bedah buku bu musdah

Pentingnya Mempelajari Hak Seksualitas

Jakarta, ICRP – Sebagian besar masyarakat menganggap seksualitas merupakan hal yang memalukan dan tabu untuk diperbincangkan. Sehingga, pendidikan seksual terhadap masyarakat terutama anak-anak menjadi terabaikan. Tidak jarang anak-anak dan remaja mencari tahu soal seks melalui akses yang paling mudah mereka gunakan, seperti internet dan perbincangan sesama teman.

“Tidak heran jika saat ini timbul pelbagai tindakan seksual yang salah dikalangan masyarakat terlebih remaja” Demikian ungkap Baby Jim Aditya, psikolog, saat diskusi dan bedah buku “Mengupas Seksualitas” karya Musdah Mulia, Rabu (15/4/2015).

“Karena orang tua bilang membincang seksualitas itu tabu. Jadi pendidikan seksual itu kabur” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Irwan Hidayana, Dosen Antropologi Universitas Indonesia menyatakan. Pada dasarnya memberikan pendidikan seksual terhadap anak itu penting dan perlu diajarkan sedini mungkin. Menurut Irwan, masyarakat yang menganggap tabu seksualitas disebabkan oleh beberapa faktor, seperti budaya dan pemahaman keagamaan.

“Penafsiran agama itu kan berdasarkan kondisi masyarakat, seharusnya saat ini penafsiran keagamaan sesuai dengan kondisi masyarakat” ungkap Irwan.

Dalam kesempatan tersebut, Irwan mengapresiasi Musdah Mulia yang telah berani membicarakan dan menulis buku “Mengupas Seksualitas” ini. Menurutnya, tidak mudah mengulas persoalan seksualitas seperti ini.

Sementara itu, Frenia Nababan dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) menyatakan, perspektif masyarakat tentang seksualitas perlu diubah. Pandangan masyarakat terkait bineritas seksual menganggap bahwa laki-laki harus berpasangan dengan perempuan, laki-laki mempunyai posisi lebih tinggi dari perempuan, laki-laki selalu lebih dominan, dll. Sehingga, perbincangan hak-hak seksual perempuan pun dianggap tabu. “Padahal, perempuan juga mempunyai hak-hak yang sama terkait seksualitas” ungkap Fre.

Fre menyatakan, buku Mengupas Seksualitas membahas hak-hak seksual bagi perempuan. Bahwa perempuan juga berhak berhasrat, berhak mendapatkan pilihan, termasuk mereka penyandang disabilitas pun punya hak.

Dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta, Pendeta Steve Suleeman, mengapresiasi penerbitan buku tersebut. Menurutnya, memang masyarakat kurang mengerti urgensi isu seksualitas. Jarang sekali yang memperbincangkannya, mungkin hanya ditempat tidur, itupun sambil berbisik-bisik. Namun, ia menegaskan bahwa isu seksualitas berkaitan erat dengan isu keadilan dan martabat manusia. Semua berhak untuk mendapatkan hak-hak seksualitasnya. Tegasnya.

1.118 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

16 − thirteen =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>