Dubes Selandia Baru Dr. Trevor Matheson (tengah)

ICRP Berbincang soal Pluralisme dengan Dubes Selandia Baru

JAKARTA, ICRP – “We have no perfect society, but we have a caring society,” ucap Dr. Trevor Matheson dalam pertemuan dengan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) di kedutaan besar Selandia Baru, Kamis (21/5). Demikian ujaran manis yang duta besar ini sampaikan pada staff ICRP dalam menggambarkan karakter masyarakat Selandia Baru menyoal multikulturalisme.

“Selandia Baru memiliki perhatian mendalam terhadap isu-isu seputar pluralisme karena memiliki sejarah panjang dialog dengan etnis Maori,” kata Lelaki berambut putih ini. Sejak tahun 1970, sambungnya, Selandia Baru telah mengadopsi semangat perlindungan pada etnis Maori.

Sebagai informasi suku Maori yang terdiri lebih dari 58 sub-suku ini merupakan etnis asli Selandia Baru. Sejak tahun 70, pemerintah Selandia Baru membuat peraturan yang mendorong suku Maori agar lebih berdaya dalam kancah sosial, ekonomi, dan politik.

“Memang ada perdebatan di ruang publik soal adanya perhatian khusus pada suku Maori jika bicara kesetaran. Namun, argumentasi penghormatan terhadap penduduk asli Selandia Baru menjadi pandangan umum masyarakat Selandia Baru,” ujar Dr. Trevor. Dubes ini juga mengakui beberapa stafnya bahkan mampu berbahasa Maori. “Etnis Maori adalah etnis yang dihormati di Selandia Baru,” ucapnya dengan bangga.

Atas dasar itu, lanjut Dr. Trevor, Selandia Baru menilai penghormatan keberagaman  menjadi isu yang penting. “Jika Anda ke universitas-universitas di Selandia Baru sudah menjadi umum terdapat ruangan ibadah bersama atau bahkan mesjid-mesjid,” aku sang dubes.

Selain itu, Dr. Trevor juga menyinggung wajah keislaman di Indonesia. Duta Besar yang sempat ditugaskan di Arab Saudi ini mengaku bahwa corak keislaman di Indonesia lebih moderat daripada yang berlaku di Arab Saudi. “Meski memiliki sejumlah persoalan, namun saya kira nuansa keislaman di Indonesia lebih moderat daripada Wahabi di Arab Saudi,” tutur Dr. Trevor.

Ketua Umum ICRP Ulil Abshar Abdalla sejalan dengan pandangan sang dubes. Menurutnya, wajah asli Islam Indonesia memang lekat dengan kultur yang toleran. Meskidemikian, sambung Ulil, beberapa persoalan nampak kian kelihatan pasca reformasi. “Ada permasalahan seperti masih adanya diskriminasi pada para penganut agama lokal dan kekerasan atas nama agama menjadi tantangan bagi kami,” kata Ulil.

Melihat realita pasca reformasi ini, Ulil menilai adanya lembaga yang berfungsi sebagai konsorsium umat dari pelbagai agama seperti ICRP ini kian dibutuhkan eksistensinya. Siang itu, menantu Gus Mus ini menerangkan serangkaian program yang sempat dijalankan ICRP dalam meningkatkan semangat saling memahami antar umat beragama.

Dubes yang baru bertugas sejak Maret lalu ini nampak senang mendengar paparan dari Ulil. Berkali-kali nampak senyum terlintas di wajahnya. Dr. Trevor pun mengapresiasi kerja-kerja ICRP selama ini dalam mendorong semangat keberagamaan yang lebih plural. Ia pun berharap dapat bekerjasama dengan ICRP dalam kesempatan mendatang.

Selain Ulil Abshar Abdalla, dari ICRP pun turut ikut siang ini adalah Direktur Pelaksana ICRP Mohammad Monib dan Manager Program “Mas Bobby”. Ngobrol-ngobrol dengan dubes Selandia Baru ini pun diakhiri dengan berfoto bersama.

“Kalau bisa nanti rambut saya kelihatan hitam atau coklat ya,” ujar dubes sambil tertawa.

1.785 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

3 × five =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>