erotisme dalam agama
erotisme dalam agama

Sekolah Agama ICRP: Teks Erotis dalam Agama-agama

Term of Reference (TOR)

Sekolah Agama ICRP

 “Teks Erotis dalam Agama-agama”

A.     Latar Belakang

Agama dianggap sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya. Secara khusus, agama didefinisikan sebagai suatu sistem keyakinan yang dianut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam menginterpretasi dan memberi tanggapan terhadap apa yang dirasakan dan diyakini sebagai yang gaib dan suci. Bagi para penganutnya, agama berisikan ajaran-ajaran mengenai kebenaran tertinggi dan mutlak tentang eksistensi manusia dan petunjuk-petunjuk untuk hidup selamat di dunia dan di akhirat. Karena itu pula agama dapat menjadi bagian dan inti dari sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan, dan menjadi pendorong serta pengontrol bagi tindakan-tindakan para anggota masyarakat tersebut untuk tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran-ajaran agamanya[1].

Ajaran-ajaran agama dianggap mencakup semua aspek dalam kehidupan manusia; sejak sebelum lahir sampai sesudah kematian; sejak manusia bangun tidur sampai bangun tidur lagi keesokan harinya. Keseluruhan hidup manusia menjadi lingkup dari pengaturan ajaran agama, termasuk pula kehidupan manusia di balik kamar tidur tidak terlepas dari aturan yang dianggap sebagai bagian dari ajaran agama masing-masing.

Ada banyak teks yang dapat menjadi contoh bagaimana agama mengatur kehidupan seksual manusia. Kama Sutra tentu adalah kitab paling populer dalam hal ini. Buku Kama Sutra merupakan hasil karya literatur Sanskerta yang dikarang oleh Mallanaga Vatsyayana dan banyak dipakai sebagai buku acuan dalam hal percintaan. Secara keseluruhan buku ini terdiri dari 36 bab yang terbagi menjadi 7 bagian, dan telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, termasuk ke dalam bahasa Inggris (oleh Burton dan Doniger)[2]. Dalam khazanah Islam, Syekh al-Nafzawi, ulama Tunisia abad ke-16, menyuguhkan Al-Rawdh al-’Athir fi Nuzhat al-Khathir (The Parfumed Garden/La Prairie Parfumee). Buku legendaris yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa ini menyuguhkan bimbingan seks yang padat dan lengkap. Ada pula Qurratul `Uyun merupakan khazanah kitab kuning yang termasyhur di pesantren tradisional; sebuah panduan untuk menakhodai bahtera rumah tangga dan menuntun langkah dalam menelusuri lika-liku kehidupan seksual: mulai dari keutamaan menikah, memilih jodoh yang sesuai, adab bersetubuh dengan pasangan, posisi-posisi sanggama yang paling nikmat, hingga pentingnya puncak kepuasan (orgasme) dicapai secara bersamaan oleh suami-istri[3].

Dalam khazanah agama dan adat-istiadat lokal pun, terdapat kitab-kitab yang juga membahas mengenai kehidupan seksual. Sebutlah Serat Gatholoco, Serat Damogandhul, Suluk Tambangraras (Serat Centhini), dan Serat Nitimani. Bagian-bagian dalam Serat Centhini, dalam Centhini II (Pupuh Asmaradana) diuraikan dengan gamblang soal “ulah asmara” yang berhubungan dengan lokasi genital yang sensitif dalam kaitannya dengan permainan seks. Misalnya, cara membuka atau mempercepat orgasme bagi perempuan, serta mencegah atau mempercepat agar lelaki tidak cepat ejakulasi. Lalu dalam Centhini IV (Pupuh Balabak) diuraikan secara blak-blakan bagaimana pratingkahing cumbana (gaya persetubuhan) serta sifat-sifat perempuan dan bagaimana cara membangkitkan nafsu asmaranya. Di masyarakat Bugis-Makassar, juga terdapat Lontara Assikalabineng. Manuskrip ini terbagi dalam beberapa bab yang pada tiap-tiap babnya mengupas antara lain tentang potensi ejakulasi dini, faktor kejiwaan yang mendorong seseorang untuk melakukan hubungan seksual, dan tips and triks seputar seksualitas seperti waktu yang baik untuk berhubungan intim, tips memanjakan pasangan selepas berhubungan intim, cara mudah merawat dan mengencangkan organ tubuh dengan memanfaatkan air mani yang keluar selepas berhubungan intim, pijat dan urut, mantra-mantra, dan sebagainya.

Keberadaan kitab-kitab inilah yang akan dibahas dalam diskusi Sekolah Agama ICRP kali ini; bagaimana memahami dan menyikapi posisi teks-teks yang dianggap erotis yang ada dalam agama-agama. ICRP beserta seluruh stakeholdernya yang merupakan wadah dialog bagi ummat beragama diharapkan dapat memberikan wawasan dan pengetahuan dalam seluruh aspek keberagamaan sehingga tercipta kesepahaman, kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa yang terdiri atas bermacam agama di Indonesia.

B.     Pertanyaan-pertanyaan penting

Dari hal-hal diatas, beberapa hal yang menjadi pertanyaan bersama tentang masalah ini antara lain:

  1. Bagaimana posisi teks-teks erotis ini dalam agama-agama?
  2. Bagaimana proses kelahiran teks-teks ini?
  3. Apakah teks-teks ini benar berasal dari ajaran pokok agama atau hanya sekedar produksi dari kemajuan kehidupan masyarakat yang memeluk agama tersebut?
  4. Mengapa sejauh ini kita mendapat kesan bahwa agama tidak memperkenankan pembicaraan seputar seks dan seksualitas secara terbuka?
  5. Sebagai ummat yang memeluk agama, apakah diperlukan pemahaman teks ini sebagai bagian dari keberagamaan

 

C. Tujuan

Adapun tujuan kami menyelenggarakan Sekolah Agama ICRP seri ”Teks Erotis dalam Agama-agama” ini adalah:

  1. Mempererat hubungan antara semua stakeholder ICRP, baik lembaga-lembaga stakeholder, pengurus, staff, maupun volunteer ICRP.
  2. Memahami dan menambah pengetahuan mengenai posisi teks-teks ”erotis” dalam agama-agama.
  3. Memperkenalkan aspek-aspek agama yang selama ini ditabukan.
  4. Mengkonsolidasikan jaringan dan kekuatan agar Indonesia tetap aman dalam keharmonisan.

D.     Nama Kegiatan

Kegiatan ini bernama: Sekolah Agama ICRP; Teks Erotis dalam Agama-agama

E.      Waktu dan Tempat Kegiatan

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal   : Rabu, 25 Maret 2015

Waktu                 : Pukul 14.00 – 17.00 WIB

Tempat               : Sekretariat Megawati Institute, Gedung Enerindo Lt. 2, Jalan Proklamasi No. 53 Jakarta Pusat

F.      Penutup

Demikianlah Term of Reference (TOR) ini kami susun, semoga dapat menjadi titik tolak bersama untuk mendalami dan membahas masalah yang kita hadapi sehingga kita semua dapat membangun kesepahaman dengan lebih baik.

 


[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Kama_Sutra

[3] http://permalink.gmane.org/gmane.culture.religion.healer.mayapada/13099

5.727 views

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

1 × 4 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>