Ilustrasi tahanan KPK
Ilustrasi tahanan KPK

Benarkah Terjadi Penistaan Agama di Rutan KPK?

Jakarta, ICRP – Puluhan tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK) di Pomdam Jaya Guntur ramai-ramai menandatangani surat yang berisi menanyakan perilaku sipir KPK yang dianggap menistakan agama. Surat tertanggal  5 Juni 2015 tersebut di tanda tangani oleh 10 tahanan KPK yang beragama muslim, diantaranya adalah Surya Dharma Ali, Didik Purnomo, Heru Sulaksono, Moh Tafsir Nurchamid, Romi Herton, Rizal Abdullah, Waryono Karno, Adriansyah, Abdul Rouf, dan M Bihar Sakti Wibowo. Selain itu, tahanan yang beragama non-muslim juga turut mendukung dan menandatangani surat ini seperti Raja Bonaran Situmeang, A Bambang Djatmiko, Jannes Jhon Karababa, Willy Sebastian Liem, dan Sherman Rana Krishna.

Para tahanan ini merasa keberatan dengan perilaku tegas dari sipir tahanan yang membatasi kegiatan ibadah. Dalam surat tersebut dijelaskan ada tiga jenis pelanggaran ibadah yang diduga dilakukan sipir. Pertama, pengusiran atau penghentian secara paksa ketika tahanan berzidkir. Kedua, pengusiran atau penghentian secara paksa ketika tahanan sedang melakukan pengkajian Ayat-ayat suci Al Quran dan masalah keagamaan. Ketiga, pengusiran atau penghentian secara paksa ketika tahanan sedang membaca surat Yasin bersama-sama, padahal hanya 9 Ayat lagi selesai, kemudian pengajian Yasin dibubarkan dengan cara yang Arogan dan sangat tidak menghormati pada ayat-ayat suci Al Quran yang sedang mereka baca.

Melihat kondisi tersebut, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) versi muktamar Jakarta, Djan Faridz, menilai KPK sudah melakukan penistaan agama. Bahkan secara khusus Djan Farids meminta kepada KPK untuk tidak membatasi ibadah koleganya di PPP yang menjadi tahanan yakni Surya Dharma Ali.

Jangan Serang KPK dengan Isu Agama

Terkait persoalan ini, pengamat politik, Gun Gun Heryanto menghimbau supaya tidak ada pihak-pihak yang menyerang KPK dengan menggunakan dalih agama. Menurutnya, masyarakat harus berhati-hati dalam membicarakan agama termasuk pelarangan beribadah tahanan.

“Harus hati-hati karena ini soal agama, dalam hal ini KPK apakah memang benar-benar memberikan pembatasan dalam ibadah. Setahu saya hanya membatasi waktu, entah 40 menit atau berapa tapi yang saya dengar begitu. Apa benar penistaan atau bukan ya ini harus hati-hati,” kata Gun Gun ketika dihubungi merdeka.com, Rabu (24/6) malam.

Gun Gun menakankan setiap orang berhak melakukan ibadah, tidak terkecuali tahanan KPK. Namun tentu tahanan tidak sebebas orang lain yang tidak tersangka kasus korupsi. Gun Gun menilai, isu ini hanya untuk menekan KPK setelah polemik terjadi antara KPK dan tersangka korupsi Suryadharma Ali. Namun, Gun Gun tidak memastikan Suryadharma merupakan dalang dari pemberontakan para tersangka di rumah tahanan (Rutan) Guntur, seperti yang dikatakan oleh Pimpinan KPK, Taufiqurrahman Ruki beberapa waktu lalu.

“Tradisi salat Jumat di KPK sudah ada dari dulu. Baru sekarang saja mereka menolak. Belum tentu juga SDA yang menjadi penyebabnya, mungkin saja isu ini muncul setelah ada dia jadi orang menyangkut-pautkannya. Yang jelas saya yakin KPK mempunyai niat baik kok dalam mengizinkan orang-orang melaksanakan ibadah,” tandasnya di merdeka.com.

Tidak Ada Penistaan Agama di KPK

Menanggapi polemik ini, Plt. Ketua KPK, Taufiequrachman Ruki memastikan, KPK tidak pernah membatasi kegiatan beribadah para tahanan di Rutan KPK Cabang Guntur. Sipir rutan menurutnya, hanya menjalankan peraturan sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Ruki menilai, banyak perubahan yang terjadi terhadap tahanan di Rutan Guntur sejak kedatangan Suryadharma. Bahkan, menurut Ruki, beberapa tahanan tidak mau dijemput untuk melakukan Shalat Jumat di auditorium gedung KPK dengan beragam alasan. “Sebelum SDA ditahan, tahanan bisa dijemput, tapi setelah SDA datang mereka keberatan untuk dijemput,” kata dia di republika.co.id.

Ruki menegaskan, petugas sipir tidak pernah melakukan pengusiran tahanan yang ingin melaksanakan ibadah, apalagi menghentikan ibadah secara paksa. Petugas hanya mengingatkan batas waktu ibadah yang telah ditentukan, yakni 40 menit untuk shalat berjamaah. Pemberitan waktu tersebut pun mempertimbangkan aspek keamanaan dan meminimalisir interaksi dengan pihak luar. Bahkan Ruki pernah mendapatkan laporan petugas, ada tahanan yang memanfaatkan waktu ibadah untuk tidur-tiduran di mushalla dengan alasan berdzikir.

2.069 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

twelve − 1 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>