Direktur Pelaksana ICRP Mohammad Monib (kiri) Munim Sirry (tengah) Ulil Abshar Abdalla (kanan)

“…Apakah Muhammad Sosok Fiktif?”

JAKARTA, ICRP – Dalam bedah buku “Kontroversi Islam Awal : Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis”, penulis buku menyampaikan sejumlah temuan-temuan yang cukup mencengangkan. Di ruang diskusi sektretariat Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Mun’im Sirry  memaparkan sejumlah persoalan dalam literatur-literatur klasik Islam.

“Apakah kitab-kitab klasik (sejarah versi muslim) menyajikan informasi yang sebenarnya terjdai ateau kitab-kitab itu menggambarkan apa saja yang penulis inginkan agar para pembaca meyakini apa yang diinginkan oleh penulis?” ucap pengampu teologi di University of Notre Dame AS ini di hadapan 30 peserta diskusi, Jumat (12/6).

Lulusan pesantren Al-Amien mencontohkan dalam penamaan rasulullah, kata Muhammad masih belum bisa dipastikan. “Sebetulnya apakah Muhammad ini proper name, sebuah panggilan, atau bahkan sosok fiktif?” tanya Munim sore itu.

Lebih menariknya lagi, Munim menerangkan bahwa berdasar penelitian arkeolog ternama kata Muhammad sama sekali tidak ditemukan dalam sumber-sumber sejarah pada abad ke 7. “Kata Muhammad baru ditemukan pada abad ke-8 atau ke-9,” ujar Munim.

Namun, Munim menegaskan bahwa tujuannya bukan untuk mendiskreditkan Islam. “Maksud saya bukan untuk menjatuhkan Islam melainkan ktia mesti menyadari bahwa kita tidak punya tradisi yang kokoh dalam kesadaran historis,” kata lulusan University of Chicago ini.

Untuk mengetahui suatu peristiwa pada masa lampau, ujar Munim, seorang peneliti mesti tahu kapan dan siapa penulisnya. Menyoal pencatatan sejarah Islam, Munim berargumen besar kemungkinan sumber sejarah paling awal yang hadir lebih otoritatif. Sementara itu, sumber-sumber sejarah mengenai Rasulullah yang diriwayatkan dalam kitab-kitab klasik Islam, kata Munim baru hadir cukup lama setelah sosok nabi wafat. Dari hal ini saja, sambung Munim, sumber-sumber sejarah versi muslim sudah sulit untuk lolos dari verfikasi.

Dengan mencontohkan polemik tempat kelahiran Bung Karno yang beberapa waktu lalu sempat heboh, Munim menjelaskan rumitnya periwayatan tokoh. “Bung Karno saja yang lahir pada abad ke-20 tempat kelahirannya masih diperdebatkan, apalagi sosok yang terlahir sekitar 1400 tahun yang lalu,” ucapnya.

Belum lagi, tambah Munim, penulisan sejarah mengenai nabi dari literatur klasik Islam bisa jadi merupakan glorifikasi. ” Kitab-kitab ini ditulis minimal 100 tahun setelah nabi wafat dan nabi sudah dianggap sosok yang sempurna…Anda bisa bayangkan bagaiman tentang akurasi informasi kitab-kitab ini,” ujar Munim.

Selain menyoal kisah Rasulullah, Munim juga memaparkan informasi seputar penulisan mushaf Quran. Beberapa paparannya cukup menarik dan menggugah tanya. “Banyak riwayat yang mengindikasikan adanya proses editing pada Al-Quran bahkan hingga abad ke-8 tepatnya pada khalifah kelima bani Umayah yaitu Abdul Malik bin Marwan,” ujarnya.

Munim mengaku tujuan penerbitan buku ini ingin menerangkan pada khalayak umat Islam bahwa Islam bukanlah sebuah pengecualian. Islam sebagaimana agama-agama lainnya hadir secara gradual. “Islam sebagai agama yang kita yakini sekarang sebetulnya terbentuk dalam proses yang sangat lambat jika dipandingkan dengan padangankebanyakan orang. Inilah fokus buku ini,” ucap Munim.

Selain mengundang penulis, ICRP pun mendaulat ketua umum ICRP sendiri, Ulil Abshar Abdalla. Diskusi yang dimulai pukul 15:45 ini berakhir pada pukul 18:20. Perbincangan dalam sesi komentar dan tanya jawab juga tak kalah menarik. Diskusi yang “Menggugah Iman”.

