Dinamika Agama Lokal di Indonesia

nurcholish1

Oleh: Ahmad Nurcholish

“…Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo beberapa hari lalu mendaskan bahwa penganut Penghayat Kepercayaan dibolehkan mencantumnkan identitas keyakinannya di kolom KTP…”

Agama lokal sejatinya merupakan kenyataan sejarah yang tak terbantahkan oleh siapa pun dan generasi kapan pun. Sayangnya, dalam perjalanan dan pergumulan sejarah pula nasib agama lokal ini tak sepenunya mengggembirakan, bahkan cenderung memprihatinkan. Pendulum politik dan kebijakan negara tak sepenuhnya mampu merawat dan meruwat keberadaan agama yang sejatinya kaya dengan kearifan lokal (local wisdom) yang sangat berguna bagi warga penganutnya maupun masyarakat umum lainnya.

Data Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2003, sebagai dinukil oleh laman Wikipedia, mengungkapkan, ada sebanyak 245 aliran kepercayaan yang terdaftar dengan jumlah penganut sebanyak 400 ribu jiwa. Abdur Rozak, peneliti dan penulis Teologi Kebatinan Sunda, menyebutkan bahwa aliran kepercayaan yang paling banyak penganutnya adalah Agama Buhun yang ada di Jawa Barat. Jumlah pemeluknya mencapai 100 ribu orang atau 25% dari jumlah penganut aliran kepercayaan secara keseluruhan. (id.wikipedia.org ).  Agama lainnya antara lain adalah: Sunda Wiwitan di Kuningan-Jawa Barat; Kejawen di Jateng; Parmalim (Sumatra Utara); Kaharingan (Kalimantan); Tonaas Walian (Minahasa-Sulut); Tolottang (Sul-Sel); Aluk Todolo (Toraja); Wetu Telu (Lombok, NTB); Kapribaden di sejumlah daerah di Jawa; dan Naurus di Pulau Seram provinsi Maluku.

Sayangnya, nasib (penganut) agama lokal di Indonesia tak selamanya mujur. Tekanan dan diskriminasi dari berbagai pihak selalu menyandra bahkan mengkibiri mereka sehingga tak mampu berkembang lebih mekar. Sejumlah agama lokal lainnya bahkan ditengarai telah “lenyap” karena para penganutnya hijrah memeluk agama impor seperti Islam, Kristen atau Katolik. Tekanan bisa datang dari masyarakat sekitar yang (telah) menganut agama maenstrim di negeri ini dengan cara ‘mengintimidasi’ agar masuk ke agama yang dianut mayoritas masyarakat, juga datang dari kebijakan pemerintah yang tidak mengakomodir keberadaan penganut agama lokal ini. Kebijakan yang ada cenderung diskriminatif dan berdampak negatif bagi penganut agama leluhur tersebut.

Oleh karena itu menjadi penting untuk melihat secara jernih dan arif keberadaan agama-agama lokal ini yang kesemuanya pada umumnya mengandung nilai-nilai luhur yang juga tercermin dalam ajaran agama-agama impor yang kemudian banyak dianut oleh mayoritas  masyarakat bangsa ini. Dalam agama-agama lokal juga mengajarkan untuk senantiasa berbuat baik pada sesama, hidup berdampingan dalam masyarakat majemuk, dan menghargai serta menghormati keberadaan kelompok atau penganut agama lain yang berbeda.

Dalam  bagian ini penulis hendak mendedahkan apa itu agama lokal dan sebagian ajarannya, bagaimana kebijakan negara mengatur keberadaan mereka dan bagaimana pula dinamikanya dengan penganut agama maenstrim yang kerap memantik segregasi dan diskriminasi. Tujuannya tentu agar kita mampu melihat fakta keragaman sosial secara arif dan bijaksana serta menempatkan seluruh komponen masyarakat yang berbeda keyakinan itu dalam koridor hukum yang setara.

Agama, Budaya atawa Adat?

Dalam kamus bahasa tentu ketiga istilah ini memiliki arti dan definisi yang berbeda. Namun dalam konteks agama lokal ketiganya bisa (di)sama(kan). Oleh kelompok yang kontra, para penghayat kepercayaan dinilai tidak memeluk agama tertentu seperti Islam, Kristen, Hindu, Buddha atau pun Khonghucu. Mereka disepadankan dengan penganut adat atau budaya tertentu yang diyakini secara turun temurun. Karena itu perlu kiranya menelaah kembali devinisi agama yang digunakan dalam studi keagamaan. Definisi agama secara ringkas dapat disebut sebagai definisi 4 Cs. (Leonard Swidler and Paul Mojzes, The Study of Religion in an Age of Global (Philadelphia: Temple University Press, 2000).

Keempat Cs tersebut adalah creed, code, cult dan community.

(1)   Creed: kepercayaan  tentang sesuatu yang secara mutlak dianggap benar bagi kehidupan manusia. Kebenaran itu dapat berbentuk dewa atau Tuhan atau Ilah, akan tetapi juga dapat berbentuk yang bukan itu, seperti misalnya gagasan, kesenangan, dan sebagainya.

(2)   Code: pedoman tata tindak (perilaku) yang timbul akibat adanya kepercayaan di atas. Maksudnya, tindakan manusia terjadi berdasarkan pemahaman atas kepercayaan di atas. Tindakan-tindakan ini termasuk dalam kategori tindak etis.

(3)   Cult: upaya manusia untuk menyelaraskan dirinya dengan yang dipercayai itu, baik sebagai cara untuk memahami kehendak-Nya atau meperbaikin kembali kesalahan manusia yang tidak sesuai dengan kehendak kepercayaan tadi.

(4)   Community: adanya kenyataan suatu umat (paguyuban, perkumpulan) yang terikat dalam kepercayaan, tindakan etik dan kultus tadi.

Dengan demikian, budaya maupun adat istiadat yang melekat dalam kepercayaan sebuah komunitas atau masyarakat yang memiliki keempat ciri tersebut bisa dikatakan sebagai agama, meski oleh penganutnya sendiri tidak menyebutnya sebagai agama. Maka, adat Sunda Wiwitan dapat disebut sebagai agama Sunda Wiwitan. Begitu pun dengan agama Parmalim, agama Wetu Telu, dan seterusnya. Dalam konteks ini pembedaan antara agama, budaya dan adat menjadi tidak relevan.

Mengacu pada definisi di atas sejatinya agama-agama lokal pun memiliki keempat ciri tersebut. Karenanya tidak ada alasan untuk tidak menyebut bahwa para penganut penghayat kepercayaan juga dapat dikatakan sebagai pemeluk agama. Dengan kata lain Sunda Wiwitan, Parmalim, Wetu Telu, dan juga Tolotang bisa disebut sebagai agama yang memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang dan  tidak layak untuk didiskriminasi. [ ]

Ahmad Nurcholish, Ketua Divisi Pendidikan Kebhinekaan dan Perdamaian ICRP

2.620 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

four + eight =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>