Saeed Al Hakim (duduk kedua dari kanan)

Organisasi Lintas Iman Irak Kunjungi ICRP

JAKARTA, ICRP – Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Rabu (3/6) kedatangan tamu-tamu dari Najaf, Irak. Tiga orang yang hadir siang itu ke ICRP bernaung dalam sebuah organisasi bernama Hikma Center for Dialogue and Coperation (HCDC). Organisasi ini dikenal sudah lama bergelut dalam isu interfaith dialogue.

Rombongan HCDC ini dipimpin sendiri oleh Dr. Sayyid Mohammed Saeed Alhakim. Setibanya di sekretariat ICRP, para tamu ini langsung dipersilahkan untuk naik ke ruang diskusi di lantai dua. Sembari menunggu ketua umum ICRP yang tengah di jalan menuju Jalan Cempaka Putih Barat XXI no. 34, Sayyid Mohammed Saeed Alhakim berbincang santai dengan peserta diskusi. Dibantu dengan penerjemah, Saeed Al Hakim menuturkan beberapa isu aktual mengenai hubungan antar agama.

Tak lebih dari 20 menit, Ulil tiba di lantai dua. Beramah tamah dalam waktu singkat, dialog antar dua sosok ini pun kian hangat. Dalam diskusi, Ulil pun bertindak sebagai penerjemah.

Salah satu poin menarik yang disampaikan Saeed Al Hakim adalah mengenai relasi agama dan politik. Menurut Ulama Syiah ini agama tidak boleh jadi alat kepentingan politik. Karena, lanjut Saeed Al Hakim, ketika agama dipakai menjadi alat politik dalam sejarahnya lebih banyak menimbulkan kerusakan. Padahal fungsi agama, kata Ulama ini adalah sebagai pembawa perdamaian.

“Agama tidak boleh jadi faktor kerusakan karena fungsi agama adalah mengeluarkan manusia dari kerusakan,” ujar Saeed Al Hakim.

Ulama yang aktif mengkampanyekan perdamaian ini juga menyoroti konflik antar mazhab dalam Islam. Ia melihat konflik-konflik itu juga tidak lepas dari adanya carut-marut masuknya kepentingan politik dalam agama. “Bahkan di dalam intra agama kita lihat konflik agama akibat dari adanya kepentingan-kepentingan politik,” ucap Saeed Alhakim.

Sebagaimana kita ketahui bersama, di Timur Tengah khususnya di Irak dewasa ini ISIS telah membenturkan hubungan Sunni-Syiah. Namun, kata Saeed Alhakim, meski muslim Syiah menjadi korban paling ekstrim dari keganasan ISIS, kelompok teroris paling mematikan abad ini juga menyerang siapa saja. “ISIS dan kelompok pro kekerasan lainnya yang menggunakan agama sebagai alat politiknya menyerang siapapun yang tak sejalan dengan keyakinan mereka,” ujar Saeed Alhakim.

Saeed Alhakim menolak pandangan adanya teori konspirasi mengenai carut-marut di dunia Islam hari ini. “Ini permasalahan internal kita. Jangan terburu-buru menyalahkan pihak lain. Kita harus benahi sendiri,” ucapnya.

Munculnya kelompok-kelompok pro kekerasan atas nama agama, kata Saeed Alhakim, disebabkan oleh ketidakmauan untuk berpikir. Kemalasan pikir, sambung Saeed Alhakim, membuat seseorang menjadi radikal. “Orang-orang yang malas berpikir ini adalah sebaik-baiknya alat yang bisa digunakan oleh kepentingan politik.

Saeed Al Hakim memberikan resep untuk mengobati permasalahan itu. Menurutnya, agama mesti dipisahkan dari kepentingan politik. “Ketika agama dipisahkan dari kepentingan politik maka ia akan bermanfaat bagi kemanusiaan,” tutur ulama ini.

Selain memisahkan agama dari kepentingan politik, Saeed Alhakim juga menilai penting sekali untuk membuat jembatan antar umat beragama. Menurutnya adanya lembaga-lembaga dialog seperti ICRP akan mampu mempererat hubungan antar umat beragama.

Sesi tanya jawab dan dialog pun dimulai. Beberapa komentar dan pertanyaan dilontarkan. Meski menggunakan penerjemah, hadirin nampak antusias dalam mengikuti acara diskusi yang berakhir pada pukul 16:30 WIB ini.

Sesudah diskusi, para tamu dan hadirin berfoto bersama. Mempermanis pertemuan, Saeed Alhakim memberikan batut akik spesial dari Najaf untuk Ulil usai berfoto.

 

 

985 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

one × three =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>