Empat Pikiran Tanpa Batas Belajar dari Sang Buddha

 

Ahmad Nurcholish

Ahmad Nurcholish

Oleh: Ahmad Nurcholish

“Cinta kasih, welas asih, simpati, dan ketenangseimbangan batin ini secara keseluruhan dinamakan sifat-sifat yang luhur (brahmawihara). Untuk menyempurnakan pikiran benar, semua sisi positif dari pikiran, baik yang pasif maupun aktif, harus kita kembangkan terus tanpa batas, sehingga pikiran tersebut akan menyatu dengan pandangan dan terwujudlah melalui tindakan nyata”

 “Buddha adalah perpaduan antara kepala yang dingin dengan hati yang hangat,” Kata J.B. Pratt, seperti dikutip Huston Smith dalam Agama-Agama Manusia (1999). Manusia suci bernama Siddhartha Gautama ini dikenal sebagai orang dengan banyak cara dan tahapan dalam mengajar kebajikan. Ia cermat memperhatikan beragam kapasitas makhluk yang dihadapi. Yang cerdas atau pun yang bodoh, yang rajin berusaha atau pun yang malas. Sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

Dalam ajaran Buddha, kasta yang membedakan derajat manusia menurut kelahirannya atau Perbedaan di antara semua makhluk terjadi karena karma atau perbuatannya masing-masing ditolak. Buddha melindungi setiap bentuk kehidupan, menyingkirkan senjata, pantang melakukan berbagai bentuk kekerasan, dan membalas kebencian dengan cinta kasih.

Salah satu ajaran dasar Buddha agar memiliki “kepala yang dingin dengan hati yang hangat” adalah dengan menempuh empat jalan brahmavihara (kediaman para Brahma). Pertama,  maître atau cinta sejati, cinta kash, keinginan untuk memberikan kebahagiaan. Kedua, karuna atau welas asih, keinginan untuk menghilangkan penderitaan orang lain). Ketiga mutida atau sukacita, keinginan untuk menghadirkan sukacita bagi orang-orang di sekitar kita dan mengizinkan kebahagiaan mereka menghadirkan sukacita untuk Anda. Keempat, upeksa atau keseimbangan batin, keinginan dan kemampuan menerima segala sesuatu dan tidak mendiskriminasi.

 

Maitri (Cinta)

Dalam ajaran Buddha, aspek cinta sejati yang pertama disebut maîtri dalam bahasa Sansekerta. Maître dapat diterjemahkan “cinta” atau “cinta kasih”. Sebagian guru-guru Buddhis memilih kata “cinta kasih” karena kata “cinta” terlalu berbahaya. Tetapi, Thich Nhat sendiri memilih kata “cinta”. Menurutnya, kata-kata kadang-kadang ‘sakit’ dan kita harus menyembuhkan mereka.

Selama ini kata “cinta” digunakan untuk menunjukkan selera kita seperti dalam kata “I Love Hamburgers”. Thich mengajak untuk menggunakan bahasa dengan lebih hati-hati. “Cinta” adalah sebuah kata yang indah; kita harus megembalikannya ke arti sebenarnya. Kata “maîtri” berakar pada kata mitra yang artinya teman. Dalam agama Buddha, arti utama cinta adalah persahabatan atau pertemanan.

Maîtri adalah keinginan dan kemampuan untuk memberikan sukacita dan kebahagiaan. Untuk mengembangkan kemampuan itu, kita harus berlatih melihat da mendengar secara mendalam sehingga kita tahu apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan untuk membuat orang lain bahagia. Jika kita memberikan orang yang kita sayangi sesuatu yang tidak ia butuhkan, itu bukan maîtri. Kita harus melihat keadaan yang sebenarnya, jika tidak, apa yang kita berikan bisa menghasilkan ketidakbahagiaan.

Maitri bukanlah cinta kasih yang dilandasi nafsu atau kecenderungan pribadi karena dari kedua hal ini tanpa dapat dihindarkan akan timbul kesedihan. Maitri bukan hanya terbatas dalam perasaan bertetangga karena ini akan menimbulkan sikap membeda-bedakan antara tetangga yang satu dengan lainnya. Maitri bukan hanya perasaan bersaudara kandung karena maitri meliputi semua makhluk termasuk juga binatang, saudara-saudara yang lebih kecil yang pada hakikatnya memerlukan uluran kasih sayang yang lebih banyak.

