Pengantar menuju Urgensi Studi Agama dan Perdamaian

 

Oleh :

Syafiq Hasyim, Dr. Phil (Direktur ICIP dan Pengajar Departemen Hibungan Internasional, FISIP, UIN Jakarta).

 

Pengantar

Saya berasumsi bahwa yang dimaksud dengan judul di atas yang berkaitan dengan Studi Agama dan Studi Damai adalah terjemahan dari istilah “religious studies” dan “peace studies.” Keduanya adalah istilah akademis.Karenanya, ketika menafsirkan kedua istilah tersebut, mau tidak mau kita harus merujuk konvensi yang disepakati di dalam dunia akademis tentang kedua istilah tersebut.Tulisan ini akan melihat urgensi Sudi Agama (religious studies) and Studi Damai (peace studies)dalam kacamata historis dan akademis sesuai dengan wacana yang berkembang di lingkungan akademik.

 

Studi Agama

Perkiraan bahwa agama tidak kehilangan perannya adalah terkait dengan maraknya konflik dan kekerasan berbasis agama. Menarik untuk mengutip David Little dan Scott Apbleby mengapa agama masih bertahan sampai sekarang: “During our lifetime, religion has been anything but invisible. Predictions that it would become privatized, removed from the sphere of politics, economic development, warfare, and education, have proven false,”sepanjang umur kita, agama sudah menjadi segalanya tapi tidak nampak. Ramalan-ramalan bahwa agama itu akan terprivatisasi, bergeser dari lapangan politik, pembengunan ekonomi, perang dan pendidikan, telah terbukti salah (Little & Appleby, 2004, h. 1).Di sini jelas, terlepas dari dampak negatif dan positif dari agama itu sendiri tapi kenyataan agama masih menjadi “vital element” dalam lapangan publik (public sphere).Karenanya, kajian-kajian yang berkaitan dengan agama tidak surut tapi semakin banyak.

 

Bagaimana perkembangan Studi Agama?Studi Agama dimaksud bukan istilah yang bisa dimaknai sebagai belajar agama dalam pengertian umum seperti fenomena majlis taklim untuk kasus Islam dlsb. Studi Agama, meskipun bagus maknanya secara bahasa, mengundang perdebatan yang seru khususnya di dunia Barat. Pada universitas-universitas Eropa abad pertengahan, Studi Agama (religious studies) dianggap sebagai “queen of the sciences” (ratu ilmu), namun itu dipandang dilematis pada akhirnya ketika terjadi pergeseran dengan maksud “religious studies.” Hal ini misalnya terlihat dalam tradisi akademik Jerman dalam menempatkan “religious studies” di antara dua departemen; pertama, departemen Teologi yang biasanya mengkaji Perjanjian Lama dan Baru dalam perspektif Kekristenan, kedua, departemen Filologi dan Etnologi –sebagaimana tradisi kaum Orientalis—yang cenderung berakar dalam studi-studi humaniora. Di banyak universitas di Jerman, studi agama menjadi bagian tradisi humaniora. Rudolf von Roth,  seorang indologis dan orientalist, 1821-1895, biasa menyampaikan kuliah “Allgemeinen und Vergleichenden Religionswissenschaft” (Studi Agama Umum dan Perbandingan) di Universitas Tuebingen yang berbeda dengan pendekatan teologi. Friendrcih Max Mueller adalah pengasal studi perbandingan agama (Vergleichenden Religionswissenschaft) juga melakukan hal yang tidak berbeda.

 

Secara historis, kajian agama terutama di banyak universitas di Barat maupun Timur Tengah adalah kajian teologi.Fakultas atau departemen mereka mengkaji agama mereka sendiri. Di Eropa, departemen teologi adalah khusus mengajarkan teologi Katolik atau Protestan. Karenanya, ketika ada kecenderungan baru muncul dalam religious studies ini dianggap memunculkan rivalitas antara teologi pada satu dan kajian agama pada sisi lain. Reinhold Bernhardt menyebut persaingan antara teologi dan studi agama dengan istilahsibling rivalry (persaingan saudara kandung).Pada mulanya, kajian agama diintegrasikan ke dalam teologi sebagaimana yang dilakukan oleh Fakultas Teologi di Goettingen.Kalangan sarjana yang tertarik dalam kecenderungan ini menggunakan agama dan kebudayaan Yahudi Kuno Babilonia, Persia dan Helenisme untuk melihat Bibel.Ini mereka lakukan agar mereka mendapatkan pemahaman yang mendalam soal teks-teks suci Kekristenan. Ernst Troeltsch, seorang teolog dari madzhab sejarah agama (Religionsgesichtlichen Schule) menyatakan makna tertinggi dari sejarah agama dalam teologi.Semantara Karl Barth dari Gerakan Teologi Dealektik menyatakan jika studi agama itu hal yang “irrelevant” dengan teologi. Kajian teologi itu fokus pada soal wahyu dan agama dipahamai sebagai “epitome” manusia pendosa sementara “religious studies” menyoal perjuangan manusia menuju transendensi karena letaknya adalah di bidang humaniora.

