situasi diskusi sekolah agama "teks erotisme dalam agama". Mohammad Monib (kiri), Abdul Moqsith Ghazall (tengah), dan Sarawati Dewi Putri saat Sekolah Agama ICRP bertajuk Teks Erotis dalam Agama, di Sekretariat Megawati Institut, Rabu (25/3).
situasi diskusi sekolah agama "teks erotisme dalam agama". Mohammad Monib (kiri), Abdul Moqsith Ghazall (tengah), dan Sarawati Dewi Putri saat Sekolah Agama ICRP bertajuk Teks Erotis dalam Agama, di Sekretariat Megawati Institut, Rabu (25/3).

ICRP Gelar Seminar Teks Erotis dalam Agama

Tanpa disadari, agama telah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk persoalan manusia di balik kamar tidur. Hal ini tampak dari keberadaan teks-teks lampau, seperti literatur Sanskerta berjudul Kama Sutra karya Vatsyayana dan teks Al-Rawdh al-’Athir fi Nuzhat al-Khathir karya Syekh al-Nafzawi, ulama Tunisia abad ke-16. Kedua kitab ini menghadirkan unsur-unsur erotisme di dalamnya.

Sayangnya, hal tersebut masih dianggap tabu dan tidak layak untuk diperbincangkan kepada khalayak. Untuk itulah, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) mengadakan seminar Sekolah Agama bertajuk Teks Erotis dalam Agama-agama, di Sekretariat Megawati Institute Jakarta pada Rabu (25/3), guna membuka pikiran dan perspektif baru terhadap hal-hal sensitif tetapi sebenarnya dekat dengan kehidupan manusia.

Acara ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. L.G. Saraswati Dewi Putri, M.Hum, Dosen Filsafat Universitas Indonesia, dan Dr. Abdul Moqsith Ghazali, M.A, Dosen Filsafat dan Agama UIN Jakarta. Kedua akademisi ini berbicara dengan perspektif yang berbeda. Saraswati melihat unsur erotika dalam teks Hindu, sementara Moqsith memandang erostisme melalui pandangan Islam. Seminar ini dimoderatori langsung oleh Mohammad Monib, Direktur Eksekutif ICRP.

Diakui Mohammad Monib, selama 15 tahun ICRP berdiri, lembaga ini hanya membicarakan tentang agama, seperti Introduction to Yudaism dan sebagainya. Namun, ia melihat ada hal lain yang harus dibagikan meski itu tabu bagi masyarakat.

“Kenapa kita tidak mencoba masuk kepada hal yang lebih sensitif dan tidak biasa tetapi itu sesuatu yang riil dan ada. Kita seakan-akan menutupinya dan menganggap tabu, namun kita sangat doyan untuk tau itu,” ujar Monib kepada satuharapan.com usai akhir acara.

ICRP berharap tema ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan dalam seluruh aspek keberagamaan kepada masyarakat, sehingga tercipta kesepahaman, kedamaian, dan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa yang terdiri atas bermacam agama di Indonesia.

Sumber: satuharapan.com

1.004 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

2 × five =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>