Islam Nusantara (ilustrasi)

Mencari Islam Nusantara?

JAKARTA, ICRP –  Bekerjasama dengan Pascasarjana Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU), Jaringan Gusdurian mengadakan diskusi bulanan dengan mengangkat topik “Mengapa Islam Nusantara”. Acara yang juga merupakan rangkaian agenda pra muktamar NU ke-33 ini diselenggarakan di lantai 8 gedung Pengurus Besar NU (PBNU), Jumat (10/4). Turut hadir malam itu koordinator nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid.

Pada diskusi kali ini, Alissa Wahid memberikan sambutan sebelum acara diskusi dimulai. “Seperti apa Islam Nusantara? dan mengapa Islam Nusantara?,” tanya Alissa pada peserta yang menyimak seksama pertanyaan pembuka putri sulung Gus Dur ini.

Menurut Alissa Wahid dewasa ini tidak bisa dielakan lagi masyarakat muslim menghadapi suatu wacana “islam dan duninya bukan islam”. kondisi ini dimotori, sambung Alissa, dengan merebaknya kelompok teroris dari timur tengah yang acapkali mencatut nama islam.

Kondisi tersebut, Alisa menambahkan, mendorong dunia untuk mencari wajah islam baru. “Nama Islam dan Nusantara seringkali disebut dalam berbagai forum di dunia internasional. Islam Indonesia dibutuhkan dunia” ucap Alisa meyakinkan hadirin.

Namun, Alissa memberikan pertanyaan lanjutan. “Namun, kita tidak tahu bagaimana cara menggunakan dan seperti apa tepatnya Islam Nusantara, karena itulah kita disini untuk mendiskusikannya,” kata Alisa.

Seusai sambutan, acara dilanjutkan dengan pertunjukan monolog oleh Ibrahim Wong. Dalam monolog tersebut, diceritakan seorang anak yang teracuni gagasan wahabisme sehingga rela mengkafirkan orang tuanya sendiri. Peserta diskusi yang memenuhi aula lantai 8 itu nampak antusias sembari diselingi tawa sesekali.

Tak lebih dari 20 menit kemudian, diskusi pun dilangsungkan. Peneliti senior LIPI Bisri Effendy didaulat menjadi pembicara malam ini.

Tak mau kehilangan ritme, Bisri Effendy langsung menjawab pertanyaan Alissa kala memulai diskusi. “Kehidupan menjadi bangunan dalam konstruksi Islam nusantara, sementara muslim lain rujukannya bukan pada kehidupan namun hal yang kerap berujung pada teror,” kata Bisri.

Corak Islam nusantara, sambung sosok yang mendaku Gusdurian ini, bisa dilacak dari cara pandang Sunan Kalijaga. Dalam kisah penentuan arah kiblat mesjid Demak, Bisri menyampaikan, Sunan Kalijaga melakukan walk-out karena tidak sejalan dengan pendapat sebagian wali. Kalijaga, menurut Bisri berupaya agar masyarakat muslim di nusantara bisa menjadi warna sendiri.

“Saya sepakat bahwa kalijaga sangat mempribumisasikan Islam,”tegasnya.

Selain itu, Bisri menyinggung pula munculnya keberagaman Islam di dunia. Menurutnya, keberagaman ini menjadi ajang bagi setiap komponen Islam di dunia untuk menunjukan coraknya. “Di sini ada perebutan identitas sekaligus perlawan yang selama ini terhadap otoritas yang selama ini dipegang oleh dunia Arab,” ujarnya.

1.080 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

17 − 1 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>