 

Joachim Wach mengklaim “religious studies” sebagai disiplin independen.Sejak 1924, dia membuat garis batas tegas antara teologi dan ilmu agama (science of religion, Religionswissenschaft).Dipengaruhi oleh Max Weber, ilmu tentang “empirical science” dia menempatkan ilmu agama sebagai ilmu yang melihat fenomena agama atau bagian agama yang empiris.Dia mengkritik Madzhab Sejarah Agama yang lebih menekankan pada Kekristenan dan melokalisasi sejarah agama ke dalam teologi.Wach menyatakan “religious studies” harus netral, tidak berposisi dan tidak normatif.Metodologi “religious studies” harus berjarak termasuk pada sikap keberagamaan yang dianutnya dengan hal yang ditelitinya.

 

Pada tahun 1988, Hans Jürgen Greschat, pengajar Sejarah Agama di Universitas Marburg menulis “Was ist Religioonswissechaft?” yang isinya membuat batas “religious studies” dan teologi dimana yang pertama membangun disiplin berdasarkan kategori dan standard sendiri sementara teologi berdasar pada tradisi Kekristenan. Hal yang menarik dari yang dinyatakan bahwa jika Studi Agama itu dilakukan oleh teolog Kristen, maka fenomena non-Kristen akan diasimilasikan ke dalam kerangka harmeneutika Kekristenan (h. 966). Greschat lebih lanjut menyatakan pergeseran metodologis dalam Studi Agama dari pendekatan fenomenologis ke pendekatan analitis kebudayaan, jurang yang memisahkan “persaudaraan” antara Teologi dan Studi Agama semakin menganga.

 

Di banyak negara di Eropa, karena kemerdekaan Studi Agama dari teologi, banyak “professorship chairs” meninggalkan fakultas Teologi menuju Chairs dalam bidang “religious studies” di bawah Fakultas Humaniora dan Sejarah. Mereka yang meninggalkan fakultas Teologi tidak meninggalkan begitu saja tapi disertai dengan kritik yang dalam “tempat mereka sebelumnya” dengan mengatakan fakultas Teologi adalah “ideological enterprise” yang kehilangan integritas saintifik. Kritik ini dilontarkan bukan semata persoalan akademis, namun dilatarbelakangi oleh rivalitas keduanya dalam mendapatkan “budget” departemen mereka masing-masing dari pihak universitas.

 

Apa yang ingin saya gambarkan di atas dengan meminjam sejarah terbentuk Studi Agama di universitas-universitas Eropa, khususnya, tradisi Jerman, adalah kejelasan perjalanan dari sebuah disiplin ilmu.

 

