Dubes Inggris Kunjungi ICRP

Duta Besar Inggris Kunjungi ICRP

JAKARTA, ICRP – Ada yang ditunggu staff Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Rabu (5/5). Ketua umum ICRP Ulil Abshar Abdalla sudah tiba pada pukul 10:30 WIB. Siapa gerangan yang ditunggu?

Pukul 11:15 Fortuner Hitam diparkir tepat di Jalan Cempaka Putih Barat XXI no. 34. Mobil ini bukan mobil biasa ditilik dari plat nomornya. Nampak jelas tertera kode CD (Corps Diplomatic) di Fortuner Hitam ini.

Ternyata, siang ini ICRP kedatangan tamu dari kedutaan besar Inggris. Tak tanggung-tanggung, duta besar (dubes) Moazzam Malik sendiri yang tiba di sekretariat ICRP. Lalu apa gerangan yang membuat dubes bersedia datang ke ICRP?

“Sepanjang perjalanan saya sebagai pejabat diplomatik di beberapa negara Asia Selatan, Timur Tengah, dan Asia Selatan, ekstrimisme agama menjadi masalah serius. Indonesia bagi saya lbih berhasil dibanding negara-negara di kawasan itu,” ucap sang dubes yang mengawali pembicaraan dengan memakai bahasa Indonesia.

Pria yang mengaku baru belajar bahasa Indonesia selama enam bulan ini menduga alasan relatif berhasilnya Indonesia menyoal hubungan agama dan negara adalah karena para pendiri bangsa dan budayanya yang toleran.

Ulil pun langsung mengamini kata-kata dubes Inggris yang ternyata merupakan seorang muslim ini. Selain dua poin di atas Ulil menambahkan, adanya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) adalah sangat penting bagi demokrasi dan hubungan antara negara dan agama. “Jika Anda melihat Mesir pada 2013 lalu, ini tidak terjadi di Indonesia pada saat reformasi dimulai. Karena kedua organisasi ini memliki jarak dengan politik,” akui Ulil.

Dubes Inggris ini  mencatat poin yang disampaikan menantu Gus Mus itu. Perbincangan pun nampak kian menghangat.

Meski ada kisah-kisah yang inspiratif dalam sejarah Indonesia mengenai hubungan agama dan negara, Ulil menceritakan perkembangan terkini. “Sejak 2005 ICRP dan lembaga-lembaga yang mempromosikan pluralisme mendapat serangan serius seperti serangan fisik maupun serangan verbal. Hal ini karena pada tahun itu MUI mengeluarkan fatwa haram terhadap pluralisme, sekularisme, liberalisme dan juga bahkan sekte yang minoritas di muslim Indonesia seperti Ahmadiyah dan Syiah,” ujarnya.

Moazzam mengaku permasalahan serupa juga terjadi di Inggris. Banyak kalangan muslim yang mengaku moderat di Inggris, namun acapkali ingin meniadakan yang lian. Selama ini, sambung Moazzam, pemerintah melakukan pendekatan keamanan yang secara biaya pun jelas mahal.

“Orang kerap mengatakan Islam mesti moderat, namun kata moderat menurut saya bermasalah. Karena siapa yang berhak mengatakan moderat?  bagi saya yang paling penting adalah menjadi toleran. Kita boleh merasa benar dengan keyakinan kita, namun pada akhirnya Tuhan lah yang berhak menentukan kita,” ujar Moazzam yang kali ini menggunakan bahasa Inggris.

Moazzam menilai Inggris pun mengatakan multikulturalisme Inggris memiliki banyak isu. Salah satu isu serius adalah mengenai ekstrimisme agama.

“Harapan saya kita bisa saling belajar untuk bukan saja mengani permasalahan ini, namun juga mencari solusi bagi muslim di negara-negara lainnya,” kata Moazzam penuh optimis.

Tanpa ragu, Ulil pun menyambung ujaran sang dubes. “Masalahnya memang Islam Indonesia tidak populer, jadi akan menyenangkan bagi kami jika seandainya Anda ketika kembali ke Inggris menjadi duta besar “islam indonesia”,” kata Ulil.

Moazzam nampak tersenyum atas ujaran ulil itu. “Nampaknya itu terdengar bagus,” jawab Moazzam singkat.

Pada pertemuan singkat ini Moazzam berharap pertemuan kali ini merupakan awal hubungan yang baik antara kedutaan besar Inggris dengan ICRP. Ia pun menawari ICRP beberapa kerjasama di kemudian hari jika ICRP berminat.

Tanpa menyatakan tahu bahwa Ulil adalah juga pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL), sebuah pernyataan sang dubes usai dialog cukup menarik. “Saya tidak keberatan sama sekali dikatakan sebagai seorang muslim liberal. Karena demikian lah cara pandang kebanyakan sufi di dunia Islam sebenarnya,” ujar politisi yang tak mau dianggap sebagai sufi ini.

Perbincangan kedutaan besar Inggris dengan ICRP berlangsung 1,5 jam. Dubes yang juga ditemani penasihat politiknya yang berkerudung biru muda itu pulang dari ICRP pada pukul 12:45.

 

795 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

5 × four =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>