Direktu PUSAD Paramadina (kanan) Ihsan Ali Fauzi

“Kalau Tak Bisa Bantu, Jangan Dipersulit”

JAKARTA, ICRP – Direktur Pusat Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina Ihsan Ali Fauzi memberikan beberapa catatan pada temuan penelitian periset dari Indonesian Religious Council (IRC) Suhadi. Pada riset yang merupakan kerjasama antara IRC dan Search for Common Ground (SFCG), Ihsan  menggarisbawahi beberapa hal.

“Sulit sekali medefinisikan mengenai intoleransi. Indikator utama adanya perilaku intoleransi adalah jika terancam dengan the other. Namun apakah itu actual threat atau perceived threat?” kata Ihsan dalam diskusi membahas temuan Suhadi di Hotel Diradja, Selasa (31/3).

Ihsan pun menyinggung mengenai pemahaman masyarakat mengenai the others. Menurutnya acapkali masyarakat mayoritas di suatu tempat tidak memiliki kompetensi untuk menilai agama komunitas yang berbeda dengan dirinya.

“Apakah orang-orang tahu konsep pokok ajaran agama-agama? Di riset saya di Jakarta, kebanyakan orang-orang Islam ini tidak memahami bahwa di kristen itu ada katolik dan protestan,” ungkap Ihsan yang mengenakan batik warna merah siang itu.

Menurut Ihsan ketidaktahuan ini bisa berdampak fatal. Tak jarang semangat intoleransi terhadap umat kristiani, kata Ihsan, dimulai dari kesalahpahaman. “Mereka (orang intoleran) kadang mengkritik pembangunan gereja. Padahl mereka tidak paham memang di kristen protestan itu ada banyak sekali denominasi yang tidak mungkin satu gereja dalam beribadah. Misalnya, orang jawa kan gak mungkin ibadah di HKBP,” ujar Ihsan yang langsung disambut tawa peserta.

Selain itu, Ihsan mengkritik sikap negara dalam menyikapi keberagaman. Dalam temuannya justru, lanjut Ihsan, tak jarang kebijakan negara  merusak keberagaman. “PBM (Peraturan Bersama Menteri) malah menghambat tradisi lokal di Batuplat yang sejatinya toleran menyikapi perbedaan,” tegas Ihsan merespon susahnya pendirian mesjid di daerah itu.

Bahkan menurut Ihsan pemerintah terlalu “matre” dalam mendorong keberagaman. “Di Ambon, ketika masyarakat mau bikin acara pro keberagaman, pengurus lokasi gong perdamaian malah meminta uang. Negara ini kalau tidak bisa bantu yang jangan dipersulit,” demikian kata Ihsan.

Dalam diskusi bertajuk “Memperkuat Kerjasama LIntas Iman dalam Penghormatan dan Perlindungan Tempat-Tempat Suci di Indonesia,” IRC dan SFCG mengundang pegiat HAM, guru-guru agama, aparatur negara, dan lain-lain.

 

983 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

14 − 4 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>