Lalu bagaimana dengan sejarah Studi Agama di lingkungan akademik Islam?Sepanjang pengetahuan saya, Studi Agama dalam pengertian Barat di atas, tidak terjadi di dalam tradisi Islam.Di dalam tradisi Islam, pembicaraan tentang agama lain sudah dimulai dari al-Qur’an. Dalam tradisi kesarjanaan Islam, karya-karya al-Yaʿqūbī (w. 923) dan al-Masʿūdī (w. 956 atau 958) sudah menyentuh keberadaan keyakinan dan agama lain. Kisah-kisah perjalanan, dalam dunia akademik Barat disebut travel accounts, sebelum kedua sarjana di atas juga disinggung, diberikan seperti oleh Ibn Fadlān (melakukan perjalanan pada tahun 921-922) dan Abū Dulāf Misʿār(w. 942). Bahkan ada beberapa kisah perjalanan yang anonim seperti Kitāb al-akhbār al-Sin wa al-Hind (851) dan Kitab al-ʿajāʿib al-hind (950). Diceritakan pula banyak buku yang memuji agama-agama non-Islam. Ibn Nadim menulis kitab Fihris, 987-990 yang menjelaskan ketertarikan Islam atas agama lain. Kitab ini memuat laporan soal Zarahustra dan Manichean.Buku Ibn Nadim ini dianggap berjasa besar dalam kajian sejarah agama dalam tradisi Islam. Al-Masʿūdi (w. 956) dalam Murūj al-dhahāb juga berjasa dalam studi agama lain. Meskipun bernada polemis, Ibn Ḥazm, seorang pengikut Dawūd al-Ẓahirī (l. 994), turut berkontribusi menulis kitab Kitāb al-fisal (al-fasl) fī al-milāl wa al-ahwā’ wa al-niḥal di sekitaran 1027 dan 1030.Kitab ini berisi dua hal penting; pertama, ajaran agama-agama non-Islam dan kedua, sekte-sekte di dalam Islam.Kitab ini menolak kitab orang Kristen dan Yahudi. Semua penolakan Ibn Ḥazm atas Yahudi dibalas oleh Ibn al-Nagrīla (933-1056) dan Salomo ibn Adret (w. 1310) (Waardenburg, 1999, h. 26). Al-Bīrūnī (l. 973) juga menulis Kitab al-tārikh al-hind.Berbeda dengan Ibn Ḥazm yang bernada polemis, al-Bīrūni menuliskan tentang sejarah Hindu dengan pendekatan diskriptif.Dia berhasil menjaga jarak dengan bahan-bahan yang ditelitinya. Setelah al-Bīrūni muncul al-Sharastānī (1086) melalui al-Milal wa al-niḥāl. Buku ini menjadi klasik karena kelengkapan sumber informasinya tentang pelbagai agama, keyakinan (ahwāʿ) dan aliran dalam Islam.

 

Warisan Studi Agama yang beragam dan kaya nampaknya tidak mengalami perkembangan bahkan bisa dikatakan mengalami penyempitan.Di banyak universitas di dunia Islam, kajian agama direduksi menjadi kajian Islam (Dirāsāt Islamiyyah).Studi Agama (Dirāsāt Diniyyah) tidak mengalami perkembangan. Artinya, secara paradigmatik, jika studi atas agama-agama lain dilakukan pada universitas dan pusat-pusat studi Islam, maka pendekatannya masih seperti pendekatan kajian Teologi sebagaimana yang terjadi pada abad-abad lalu di dunia Kekristenan.

 

 

Studi Damai

Damai atau perdamaian adalah ujaran semua agama.Islam menyatakan agama al-silm (damai), Kristen menyatakan sebagai agama kasih sayang, dan juga di dalam agama-agama yang lainnya. Namun apa sesungguhnya konsep damai menurut agama itu ketika banyak juga tindakan semena-mena dan kekerasan yang mengatasnamakan agama. Para sarjana agama dan juga kleriknya selama ini tidak mampu untuk menjelaskan apa sesungguhnya yang dikehendaki dengan damai dalam agama itu. Jika ada segala bentuk tindakan yang menjadi lawan damai terjadi, mereka sibuk mencari justifikasi diskursif dengan cara menampilkan sisi-sisi doktrinal agama yang menolak konflik, kekerasan, perang dlsb.Cara baca mereka adalah apa yang seharusnya terjadi secara doktrinal, bukan pada apa yang terjadi di lapangan dan apa yang doktrin agama harus lakukan. Di sini letak penting“peace studies” dalam memberikan kontribusinya.Dia berangkat dari kenyataan-kenyataan di lapangan (empirical evidences) untuk mencari penyelesaian atas suatu masalah.

Sesungguhnya, kesulitan untuk mendefinisikan damai itu diakui oleh para teoritisi dalam bidang “peace studies.” Charles Webel yang menjadi penyunting buku penting dalam kajian damai dan konflik, Handbook of  Peace and Conflict Studies, bersama Johan Galtung,(2007) menyatakan, “peace’, like many theoretical terms, is difficult to define. But also like ‘happiness’, ‘harmony’,‘love’, ‘justice’ and ‘freedom’, we often recognize it by its absence,” damai, seperti terma-terma teoritis lainnya, adalah hal yang sulit untuk didefinisikan. Akan tetapi sebagaimana juga kebahagiaan, keharmonisan, cinta, keadilan dan kebebasan, kita sering kali mengenalinya karena ketidakadaannya.”(Webel, 2007).

