Buku Menghapal Al-Quran

Haruskah Teks-Teks Agama Dihafalkan?

Belakangan ini di tanah air kursus-kursus menghapalkan Al-Quran kian menjamur. Segala macam teknik ditawarkan dan dijajakan oleh tiap-tiap lembaga agar menarik minat masyarakat muslim menjadi Hafidz. Biar makin masif, pengiklanan pun jadi keharusan. Selembaran hingga poster-poster dipajang di ruang-ruang publik terlihat di beberapa sudut Ibukota.

Gairah keagamaan masyarakat di tanah air sebagaimana terlukis dengan banyaknya poster-poster ini di Ibukota memang membuat pasar tersendiri bagi beberapa kalangan. Maraknya lembaga-lembaga yang menawarkan masyarakat muslim menjadi Hafidz tidak bisa dipungkiri dari besarnya gairah muslim untuk mengenal kembali identitas keislaman.

Namun, adakah korelasi antara menghapal teks suci dengan peningkatan pemahaman agama seseorang? sebuah kritik pagi hari dari mahasiswa doktoral neurosains mungkin cukup menggigit. Mohamed Ghilan pada akun media sosial twitternya (@mohamedghilan) melontarkan kritiknya pada cara gairah keagamaan muslim.

Menurut pria kelahiran Arab Saudi ini menghapal teks-teks suci seperti Al-Quran maupun Hadits tidak langsung berkorelasi dengan kemantapan seseorang dalam beragama. “Memorizing books without understanding the content is no more special than a donkey carrying books on its back, (menghapalkan buku-buku tanpa memahami isinya tidak lebih baik daripada seekor keledai yang membawa buku-buku di punggungnya)” cuit Ghilan empat jam lalu.

Ghilan menyanyangkan semangat beragama umat Islam yang kurang tepat. “Too many Muslims believe that by memorizing a couple of texts that they can speak with authority about any topic, (Terlalu banyak muslim percaya bahwa dengan menghapal sejumlah teks mereka akan mampu secara otoritatif membahas topik apapun)” sindir pria keturunan Sudan-Yaman ini.

Bila pembaca kerap sesekali memperhatikan wacana di pengajian-pengajian mesjid. Anda akan bertanya-tanya secara serius mengenai pembahasan. Acapkali, sang ustadz di mesjid tertentu mengomentari isu-isu mengenai sains yang dicocokan dengan Al-Quran. Meskipun sosok yang bersangkutan tak memiliki kompetensi untuk membahas hal tersebut.

Lebih lanjut peminat diskursus teologi dan hukum Islam ini menilai pandangan sebagian besar umat Islam keliru mengenai relasi menghapal teks agama dengan kemampuan memahami agama. “You can get a parrot to repeat phrases. Memorizing traditional texts is not an indication you have a clue about what you’ve memorized, Anda bisa mengajarkan burung kakak tua untuk mengulangi frasa-frasa. Mengingat teks-teks tradisional tidak menjadi sebuah tanda anda memahami apa yang anda hapalkan,” twitnya.

Akankah semangat keberagamaan kita berhenti pada taraf mengingat teks-teks agama semata? atau lebih lanjut pada tataran memahami pentingnya kemanusiaan dalam beragama?

 

1.582 views

One comment

  1. memang Al-Quran faktannya teks, namun dalam konsep keimanan umat islam dalam melihat Al-Quran bukan hanya sekedar teks semata namun dalam pandangan umat islam adalah bagian dari kemukzizatan dan keimanan bagi uamt muslim, memang tidak ada jaminan bagi setiap orang yang hafal Al-qur’an akan faham isisnya kalau dia tidak belajar tentang isisnya, orang yang hafala saja belum tentu paham apa lagi yang tidak hafal, namun sanggat disayangkan pendapat yang disampaikan narasumber diatas dimana dia mengutip ayat Al-Jumu’ah ayat ke 5 diatas itu pembahasannya tentang kaum yahudi yang diturunkan kitab taurat bukan umat muslim, apa lagi narasumber mengambarkan itu hanya buku semata, sedangkan Al-Quran bukanlah buku biasa dan tidakbisa disamakan dengan buku biasa pada umumnya melainkan adalah mukzizat rosulullah. apa lagi dipermisalan terakhir nerasumber cendrung menghina para penghafal Al-Qur’an.

Leave a Reply to sani yo Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

four × 1 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>