Budhy Munawar Rachman (tengah)

Intelektual Islam Serukan Beragama dengan Cinta

JAKARTA, ICRP – Laporan Human Right Watch (HRW) beberapa tahun ke belakang menunjukan Indonesia telah gagal melindungi minoritas dari kekerasan atas nama agama atau etnis. Perkara ini menjadi awal bahasan yang diuraikan Peneliti The Asian Foundation Budhy Munawarkan Rachman dalam bedah buku “Membela Kebebasan Beragama” di Jalan Cempaka Putih Barat XXI no. 34, Jumat (8/5).

Dalam bedah buku yang turut mengundang Pdt. Albertus Patty ini, Budhy melihat alasan teologis tidak bisa dilepaskan dari munculnya kekerasan atas nama agama. Hal ini, lanjut Budhy, karena adanya pemahaman terhadap teks-teks agama yang  polemis secara tidak bijak. “Mestinya kita bijaksana dalam melihat ayat-ayat yang memungkinkan intoleransi,” ujar murid Cak Nur ini.

Selain itu, adanya pandangan dalam agama-agama semitik bahwa selain tiga agama besar selain mereka sebagai “agama bumi” bukan tidak menjadi masalah. “Sebagian besar kasus yang menimpa penganut agama-agama lokal disebabkan karena pandangan muslim atau kristen yang melihat adanya agama langit dan agama bumi,” ujarnya.

karena itu, Budhy menambahkan pentingnya masyarakat sipil untuk memahami alasan munculnya penyebaran kebencian. Kekerasan atas nama agama, sambung Budhy, bisa muncul dari cara beragama yang mengesampingkan rasionalitas.

Meski demikian, pria berkacamata ini meyakini  bahwa agama pun bisa menjadi pendorong perdamaian. Sore itu Budhy memberikan resepnya di hadapan 70 peserta diskusi. “Kita harus mengembangkan beragama dengan cinta. Kalau mau lawan kekerasan agama maka kembangkan cinta kasih dalam agama,” kata Budhy.

Budhy pun menggarisbawahi fenomena takfirisme di masyarakat. Bagi Budhy istilah kafir dan murtad harus ditinggalkan dalam teologi. Solusinya, kata Budhy perlu dikembangkan teologi yang lebih pluralistik.”ini (takfirisme) warisan teologi ekslusif. padahal kita tidak punya hak untuk menyesat-nyesatkan orang,” ucap Budhy.

“Menjadi religius dewasa ini adalah menjadi interreligious,” tegas Budhy.

Pada kesempatan diskusi di sekretariat ICRP ini, Budhy pun menceritakan perjalanan dalam membuat buku “Membela Kebebasan Beragama”. “Waktu awal didiskusikan ada sekelompok orang protes kenapa tidak ada yang mewakili Islam?” kata Budhy meniru tanya dari kalangan Islam marah.

“Bukan tidak mewakili Islam, namun buku ini hanya butuh dari Islam yang ramah,” ucap Budhy.

1.176 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

19 − 8 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>