Syafiq Hasyim (kanan) Pdt. Nelman (tengah) Achmad Nurcholish (kiri) membahas mengenai urgensi studi agama dan perdamaian dalam Sekolah Agama ICRP

Kuliah Pertama, Sekolah Agama dan Perdamaian ICRP Dihadiri 40 Siswa

JAKARTA, ICRP –  Pertemuan Sekolah Agama kali pertama Jumat (22/5) dengan tema “Urgensi Studi Agama dan Perdamaian” nampak terlihat padat. Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) yang mendaulat Syafiq Hasyim dan Pdt. Nelman A. Weny dalam kelas kali ini ternyata mampu menarik 40 siswa untuk hadir pada pukul 19.00 WIB.

Berlaku sebagai moderator kelas, Achmad Nurcholish menyodorkan panggung pertama untuk Syafiq Hasyim. Diberi kesempatan pertama, direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP) langsung tancap gas.

“Memang agama ini aneh diserang berabad-abad, tapi tetap eksis saja. Seolah tak kehilangan daya pesonanya,” ujar Syafiq mengawali diskusi. Menurut Syafiq Hasyim meski sempat di Perancis agama dibenci orang namun, lambat laun agama mewujud dalam bentuk lain.

“Sepanjang waktu agama adalah sesuatu meski tak nampak…berbagai prediksi agama akan jadi urusan privat atau tak lagi menjadi pertimbangan politik terbukti salah,” kata Syafiq Hasyim.

Seusai memberikan kilasan mengenai agama, mantan pengurus PCINU Jerman ini langsung  mengenai perkembangan studi mengenai agama di Barat. Menurut Syafiq Hasyim perkembangan studi mengenai agama di Barat pada awalnya tidak berbeda jauh dengan di dunia Islam hari ini. “Apapun faktanya harus sesuai dengan doktrin agama. Demikianlah yang berkembang di studi-studi teologi dulu di Eropa,” ucap Syafiq.

Kondisi ini, lanjut Syafiq, membuat adanya kritikan terhadap studi-studi teologi yang pada ujungnya melahirkan sebuah studi baru pada abad ke-19 dengna nama religious studis. Religious Studies, kata Syafiq, tidak belajar mengenai asumsi teologi namun dari bukti-bukti empiris.

Namun, pada awal-awal munculnya religious studies di eropa terjadi polemik cukup keras. “Ketika religious studies didirkan di universitas-universitas terjadi banyak tentangan dari kalangan pengstudi teologi. Salah satu alasannya karena persoalan anggaran,” tutur intelektual muda Nahdlatul Ulama ini.

kerasnya persaingan antara kedua studi ini, kata Syafiq Hasyim, acapkali dinamai Siblings Rivalry.

Ketika Religious Studies berkembang di Barat, hal berkebalikan justru terjadi di Timur, terutama di dunia Islam. “Di Dunia Islam Religious Studies tidak berkembang, yang ada hanya perbandingan agama yang sebetulnya membandingkan Islam dengan agama lain, namun pada posisi yang tidak setara,” ujar Syafiq

“Nah makanya sehebat apapun belajar teologi di kampus, sebelum kuliah di ICRP, ya….” ucap Syafiq sambil tersenyum.

25 menit kemudian, tibalah giliran Pdt. Nelman A. Weny. Memulai sesinya, Pdt. Nelman menyatakan sebuah aksioma. “Kita tak bisa menolak bahwa kita hidup di satu bumi dengan terdiri dari banyak agama-agama,” ucap pdt. Nelman.

Pdt. Nelman pun memberikan sebuah paradoks dalam hubungan agama dengan dunia. “Tiap kali agama dipakai dengan cara kaku, maka ia akan kian ditinggalkan. Namun semakin ia mendekatkan diri dengan dunia, maka ia akan mengalami krisis identitas,” ujarnya.

Selain itu, Pdt. Nelman menyoroti mengenai adanya perlakuan negara yang diskriminatif pada agama non 6. “Meski seolah ada 6 agama formal di republik ini, tapi saya yakin semua agama-agama telah diakui oleh Tuhan,” ucap pemuka agama kristen ini.

 

2.023 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

four + 7 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>