PK-Film-Paling-Laris-di-India

Review Film PK

Oleh : Damai Ceria Hati Ndruru (Mahasiswi STT Jakarta)

Di dalam keberagaman agama di dunia, sebuah film yang berjudul ‘PK’, menceritakan tentang bagaimana manusia memandang Tuhan. Film ini diawali dengan kisah seorang alien (Peekay=mabuk) yang berasal dari planet lain yang diutus ke bumi, alien ini membawa sebuah remote control yang berfungsi untuk menghubungkannya ke planetnya dan tentunya juga untuk bisa kembali ke planetnya. Ketika sampai di bumi, seseorang mencuri remote controlnya. Saat itu, ia sangat bingung mau melakukan apa, karena hanya dengan alat tersebut ia kembali ke planetnya. Dalam pencariannya, dengan segala harapan ada yang bisa membantunya menemukan alat tersebut, hanya ada satu nama yang ditawarkan orang kepadanya. Nama itu adalah Tuhan. Tuhanlah yang bisa membantunya, Tuhanlah yang mampu memberikan jalan keluar untuk permasalahannya. Kebingungan muncul lagi, Tuhan? siapakah Tuhan? di manakah ia menemukan Tuhan?. Hal ini sangat membuatnya resah dan putus asa. Namun, ia kemudian memutuskan untuk mencari Tuhan.

Berdasarkan petunjuk orang padanya bahwa ia hanya menemukan Tuhan, di rumah Tuhan yakni tempat ibadah. Tuhan yang ia temukan pertama adalah sosok berkepala gajah bertubuh manusia yang tidak lain adalah Genesha, salah satu dewa kepercayaan Hindu. Kemudian, ia datang ke gereja dengan melakukan pemujaan berdasarkan agama Hindu yakni dengan membawa air kelapa. Tentu saja, hal yang ia lakukan ini salah, masa iya ke gereja membawa pemujaan air kelapa? tetapi itulah Peekay, yang tidak mengerti.

Berdasarkan pengalaman-pengalaman tersebut, Peekay akhirnya menyadari bahwa ternyata ada banyak Tuhan di bumi. Di dalam setiap ritual ada yang membawa air kelapa saat memuja, ada juga anggur, di dalam rumah Tuhan ada yang melarang memakai alas kaki ada juga yang tidak. Bahkan, budaya dalam penyembahan Tuhan berbeda-beda, ada yang berbaju kuning berkepala botak, ada yang bersorban, ada juga yang memakai cadar dll. Nah, inilah yang kemudian dikenal sebagai agama.

Selain itu, Peekay juga menyadari bahwa setiap Tuhan mempunyai perwakilan berupa tokoh manusia di bumi. Tokoh tersebut bertindak sebagai manajer, dialah yang menyampaikan pesan Tuhan, konsep ketuhanan, bagaimana ritual yang semestinya dilakukan oleh setiap pengikutnya, atau juga hal-hal yang menentukan mana yang salah dan mana yang benar di mata Tuhan. Di dalam film ini, seorang tokoh agama Tapasvi Maharaj, yang mengaku telah bertemu dengan Dewa Siwa. Seperti di dalam agama bahwa semua tafsir yang dilakukan oleh tokoh bisa salah dan bisa benar, atau bahkan dalam film ini Tapasvi Maharaj memanfaatkan jabatan tersebut untuk harta dan kekuasaan. Ia menipu umat dengan mengatakan bahwa ia bertemu dengan Tuhannya, namun pada kenyataannya itu hanyalah tipua belaka. Selain itu,Tapasvi Maharaj juga menganggap bahwa agama lain tidak benar, hanyalah agamanya yang benar. Pertanyaannya adalah benar menurut siapa?

Kerap kali, manusia terkecoh dengan penampilan luar seseorang dan penampilan manusia tersebut acap kali membuat konsep pengkotak-kotakan agama. Hal ini jugalah yang diperlihatkan oleh Peekay, ketika ia menghadap Tapasvi Maharaj. Ia menukar pakaian setiap orang, misalnya Kristen ternyata Muslim, Jainisme ternyata Hindu dll. Tidak bisa dipungkiri di dalam kehidupan sehari-hari kita sering melakukankan ini.

Rasa takut adalah sifat natural manusia. Ketakutan membuat manusia melakukan apa saja untuk mengatasi rasa takutnya itu. Sama halnya dengan mahasiswa yang takut dengan dosen, takut nilainya anjlok dan masih bnayak lagi rasa takut. Namun, rasa takut ini bisa diatasi dengan memuja dan menyembah Tuhan yang diyakini. Peekay ingin menyampaikan bahwa hanya dengan modal batu, cat merah, dan uang, orang-orang akan takut. Rasa takut sangat memperdayakan manusia, hingga sebagai orang atau oknum tertentu memanfaatkan situasi ini demi kepentingan pribadi.

Berdasarkan film PK, kita pun akhirnya menyadari bahwa agama dan segala yang dilakukan di dalamnya, baik ritual maupun budaya penyembahan adalah tidak semata-mata itu adalah dari Tuhan, ada pihak yang lain memainkannya yang berperan sebagai pihak kedua. Tidak lain adalah tokoh agama. Pembedaan agamapun dibuat oleh tokoh agama terdahulu. Oleh karena itu, tidak ada agama yang benar, tidak ada agama yang salah. Pernahkan terlintas sebuah pertanyaan, dari manakah saya tahu kalau saya ini agama Kristen atau agama Islam atau agama Hindu dll. Ya, tentu saja jawabannya adalah dari orang tua. Lalu dari mana orang tua tahu dia agama tertentu? Jawaban…dari…dari…dari…ini pertanyaan yang tidak dapat dijawab.

Selain itu, film ini juga menunjukan sebuah kesalahan manusia dalam memandang Tuhan. Tuhan yang sering kali dibela oleh manusia, bahkan juga bisa menimbulkan konflik di antara umat beragama. Manusia adalah makhluk yang terbatas dan tidak akan mungkin menggapai Tuhan yang tidak terhingga itu. Peekay sendiri mengatakan bahwa betapa kecilnya manusia dibanding alam semesta. Jika alam semesta adalah ciptaan Tuhan, maka manusia tidak ada apa-apanya dibanding dengan alam semesta. Lalu, mengapa manusia yang tidak ada apa-apanya itu perlu membela Tuhan?.

Apabila dikaitkan dengan persoalan dan konflik yang sering terjadi dengan s mengatasnamakan agama dan Tuhan, maka dapat dikatakan bahwa itu adalah hal yang sia-sia. Sebab, Tuhan tidak pernah ingin manusia saling membunuh, saling menjatuhkan, saling menindas, hanya karena untuk membela agama dan juga nama-Nya. Namun, yang Tuhan ingin adalah saling mencintai satu dengan yang lain dengan penuh keadilan, dan saling merangkul.

1.583 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

18 + sixteen =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>