Foto bersama dengan wakil dubes UEA (tengah)

ICRP Kunjungi Kedubes UEA

JAKARTA, ICRP – Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) berkunjung ke kedutaan besar Uni Emirat Arab (UEA) di kawasan Kuningan, Jakarta Pusat, Rabu (18/3). Turut dalam kunjungan siang itu di antaranya, Program Manager ICRP Daeng Massuro, dan Direkur ICRP Mohammad Monib, dan tak ketinggalan ketua umum Ulil Abshar Abdalla.

Tak mau terlambat karena tak tahu arah, Program Manager ICRP mengaku telah mengobservasi terlebih dahulu lokasi sehari sebelumnya. Mafhum memang daerah Kuningan pada rentang waktu pukul 10:00 dikenal padat.

Bukan hanya itu, Mohamad Monib pun sengaja menginap di sektretariat ICRP pada selasa (17/3). Pasalnya, Ia khawatir dengan posisi kediaman ada di Bogor, untuk sampai pukul 10:00 di Kuningan diduga akan mengalami keterlambatan. Pun, telah kita ketahui bersama pak Direktur ICRP ini memang dikenal senantiasa on time dalam tiap pertemuan.

Saking tak mau terlambatnya, kedua punggawa ini meluncur dari sektariat ICRP di Jalan Cempaka Putih Barat XXI no. 34 pukul 09:30 WIB. Padahal pertemuan dengan pejabat UEA itu diagendakan pukul 11:00 WIB.

Di perjalanan tak diduga, jalanan menuju Kuningan relatif lancar. Padahal biasanya kawasan ini sedang macet-macetnya pada pukul itu. Walhasil, tim ICRP, kecuali ketum, tiba di depan lokasi pada pukul 10:00.

Tak mau terlalu lama menunggu, Daeng, demikian proram manager ICRP akrab disapa, memutuskan untuk sarapan dulu. Kebetulan lokasi kedutaan besar UEA terletak tepat berhadapan dengan Kuningan City. Mobil pun diparkirkan di mall tersebut. Dan kedua punggawa ini membeli sarapan di mall Kuningan City sembari menunggu sang ketua umum. Tak berselang lama, Ulil pun menghubungi direktur ICRP menanyakan lokasi kedubes.

Pukul 10:40, tim ICRP melangkahkan kaki dari mall Kuningan City. Tak jauh memang, hanya menyebrang jalan ke kedubes. Tak lebih dari 7 menit sampai di lokasi.

Tanpa menghadapi birokrasi yang ribet, tim ICRP langsung diterima di “teritorial asing” ini. Namun, ketua umum belum nampak terlihat di gerbang. Pihak keamanan kedutaan besar menyarankan tim ICRP agar langsung saja masuk ke gedung.

Kala menginjakan kaki, masuk ke gedung satu nuansa yang jelas terasa, “Arab”. Memang bangunan kedutaan besar Uni Emirat Arab khas terlihat didesain seperti bangunan-bangunan di negeri-negeri jazirah arab.

Petugas Front Office langsung menyapa direktur ICRP. Tanpa perlu diberitahu, petugas nampak telah mengenai Mohammad Monib. Petugas tersebut mempersilahkan tim ICRP untuk segera bertemu dengan wakil dubes UEA di lantai dua.

Di lantai dua tersebut, terdapat ruangan yang cukup besar. Ada beberapa lemari buku, televisi, sofa, dan flyer-flyer di atas meja. Di ruangan inilah tim ICRP disambut wakil dubes.

Meski belum sampai ketua umum, direktur ICRP memberanikan diri memulai perbincangan. Sayangnya, hanya beliau dan wakil dubes beserta pembantu alih bahasanya saja yang nampak menikmati perbincangan. Program Manager dan redaksi terlihat hanya menikmati mimik dari ketiga orang yang tengah berbincang dengan bahasa Arab itu.

Tak lebih dari 10 menit, ketua umum ICRP pun tiba. Mengenakan batik berwarna oranye, Ulil Abshar Abdalla langsung menyapa wakil dubes. Perbincangan pun terlihat kian hangat. Ulil yang lulusan pesantren nampak fasih berbahasa Arab.

Satu jam pun berlalu dengan cepat. Dua gelas kopi arab dan teh di meja pun belum habis diseruput tim ICRP.

Seusai pertemuan di kedubes, tim ICRP bersama ketum meluncur ke freedom institute. Di Warung Kopi Proklamasi, redaksi mendapat informasi dari perbincangan dengan dubes. Ulil dan Monib bercerita apa saja yang dibincangan dalam bahasa Arab itu.

Menurut Monib, perbincangan tadi diawali dengan perkenalan ICRP sebagai lembaga yang bergerak di bidang dialog antar umat beragama. Monib mengakui, wakil dubes UEA nampak tertarik mendengar paparan mengenai ICRP.

Ulil mengamini ujaran Monib. Selain itu, ketua umum melihat bahwa sang wakil dubes penasaran dengan agama-agama lokal di Indonesia. Ulil meyakini sang wakil dubes nampak belum memahami keberagaman agama di Indonesia.

Selain itu, Ulil mengatakan konstelasi politik internasional juga menjadi wacana dalam perbincangan siang itu dengan wakil dubes. Ulil menyarankan komunikasi dengan UEA harus tetap dijalin dan dilanjutkan. Tak lain, menurutnya, agar dialog terus berkembang mengenai toleransi beragama di kedua negara.

1.274 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

five − 4 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>