 

6.685 views

9 comments

  1. Sama dengan semua Hadits. Bukhari, penulis hadits yang tertua, yang menurut sejarahnya adalah seorang yang buta dan tak bisa berbahasa Arab’ mengumpulkan perkataan2 Nabi Muhammad semuanya lebih dari 100 tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad. Dari segi verifikasi apa yang dikupulkan susah untuk dipercaya.

    • Baca buku siroh nabawiyah ibnu hisyam mas. Coba bandingkan dengan agama lain. Adakah agama yg pake ilmu sanat selain Islam?. Ilmu sanat menjamin verifikasi dan keilmiahan periwayat dan matan.
      Btw kalo anda tidak percaya buku klasik kok malah percaya org semacam mun’in sirri ya. Emang dia tahu apa?. Lawong satu kata istilah jika tidak pas maka konotasi pemahaman berubah
      Saya cerita deh mas. Pak rt bilang ke bu rt, Bu itu pak bendahara laporan keuangan balai rt kok belum ada rincian. Bu rt menyampaikan ke A, “pak RT tanya kenapa bendara ga mau bikin laporan keuangan balai rt. Trus B menerima informasi kalo pak rt marah2 karena bendahara tidak bikin laporan balai rt. Nah bendara ngamuk dengar cerita dari c kalo dianggap tidak amanah.
      Apa filosofinya?. Dalam tempo kekinian saja beda org beda pemahaman apalagi sudah lampau?.
      Masalahnya anda percaya omongan org jil daripada org dulu. Coba deh, cari ilmu sanat. Pasti perowi (org meriwatkan) telah tercatat oleh buku ulama lain sehingga kroscek saling melengkapi dan benar.
      Nah yg jadi pertanyaan?. Kenapa anda lebih percaya maling daripada korban?. Org berakhak buruk semacam jil yg ga pernah ibadah ucapannya lebih anda kagumi daripada org baik2.

      • Org berakhak buruk semacam jil yg ga pernah ibadah ucapannya lebih anda kagumi daripada org baik2….

        Benarkah org2 JIL GAK PERNAH IBADAH?????
        Hati2, jgn sampe hnya krn dasar kebencian pada JIL, anda terjerembab pada kesombongan, menuduh org GAK PERNAH IBADAH sama halnya menganggap ibadahnya PALING BAIK…

        • Matur suwun pak zubairi. Saya seperti itu bukan bermaksud untuk sombong. Tapi karena pembelaan kepada para penghujat agama saya. Anda lebih sensitif ketika saya menghujat JIL daripada JIL menghujat Islam?. Semoga tidak demikian

  2. Oh iya tambahan. Hadist shahih itu sanatnya tidak terputus. Bukan kok beda 100 tahun. Tapi diriwayatkan dari org yg ketemu Rosululloh. Misal anas bin malik yg tinggal bersama Rosululloh. Hadist diriwayatkan dari malik bin anas. Anaknya anas. Nah itu imam malik meriwayatkan ke imam bukhory. Gitu matan tidak boleh salah satu katapun dan periwayat terjamin dari kedustaan.
    iCRP gman?.masih percaya?. Para pembohong agama semua berkedok intelek.

  3. http://www.radiorodja.com/2015/03/18/biografi-imam-bukhari-bagian-ke-2-kitab-shahih-bukhari-ustadz-abu-yahya-badrusalam-lc/

    http://muslim.or.id/640-mengenal-imam-bukhari.html

    https://id.m.wikipedia.org/wiki/Imam_Bukhari

    Itu mas, biografinya. Jangan ngomong tanpa dasar.
    Sekarang percaya mun’in sirry atau para sejarawan terdahulu?
    Apa anda menganggap orang dulu bodoh?.
    Kalo iya buang filosofi aristoteles, socrates dan lainnya yang anda bangga2 kan

    • Danang Rivadhonni,
      ternyata cuma ilmu gugel dan ilmu pengatahuan katanya link ini, katanya itu, …

      Lah yang ber intelektual aja dikatain pembohong, lah kl elu apa’an ? ? gelarmu apa ?

      • Sorry mas anonim. Kalo komen nama lengkap saja biar bisa di cek. Aku pake nama lengkap. Anda bisa cek di google siapa saya. Apakah intelek, sesat tidak seseorang bisa dilihat dari gelar?.

  4. Seandainya Nabi Muhammad itu sosok fiktif, lantas bagaimana perihal manuskrip Al-Qur’an tertua di dunia yang masih ada sampai sekarang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

12 + 3 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>