Kegiatan berdoa bersama di Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
Kegiatan berdoa bersama di Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)

ICRP Laksanakan Doa Bersama Untuk Perdamaian

Jakarta, ICRP РBeberapa masyarakat lintas agama didampingi pemuka agama, Rabu (18/3/2015), berkumpul di sekretariat Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Jakarta Pusat. Mereka berdoa untuk perdamaian umat manusia, serta kelancaran dalam setiap aktivitas ICRP.

Suasana doa yang dilaksanakan oleh umat Konghucu di ICRP

Suasana doa yang dilaksanakan oleh umat Konghucu di ICRP

Doa bersama ini dilaksanakan secar bergantian sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Pertama, doa dilaksanakan secara katolik yang dipimpin oleh Romo JN Hariyanto, SJ dan Romo Mateo. Dalam khutbahnya, Romo Hariyanto menyampaikan, doa bersama ini bukan untuk mencampur adukkan agama seperti dituduhkan oleh banyak orang. Namun ingin menunjukkan bahwa berdoa itu adalah hal mulia yang bisa dilakukan semua umat manusia, meskipun dengan cara yang berbeda. Perbedaan dalah rahmat tuhan yang maha kuasa. Dalam kesempatan tersebut, Romo Hariyanto dan Romo Mateo memberikan pemberkatan terhadap kantor ICRP dengan mempercikkan air suci kebeberapa ruangan di ICRP.

Setelah itu, doa dilaksanakan oleh umat konghucu. JIka Katolik menggunakan altar di ruangan, umat Konghucu melaksanakan ritual di depan pintu masuk. Mereka menggunakan altar dengan meja kecil dengan beberapa dupa dan lilin. Dalam doanya, mereka meminta supaya ICRP selalu menjadi rumah besar agama-agama di Indonesia dan diberikan kelancaran.

20150318_172925

Adapun dengan cara Buddha, doa dipimpin oleh Bhanthe Yana Badra. Doa dimulai dengan menyanyikan lagu-lagu Buddhism disertai dengan pembacaan Parita. Bhanthe Badra berdoa semoga kantor ICRP membawa berkah kepada semua umat manusia, dari agama manapun. Terus melanjutkan hubungan harmonis dengan berbagai agama. Semoga semua makhluk hidup berbahagia, tegasnya.

ICRP sebagai rumah besar umat agama-agama memang sering ramai dikunjungi oleh para penganut dari berbagai agama. Tidak hanya enam agama yang dianggap resmi oleh pemerintah, namun para penghayat lokal yang masih belum diakui, kelompok agama terdiskriminasi, bahkan yang tidak beragama. Mereka menganggap bahwa ICRP adalah rumah bersama, rumah dialog, rumah untuk menjalin sebuah kerjasama lintas agama. Rumah dimana perbedaan bukan dipersoalkan, namun disemaikan dengan perdamaian.

1.569 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

twenty − 9 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>