Maitri bukanlah persaudaraan yang berdasarkan politik, ras, bangsa atau agama. Persaudaraan politik hanya terbatas pada mereka yang memiliki pandangan politik yang sama. Persaudaraan ras dan bangsa hanya terbatas pada mereka yang sama suku dan bangsanya. Beberapa nasionalis begitu kuat mencintai bangsanya, hingga kerap kali tanpa mengenal kasihan, melakukan pembantaian terhadap wanita dan anak-anak yang secara kebetulan lahir dengan rambut, kulit dan mata yang berbeda warnanya dengan milik kaum nasionalis itu. Terhadap bukan bangsanya, pada suatu saat mereka memandang dengan rasa curiga dan kekhawatiran. Untuk menyatakan ketinggian bangsanya mereka melakukan peperangan yang tidak mengenal perikemanusiaan, membunuh jutaan manusia dengan berbagai alat perang yang mengerikan.

Maitri sama sekali bukan perasaan persaudaraan keagamaan. Karena kata yang menyedihkan dari apa yang disebut persaudaraan keagamaan, manusia menjadi lebih keras kepala dan dengan tanpa penyesalan sedikitpun mereka melakukan perbuatan-perbuatan menyembelih dan membakar orang hidup-hidup. Banyak kekejaman yang bertentangan dengan isi kitab-kitab suci dan peperangan yang bengis dilancarkan sehingga mengotori lembaran sejarah. Bahkan dalam abad 21 ini pun masih terdapat penganut dari suatu agama yang membenci atau mengutuk, bahkan tanpa mengenal kasihan mereka membunuh orang-orang yang tidak memiliki keyakinan yang sama dengan mereka, hanya karena tidak dapat memaksa orang-orang itu melakukan hal sama seperti mereka. Jika atas dasar pandangan agama, orang-orang dari kepercayaan yang berbeda itu tidak dapat menemukan mimbar persaudaraan sejati, maka sungguh patut disayangkan sekali bahwa ajaran-ajaran dari para guru dunia yang mulia itu disia-siakan belaka.

Maitri adalah lebih luas dan lebih mulia dari semua bentuk persaudaraan yang sempit itu. Maitri tidak dibatasi oleh peraturan-peraturan dan bidang-bidang, tidak mempunyai rintangan dan penghalang, tidak mengadakan perbedaan. Maitri memungkinkan orang untuk dunia ini sebagai tanah airnya dan semua makhluk sebagai saudara2nya. Persis seperti matahari yang memancarkan sinarnya ke segala arah tanpa membuat perbedaan, demikian pula dengan maitri yang luhur ini memancarkan berkahnya yang halus dan tenang itu sama rata terhadap apa yang dianggap orang-orang sebagai sesuatu yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, yang kaya dan yang miskin, yang tinggi dan yang rendah, yang baik dan yang buruk, wanita dan pria, manusia dan binatang.

Cinta sejati juga membutuhkan pengertian. Kita harus melihat secara mendalam untuk melihat dan mengerti kebutuhan, aspirasi, dan penderitaan orang yang kita cintai. Kita semua membutuhkan cinta. Cinta menghadirkan sukacita dan kebahagiaan. Cinta bersifat alami seperti udara. Kita dicintai oleh udara; kita butuh udara segar untuk bahagia dan hidup dengan baik. Kita dicintai oleh pohon-pohon. Kita membutuhkannya agar hidup kita sehat, terbebas dari polusi. Agar kita dicintai, kita harus mencintai, yang artinya kita harus pengertian. Agar cinta kita terus tumbuh, kita harus melakukan perbuatan-perbuatan yang sepatutnya dan tidak-melakukan perbuatan yang tidak tepat untuk melindungi udara, pepohonan, dan orang yang kita cintai. Inilah yang dalam ajaran Buddha yang oleh Buddha Sakyamuni menhyatakan bahwa Buddha masa depan bernama “Maitreya, Buddha Cinta Kasih.”

 

Karuna (Welas Asih)

Aspek kedua dari cinta sejati adalah karuna, yaitu niat dan kemampuan untuk mengurangi dan mentransformasi penderitaan dan meringankan kesedihan. Karuna sering diterjemahkan menjadi compassion dalam bahasa Inggris (welas asih dalam bahasa Indonesia), tetapi, menurut Nhat Hanh, terjemahan itu tidak seluruhnya tepat. “Compassion” terdiri dari dua kata, yaitu com yang artinya bersama-sama dan passion (untuk menderita).

Tetapi, dalam hal ini kita tidak perlu menderita untuk membebaskan penderitaan orang lain. Para dokter misalnya, bisa membebaskan penderitaan pasiennya tanpa mengalami penyakit yang sama. Jika kita terlalu menderita, kita mungkin akan hancur dan tidak mampu menolong. Tetapi, kita akan tetap menggunakan kata compassion sampai kita menemukan kata baru yang tepat untuk menerjemahkan karuna. (Thich Nhat Hah, Teachings On Love, h. 11.)

