Ulil (kedua dari kiri) dalam bedah buku "menyoal agama-agama pra islam"

Ketua Umum ICRP Apresiasi Disertasi Intelektual Muda NU Cirebon

JAKARTA, ICRP – Dalam bedah Buku “Menyoal Agama-Agama Pra-Islam”, Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Ulil Abshar Abdalla mengapresaisi kerja intelektual Dr. Sa’dullah Affandy. Buku yang berasal dari disertasi tokoh muda Nahdlatul Ulama ini, kata Ulil, merupakan kerja penting bagi upaya mendorong toleransi antar umat beragama.

“Usaha pak Sa’dun (panggilan Dr. Sa’Dullah Affandy) patut diapresisasi sebagai upaya mempromosikan harmoni antr umat beragama,” ucap Ulil, Kamis (28/5).

Menurut Ulil posisi akademis yang diambil Sa’dun cukup berani. “Pada umumnya, hampir semua ahli fiqh di dunia Sunni menerima Nasakh (abrogasi) baik itu intra maupun ekstra Quran, pandangan semacam ini sudah pasti minoritas” ujar Ulil.

Sebagai informasi, dengan penerimaan konsep nasakh yang ekstra quranik maka ini berarti bahwa Islam telah menghapus agama-agama praIslam seperti Yahudi dan Kristen. Posisi yang diambil Dr. Sadullah Affandy justru berbeda dari itu. Sa’dun beragumen bahwa reward di hari kelak bukan ditentukan agama apa. “Seseorang mendapat reward dari Tuhan yang penting adalah beriman kepada Tuhan, beramal Shalih, dan percaya hari akhir,” ucap Sadun sebelum yang juga berlaku sebagai pembicara siang itu. Argumen yang diambil Sadun berasal dari salah satu ayat di Quran pula.

Meski pandangan kebanyakan ahli fiqh demikian, Ulil menduga kemungkinan pandangan untuk menolak konsep abrogasi ekstra quranik atau agama lain lebih besar. “Nasakh agama satu terhadap lain relatif tidak terlalu banyak dibicarakan…karena memang dalam literatur klasik masih jarang dibahas,” ucap Ulil.

Secara pribadi menantu Gus Mus ini sepakat dengan pandangan tokoh muda NU Cirebon ini. “Kedatangan Islam tidak bisa dianggap sebagai pembatalan terhadap agama-agama sebelum Islam,” kata Ulil.

Abrogasi, sambung Ulil, merupakan salah satu konsep yang digunakan para ahli fiqh untuk memahami Quran secara harmoni. Pasalnya, Ulil meyakini sebagian ulama merasa ada kontradiksi dalam teks Quran. “Apa tujuan nasakh? karena ada persepsi bahwa di Quran memiliki kontradiksi.” tutur Ulil. Pada kesempatan itu, Ulil pun menerangkan beberapa eksperimen ulama fiqh menyelesaikan persoalan ini.

Posisi akademis Sadun, kata Ulil, memang menantang sebagian besar wacana yang dipegang muslim dewasa ini. Pandangan semacam Sadun ini, menurut Ulil cenderung mempromosikan harmoni antar umat beragama.”Sekarang ini kita berhadapan dengan pendapat-pendapat yang mempromosikan percekcokan antar uma beragama. Memang pendapat yang mendukung nasakh lebih marketable,” ucap sosok kontroversial ini.

Ulil pun menyinggung mengenai soal nasib buku ini. “Saya kira buku ini memang bakal mati syahid. karena sulit laku,” kata Ulil yang disambut tawa hadirin.

“Tapi, pak Sadun tak boleh putus asa. Orang yag sepakat dengan harmoni antar umat beragaa harus terus berjihad!” sambung Ulil.

1.539 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

three + seven =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>