalan minoritas di Indonesia. perwakilan negara sahabat yang merasa betah tinggal di Jakarta  ini mengaku turut mengikuti perkembangan sosial keagamaan di Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Andreas Karabaczek menanyakan beberapa hal seputar permasalahan minoritas dan konservativisme Islam di Indonesia pada Ketua Harian ICRP Ulil Abshar Abdalla. “Bagaimana posisi Anda (terhadap minoritas)?” tanya Andreas pada Ulil.

“Tentu saja kami membela mereka sebagaimana yang dijamin oleh konstitusi negara,” tegas Ulil merespon pertanyaan singkat dari duta besar Austria. Ulil menekankan permasalahan kebebasan beragama di Indonesia menjadi isu serius. Karena itu, Ulil melanjutkan, peran aktif organisasi yang bergerak di dialog antar umat beragama kian krusial.

“Bagaimana dengan suara Islam yang moderat? kenapa mereka nampaknya tidak terlalu bersuara?,” kembali Dubes tersebut melemparkan tanya pada Ulil.

Ulil menyampaikan lemahnya suara Islam yang damai karena militansi dan agersifnya kalangan ultra konservatif Islam menguasai ruang publik. “They are minority, but larger than life,” ujar Ulil mempersepsikan eksistensi kelompok ultra kosnervatif. Ulil mengakui kelompok ultra konservatif amat cerdik menggunakan ruang-ruang publik terutama internet.

Sebagaimana diketahui bersama, kelompok ultra konservatif atau yang biasa kita kenal kelompok radikal meski pun secara kuantitas kecil namun kemampuannya untuk menguasa ruang publik tidak perlu diragukan lagi.

Dubes Austria kelahiran Turki ini pun melanjutkan pertanyaannya. “Apakah kalangan Islam moderat takut dengan kelompok radikal?,” tanyanya penuh perhatian sembari membuat catatan-catatan kecil.

Ulil yang juga merupakan menantu dari Gus Mus ini memaparkan permasalahannya cukup rumit. Sebagian kalangan progresif, menurut Ulil, tidak mau menentang suara kelompok radikal karena enggan dianggap “kurang salih”.

Dalam memaparkan permasalahan konservativisme, Ulil menyinggung soal kebebasan berpendapat. Di mata Ulil, tidak hanya Indonesia dunia Islam pun menghadapi permasalahan serupa. Terciptanya ruang-ruang kebebasan, sambung Ulil, juga memberikan ruang bagi suara kelompok radikal semakin menjamur. “This (conservative) is the global trend, Indonesia is a global proxy of this trend” singkatnya.

Perbincangan menarik kamis siang itu pun tak terasa memakan waktu hingga satu jam lebih. Selain Ulil Abshar Abdalla selaku ketua umum turut pula ikut dalam acara audiensi pada kedubes Austria di antaranya, Direktur ICRP Mohammad Monib dan Manager Program Bobby.

Selain membincangkan permasalahan menguatnya suara kelompok intoleran di Indonesia, Andreas pun berbagi informasi mengenai kondisi sosial keagamaan di Austria. Menurutnya, Meski Jerman sebagai negara tetangga mengalami arus ultra kanan, di Austria hal tersebut tidak seperti di negeri yang kini dipimpin Angela Merkel. Pasalnya,  Andreas menambahkan, Austria telah lama berinteraksi dengan para imigran jauh sebelum Jerman.

Ujaran menarik dari Andreas, jika kondisi lebih baik terjadi di Austria karena interaksi antar umat beragama dan komunitas telah lama, bukankah keberagaman di Indonesia juga telah menjadi fakta sejarah? Lalu akankah Indonesia melanjutkan keberagaman atau justru menentang keberagaman?

 

894 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

one × 5 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>