Untuk mengembangkan welas asih dala diri kita, kita perlu berlatih napas berkesadaran, mendengar secara mendalam, dan melihat secara mendalam. Sutra Intan menggambarkan Awalokiteswara sebaga bodhisattwa yang mempraktikkan “melihat dengan mata welas asih dan mendengar secara mendalam tangisan dunia.” Dalam welas asih terdapat kepedulian yang sangat dalam. Misalnya, Anda tahu ada seorang teman menderita, Anda kemudian duduk di sampingnya. Anda melihat dan mendengar secara mendalam agar bisa menyentuh kepedihannya. Anda sedang berkomunikasi secara mendalam padanya, dan itu saja sudah mengurangi penderitaan(nya).

Dalam karuna kita tak hanya melihat dengan mata kepala, melainkan dengan matai hati, mata batin kita dan mencoba berempati secara mendalam terhadap kepedihan dan penderitaan orang lain. Berempati dengan karuna meliputi pikiran (positif), sikap, perkataan dan juga respon yang selalu mengedepankan adaya nilai positif bagi orang lain.

Kadang kita tidak (mau) mengerti, kenapa hidup diwarnai dengan kegetiran, penderitaan, dan hal-hal negative lainnya. Itu karena kita menyerah dengan kondisi semacam itu. Karena itu Sang Buddha memiliki cara terbaik dalam menghadapi semuanya itu, yakni dengan pengertian, ketenangan, dan kekuatan sehingga penderitaan tidak mampu menguasainya. Buddha mampu tersenyum kepada penderitaan karena ia tahu harus merawat penderitaan  dan membantu mentransformasinya.

Thich Nhat Hanh menyarankan kepada kita untuk selalu menyadari penderitaan dengan terus mempertahakan kejernihan, ketenangan, da kekuatan kita sehingga kita mampu membantu mentransformasi keadaan. Samudra air mata tidak akan bisa menenggalamkan kita jika dalam diri kita terdapat karuna. Karena itulah senyum Buddha begitu indah. Bukankah senyum yang demikian yang senantiasa kita harapkan setiap saat dalam kehidupan?

 

Mutida (Sukacita)

Elemen ketiga dari cinta sejati adalah mudita. Cinta sejati selalu menghadirkan sukacita bagi kita dan yang yang kita cintai. Jika cinta kita tak mampau menghadirkan sukacita bagi kita, maka itu bukan cinta sejati.

Kalau cinta hanya membawa tangisan dan air mata, lalu ngapain Anda mau mencintai? Jadi sudah jelas sekali cinta seharusnya membawa keceriaan sukacita, Anda sendiri perlu ceria terlebih dahulu, tentu saja banyak cara bisa menghadirkan keceriaan bagi dirimu sendiri. Ketika Anda tahu cara membantu dirimu sendiri ceria, maka Anda akan tahu cara membawa keceriaan bagi sang kekasih dan dunia. Simpel bukan?

Mudita merupakan sukacita. Sukacita ceria kita bisa memberi manfaat bagi orang lain, apabila kita tidak bisa senyum maka tidak ada orang yang bisa mendapatkan manfaatnya. Walaupun kita tidak melakukan apa pun namun penuh keceriaan maka itu saja bisa memberi manfaat kepada banyak orang.

Buddha mengajarkan kita untuk membangkitkan sukacita, welas asih, kasih sayang, maka Buddha mengajarkan tentang let it go [melepaskan], banyak barang yang bisa kita lepaskan untuk mendapatkan sukacita dan kebahagiaan, ini sebuah seni hidup. Ada kebahagiaan yang lahir dari melepaskan, sukacita dan kebahagiaan lahir dari hidup sadar [sati], sukacita dan kebahagiaan lahir dari konsentrasi [samadhi], dan sukacita dan kebahagiaan lahir dari pengertian [pannya]. Banyak sekali hal-hal dalam diri ini dan banyak barang di luar sana yang ingin kita gapai, kalau kita punya pengertian secukupnya maka kita bisa melepaskannya, tiba-tiba kita bisa ceria kembali, jadi taktik pertama adalah belajar untuk releasedan let it go!

Ini pula yang kerap terjadi di sekitar kita, kadang semakin kita mencintai seseorang justru menyebabkan penderitaan lebih besar, oleh karena itu engkau perlu bertanya apakah engkau betul-betul mencintai dia atau tidak? Mencintai berarti menyediakan waktu untuk melihat lebih dalam, menyediakan waktu untuk mengerti penderitaan, kesulitan sang kekasih, ketika hadir pengertian maka cinta sejati juga hadir. Jadi cinta bukanlah berarti kehendak dan siap mencintai, namun cinta sejati adalah sebuah kemampuan (kapasitas). Suatu hal yang nyata, bukan sekedar isapan jempol belaka.

