30081[1]

Menangkal Paham ISIS Lewat Wayang

Wajah Malini begitu berseri-seri ketika memasuki kawasan Kota Tua, Jakarta Utara. Senyum ceria makin merekah ketika kaki kecilnya melangkah masuk ke museum wayang. Saat di dalam, pandangan matanya tidak berhenti tertuju kepada puluhan koleksi yang ditampilkan di tempat tersebut.

Minggu pagi itu, siswi kelas 1 SMP Nurul Iman, Ciledug ini bersama dengan 80 kawannya yang merupakan anak yatim dan dhuafa yang tergabung dalam Rumah Amalia mengadakan kunjungan ke Museum Wayang. Ini merupakan pengalaman menarik dan baru pertama buatnya dan sebagaian temannya.

Berbagai kegiatan pun mereka lakukan di sana, mulai dari melihat ribuan koleksi wayang sambil mendengarkan kisah wayang tersebut dari pemandu wisata, menonton film 3D tentang wayang, belajar mendalang hingga membuat wayang.

Sungguh pengalaman yang tidak akan terlupakan. Namun ternyata ada bagian yang sangat menarik dari rangkaian adalah tausiah dari sang Ketua Rumah Amalia, Agus Syafii.

Kearifan Lokal

Dalam wejangannya, Kaka Agus, saapan akrabnya menjelaskan wayang ini adalah budaya bangsa yang sekaligus kearifan lokal yang saat ini ditinggalkan atau tidak diketahui oleh sebagian anak-anak. Untuk itu, dia meminta anak-anak didiknya mengenal dan mempelajari dengan seksama tentang wayang.

Wayang dahulu kala digunakan para Wali Songo untuk menyebar ajaran Islam. Ini membuktikan bahwa para ulama dahulu menyebarkan agama tidak melalui kekerasan, namum melalui budaya yang santun serta akhlak yang baik.

“Tidak seperti yang sedang dilakukan oleh ISIS di Timur Tengah saat ini. Mereka menyebarkan ajaran dengan kekerasan,” celetuk kaka Agus saat memberikan wejangan di Museum Wayang, Jakarta, Minggu (12/4).

Menurut Agus, Agama Islam dan budaya bangsa Indonesia, seperti wayang ini memiliki banyak kesamaan. Islam dan wayang banyak mengajarkan saling menghormati, saling menyangi sesama manusia dan juga tolong menolong.

Agus berpesan kepada anak asuhnya agar benar-benar mengenal budaya bangsa ini. Jangan terpengaruh oleh hasutan serta bujukan-bujukan yang mengatasnamakan agama Islam, namun membawa ajaran yang bertentangan dengan budaya bangsa Indonesia yaitu toleransi.

“Saat ini ISIS mengicar para remaja dan anak untuk dikaderisasi. Saya minta anak-anak semua tidak terpengaruh. Ajaran ISIS bukanlah ajaran agama Islam yang benar, karena mereka ingin bangsa ini terpecah belah dan menghancurkan kesatuan bangsa,” ujar kaka Agus.

Dia berpesan ada tiga hal yang dapat menangkal ajaran ISIS kepada anak-anak saat ini. Pertama memberikan ajaran agama secara benar dan dari sumber yang terpecaya yang di dalam menjunjung tinggi rasa tolerasi dan persatuan serta kesatuan bangsa dan negara.

Kedua, memberikan pengetahuan kearifan lokal seperti kebudayaan dari bangsa ini yang menganut plurarisme. Ketiga, mempraktikkan ajaran agama Islam seperti yang diajarkan oleh Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah. Muhammad Zaki Alatas/N-3

Sumber: Koran-jakarta.com

907 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

one × four =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>