Foto Bareng Seusai acara FGD Komnas Perempuan

Kaji Penelitian Syariat Islam di Aceh, Komnas Perempuan Undang Pakar-Pakar Hukum Islam

JAKARTA, ICRP – Mengundang sejumlah pakar ahli hukum Islam mulai dari akademisi hingga civil society, Komnas Perempuan membedah hasil penelitian mengenai Perda Syariat Islam di Nangroe Aceh Darussalam. Tokoh Muda NU Abdul Moqsith Ghazali, mantan komisioner Komnas Perempuan K.H. Husein Muhammad, Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Muhammad Monib, dan Prof. Hamid Sarong dari UI turut mengisi kursi di ruang pertemuan D Hotel, Jalan Sultan, Jakarta Pusat, Rabu (11/3).

FGD terbatas ini diakui oleh komnas perempuan bertujuan untuk memperoleh tanggapan dan masukan dari para pakar hukum dan teologi Islam mengenai penghukuman dalam hukuman Islam.

Dalam salah satu sesi, Prof. Hamid Sarong yang juga berasal dari Aceh melihat banyak paradoks dalam psikologis masyarakat Aceh dewasa ini. “Sekarang orang kita senang melihat orang dirajam,” tuturnya. Dulu, ujar Hamid Sarong, di Aceh pelaksanaan hukum bagi pencuri hanya bersifat ancaman bukan dilaksanakan secara terang-terangan. Misalnya, ia mencontohkan, jika ada dua orang yang diduga mencuri maka akan diancam tangan mereka akan dimasukan ke dalam minyak panas. Namun, sambungnya, hal itu hanya gertakan semata.

“kita bangga melihat orang dirajam daripada melihat orang menjadi makmur,” kata Prof. Hamid kembali mengulangi pernyataanya.

Dalam penelitian yang disusun oleh Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm. dan Imam Nahe’i, M.Ag ini didapat beberapa simpulan. Salah satu poin yang menjadi sorotan adalah mengenai korban dari pemberlakuan syariat Islam. Menurut keuda penelitia ini ada tiga kelompok masyarakat yang rentan dalam penerapan syariat Islam secara tebang pilih. Mereka di antaranya  adalah masyarakat miskin yang tidak mempunyai akses pada keadilan, perempuan yang cenderung diperlakukan secara bias, lawan politik para penguasa, dan para kelompok minoritas lainnya

Komnas Perempuan mengakui  pembukuan penelitian yang berjudul “Islam Agama Kemanusiaan : Reinterpretasi Atas Hudud dan Qisas Menuju Tatanan yang Adil dan Memanusiakan” itu bertujuan untuk memberi pandangan teologis terhadap wacana hukum dan penghukuman dalam hukum Islam. Tak tanggung-tanggung, selain memberikan sejumlah data tentang praktik-praktik hukum Islam sepanjang penelitian sejak 2009-2015,  dalam dua bab buku ini secara terperinci membahas mengenai landasan teologis dan filosofis hukum Islam.

Lebih dari itu, Komnas Perempuan berharap, selain mampu memberi pandangan alternatif mengenai pandangan yang bersifat universal seperti itu, hasil penelitian yang belum dilaunching itu mampu untuk untuk menjawab persoalan-persoalan dalam implementasi hukuman Islam yang acap kali mendiskriminasi perempuan.

Sebagai informasi sebelumnya beberapa waktu lalu seorang perempuan di Aceh yang diperkosa justru mendapat hukuman cambuk. Selain itu banyak kasus lainnya yang cenderung mendiskriminasi perempuan.

 

1.040 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

five × 3 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>