 

Upeksa (Keseimbangan Batin)

Upeksa berarti keseimbangan batin, tanpa kemelekatan, tanpa diskriminasi, pikiran seimbang, atau legawa (besar hati). Upa berarti “melampaui” dan iks “melihat”. Anda mendaki sebuah gunung agar bisa melihat seluruh keadaan, tidak terganggu oleh masing-masing sisi gunung.

Jika dalam cinta Anda ada kemelekatan, prasangka, atau keterikatan, itu bukan cinta sejati. Mereka yang tidak mengerti ajaran Buddha sering menganggap, upeksa artinya tidak-membedakan. Upeksa adalah keseimbangan batin yang sejati, bukan dingin (cuek) dan tidak membedakan.

Dalam pengertian tidak diskriminatif, Upeksa berarti cinta sejati tidak ada lagi diskriminasi, kebahagiaan bukanlah masalah pribadi saja, penderitaan, kebahagiaan, dan sukacita sang kekasih juga merupakan milikmu juga. Tidak ada tembok pembatas antara yang mencintai dan yang dicintai, mengesampingkan aku, maka yang mencintai dan yang dicintai menjadi satu!

Ketika engkau mencintai dirimu sendiri, orang yang mencintai adalah dirimu sendiri begitu juga sang kekasih adalah dirimu sendiri. Ini yang disebut inklusif (upeksha), cinta sejati mencakup banyak orang, jika cintamu itu murni, maka cinta itu akan memberi manfaat kepada manusia, tumbuhan, binatang, dan mineral. Mencintai seseorang berarti itu adalah sebuah kesempatan untuk mencintai banyak orang dan spesies lain. Jika engkau mencintai seseorang membuat diri terkurung dan tidak bisa kontak dengan orang lain, maka itu bukanlah cinta murni.

Sebuah ciri khusus dari sebuah upeksa adalah samatajana, “kebijaknaan kesetaraan”, kemampuan untuk melihat setiapo orang dengan setara, tidak membedakan satu sama lain. Dalam sebuah konflik, meskipun kita sangat peduli tetapi kita harus tidak berpihak, mampu mencintai dan mengertikedua belah pihak. Kita lepaskan semua diskriminasi dan prasangka, dan singkirkan semua batasan antara kita dan orang lain.

Selama kita melihat diri kita sebagai yang mencintai dan orang lain sebagai yang dicintai dan melihat kita berbeda dari yang lain, maka kita tidak punya keseimbangan batin sejati. Kita harus meletakkan diri kita “dalam diri orang lain” dan menyatu dengannya jika kita ingin sungguh-sungguh mencintai dan memahaminya. Di saat itu terjadi, maka tidak ada lagi “kita” dan “yang lain”.

Cinta kasih, welas asih, simpati, dan ketenangseimbangan batin ini secara keseluruhan dinamakan sifat-sifat yang luhur (brahmawihara). Untuk menyempurnakan pikiran benar, semua sisi positif dari pikiran, baik yang pasif maupun aktif, harus kita kembangkan terus tanpa batas, sehingga pikiran tersebut akan menyatu dengan pandangan dan terwujudlah melalui tindakan nyata.

 

Menurut Thich Nhat Hanh, Guru Zen terkenal dalam Teachings On Love Ajaran tentang Cinta Sejati, brahmaviharajuga disebut dengan Empat Pikiran Tanpa Batas. Ini bisa dicapai dengan dengan terus melatih diri. Dengan latihan, Thich Nhat yakin pikiran-pikiran itu akan tumbuh bahkan mampu merangkul seluruh dunia. Manusia terlatih ini akan menjadi lebih bahagia dan memberi kebahagiaan pada manusia di sekitar mereka.

 

Nagarjuna, filsuf Buddhis abad ke-2 yang juga dikutip Thich Nanh, mengatakan:

 

Berlatih Pikiran Cinta Tanpa Batas memadamkan kemarahan dalam diri setiap makhluk. Berlatih Pikira Welas Asih tapa Batas memadamkan semua kesedihan dan kecemasan dalam hati semua makhluk. Mempraktikkan Pikiran Sukacita Tanpa Batas memadamkan semua kesedihan dan ketiadaan sukacita dalam hati semua makhluk hidup. Mempraktikkan Pikiran Batin Seimbang Tanpa Batas memadamkan kebencian, ketidaksukaan, dan kemelekatan dalam hati semua makhluk. [ ]

 

Ahmad Nurcholish, penulis buku “Agama Cinta: Menyelami Samudra Cinta Agama-agama” (Elexmedia, 2015)

1.737 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

eleven + sixteen =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>