Studi Agama dan Perdamaian Harus Berkembang

eunika gloria

Eunika Gloria (Sumber: dok. pribadi)

Oleh: Eunika Gloria (Peserta Studi Agama dan Perdamaian ICRP 2015)

Jum’at, (29/5/2015), Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) melaksanakan perkuliahan Studi Agama dan Perdamaian. Pertemuan ini membahas mengenai urgensi studi agama dan perdamaian. Adapun narasumbernya adalah Syafiq Hasyim, Ph. D, Doktor dari Berlin Graduate School Muslim Cultures and Societies, Faculty of History and Cultural Studies (Fachbereich Geschichts–und Kulturwisseenschaften) Freie Universitat, Berlin, Jerman. Pembicara lainnya adalah Pdt. Nelman Wenny, salah satu doktor dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta.

Penjelesan kedua narasumber sungguh sangat menarik. Begitu pun juga pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kelas. Saya pun mengajukan beberapa pertanyaan. Sejujurnya, pertanyaan saya di kelas belum terlalu dijawab oleh pembicara. Bagaimana studi agama dapat menjadi sebuah studi yang terus netral? Yang kemudian dilanjutkan dengan, bagaimana para akademisi studi agama dapat mempertahankan netralitas kajiannya? Jawaban yang saya dapat hanya menyelesaikan pertanyaan kedua, yaitu dengan selalu menjaga jarak antara agama sebagai yang ia yakini dengan agama sebagai yang ia kaji.

Namun, untuk pertanyaan pertama, perlu mengingat bahwa studi agama sifatnya akademis. Maka, pengolahan metodologi yang tepat sepertinya dapat menjadi salah satu jawaban bagi studi agama untuk dapat menjadi kajian akademis yang netral. Dr. James L. Cox (University of Edinburgh, 2013) melalui catatan kuliahnya yang berjudul Religion without God, menjabarkan mengenai perdebatan di antara para akademisi dalam hal penggunaan metodologi yang tepat untuk studi agama.

Secara tradisional, para akademisi memulai proses netralitas studi metodologi agama dengan ‘metodologi ateisme’, yaitu metodologi yang mengutamakan proses pendefinisian realita secara religius. Metodologi ini mengimplikasikan adanya penyangkalan tentang kemungkinan bahwa objek keyakinan dari agama itu eksis. Kemudian berkembanglah ‘metodologi agnostik’ yang tidak menyangkal kehadiran tatanan alam semesta–yang transenden dianggap sebagai given–namun tidak memunculkan pertanyaan mengenai hal tersebut. Akademisi studi agama mendeskripsikan, menganalisa, dan membandingkan posisi para pemegang keyakinan terhadap yang transenden tersebut.

Perkembangan ini menjadi menarik, karena di Indonesia, kemajuan studi agama sebagai studi belum memiliki tren yang signifikan. Pada pendidikan tinggi, tidak banyak institusi non universitas berbasis agama yang mau (atau mampu) mencakup prospektus studi ini. Dibandingkan dengan school of divinity di beberapa universitas besar di Inggris dan Amerika Serikat, Indonesia masih tertinggal dalam hal kurikulum maupun penelitian. Padahal, ragam keyakinan dan keagamaan di Indonesia berpotensi besar – baik sebagai sumber keilmuan maupun sumber dialog.

Menurut pengetahuan saya yang terbatas, studi agama di Indonesia saat ini masih berfokus pada sosialisasi melalui dialog antar keyakinan, pendidikan keagamaan mendasar, maupun resolusi konflik. Tentu, fokus ini tidak terlepas dari kondisi masyarakat Indonesia yang memang belum sepenuhnya mendekati situasi yang ideal. Namun semoga di masa depan, studi agama ini mampu berkembang dengan lebih terstruktur sehingga kekayaan keagamaan Indonesia dapat terus dilestarikan.[MM]

1.202 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

9 − 1 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>