 

Namun pada umumnya, damai itu selalu dikaitkan dengan absence of violence and the absence of war, damai itu adalah tidak ada perang dan tidak ada kekerasan.Dalam pengertian Johan Galtung definisi ini disebut sebagai Damai Negatif (negative peace).damai ke dalam dua sisi, damai positif dan damai negatif.Apa yang kita cari bukan hanya damai dalam pengertian yang demikian (Hobbesian), tapi damai adalah proses dealektika, “peace is both a means of personal and collective ethical transformation and an aspiration to cleanse theplanet of human-inflicted destruction,” damai adalah cara tranformasi perseorangan dan kolektif dan sebuah aspirasi untuk membersihkan planet pengrusakan oleh manusia.

 

Sama halnya dengan kontroversi keilmuan Studi Agama, status keilmuan Studi Perdamaian juga diperdebatkan cukup lama tentang “peace studies” ini apakah dia bisa dikategorikan sebagai sebuah disiplin ilmu ataukah masih berupa kecenderungan pengetahuan saja. Sebuah direktori global tentang “peace studies” yang dikumpulkan oleh PJSA (The Peace and Justice Studies Association) and IPRA (International Peace Research Association) mendaftar 450 tingkat S1 dan konsentrasi jurusan untuk tingkat Master dan Doktor di 40 negara di dan secara khusus di 38 negara bagian Amerika. Ini jumlah yang tidak bisa diremehkan, namun harus diakui jika studi perdamaian ini tergantung pada disiplin-disiplin yang lain.

 

Terlepas dari persoalan di atas, namun harus diakui jika studi tentang sebab-sebab perang dan konflik pada satu sisi dan bagaimana strategi jangka panjang untuk untuk prevensi dan penghentian perang dan konflik mengalami peningkatan (Alger, 2007, p. 299).

 

Soal urgensi

Jika ditanya secara singkat, berdasarkan catatan di atas, maka urgensi Studi Agama dan Damai maka ada beberapa hal sebagai berikut:

  1. Studi Agama memberi masukan kepada kita untuk melihat secara jernih mana aspek sakral dan non-sakral dalam agama.
  2. Studi Agama membuka cakrawala akan dimensi yang luas akan agama dan sekaligus menanamkan self-criticism pada diri kita masing-masing tentang ajaran agama kita sendiri.
  3. Perbandingan Teologi (Comparative Theology) tadinya dijadikan sebagai jembatan untuk menanamkan kesalingpengertian antara keyakinan-keyakinan yang ada, namun disiplin ini dianggap gagal karena perspektif metodologisnya masih bersifat eklusif.
  4. Studi Perdamaian sudah barang tentu sangat penting, bukan karena semata-mata karena banyaknya konflik dan kekerasan yang terjadi, akan tetapi untuk kepentingan kematangan disiplin ini sendiri.
  5. Secara practical, Studi Perdamaian akan membantu memetakan, mengurai dan mencarikan jalan keluar soal potensi kekerasan dan kekerasan itu sendiri. Model kekerasan sebagaimana kita tahu semakin variatif dan “diverse,” karena itu “Peace Studies” diharapkan mampu menjawab tantangan ini. Secara karakter, Peace Studies berbeda dengan Religious Studies dimana yang kedua itu lebih banyak dipicu kematangannya oleh perdebatan-perdebatan diskursif, yang pertama dipicu oleh peristiwa-peristiwa kekerasan.

 

Alger, C. F. (2007). Peace studies as a transdisciplinary project. In C. Webel & J. Galtung (Eds.), Handbook of Peace and Conflict Studies (pp. 299–318). London & New York: Routledge.

Little, D., & Appleby, S. (2004). A Moment of Opportunity? The Promise of Religious Peacebuilding in an Era of Religious and Ethnic Conflict. In H. Coward & G. S. Smith (Eds.), Religion and Peacebuilding (pp. 1–26). Albany: State University of New York Press.

Waardenburg, J. (1999). Muslim Perceptions of Other Religions: A Historical Survey. New York & Oxford: Oxford University Press.

Webel, C. (2007). Introduction Toward a philosophy and metapsychology of peace. In C. Webel & J. Galtung (Eds.), Handbook of Peace and Conflict Studies (pp. 3–13). New York & London: Routledge.

Webel, C., & Galtung, J. (Eds.). (2007). Handbook of Peace and Conflic Studies. New York & London: Routledge.

 

 

 

 

 

2.423 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

5 × 5 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>