Romo Magnis (tengah)

Di Pertemuan Ketiga Sekolah Agama, Romo Magnis Ungkap Perdamaian Perspektif Gereja

JAKARTA, ICRP – Setelah mengkaji perdamaian dalam perspektif Islam dua minggu lalu, kali ini Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) membahas Agama dan Perdamaian dalam Perspektif Kristen. Dalam pertemuan ketiga Sekolah Agama dan Perdamaian Jumat (27/6) ini, ICRP mendaulat guru besar Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Frans Magnis Suseno dan Dosen di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta Pdt. Mulyadi.

Mendapat panggung pertama, Frans Magnis Suseno langsung membahas sejarah kekerasan dan Katolik di Eropa. Dalam sejarahnya, Pastur yang akrab disapa Romo Magnis ini mengakui Katolik pun tidak lepas dari kekerasan atas nama agama. Romo Magnis mencontohkan  beberapa momen dalam sejarah dimana gereja menjadi alat untuk menghukum perbedaan keyakinan. Reformasi Martin Luther yang melahirkan protestanisme dan Akuisisi di Spanyol menjadi dua bahasan yang cukup gamblang dibahas. “Warisan kekerasan dalam gereja itu besar,” singkat Romo Magnis.

Namun, Romo Magnis menegaskan perspektif Gereja kini berbeda sekali dengan abad ke-16 menyikapi perbedaan. “Gereja Katolik kini sekarang konsisten dalam mempromosikan perdamaian,” ujar Romo Magnis.  Perubahan perspektif menyoal keyakinan di Gereja Katolik, kata lelaki kelahiran Jerman 79 tahun lalu ini juga tidak lepas dari sumbangsih Pencerahan (Aufklarung) di Eropa pada abad 17 dan 18.

Gereja Katolik, sambung Romo Magnis, kembali mendapat pelajaran serius mengenai perdamaian pada abad ke-20. Romo Magnis mengungkapkan kekejaman NAZI pada perang dunia kedua (PD II) memberikan kesadaran yang tinggi dalam Gereja Katolik pentingnya menghargai perbedaan. Pasalnya, kata Romo Magnis, gereja juga diyakini turut andil dalam kebencian terhadap Yahudi kala itu.

Karena itu, dalam konsili kedua Vatikan Romo Magnis menyatakan beberapa poin amat menguatkan posisi Gereja Katolik untuk mempromosikan penghargaan terhadap keyakinan yang berbeda. Poin pertama, kata Romo menyatakan bahwa Protestan adalah saudara umat Katolik. Kedua, Katolik mesti menghormati hal-hal yang disucikan oleh agama-agama lain. Ketiga,  yang tak kalah menarik ungkap Romo Magnis adalah bahwa Gereja Katolik mengapresiasi monoteisme di dalam Islam. Beberapa poin lainnya menyinggung sikap gereja Katolik menolak hukuman mati.

Namun, hal yang paling penting dalam konsili dua menurut Romo Magnis adalah mengenai jalan keselamatan. “Poin terpenting adalah bahwa orang tidak dibaptis bisa masuk surga,” kata Romo Magnis. Poin ini, menurutnya memberikan kelewusan bagi missionaris seperti dirinya untuk tidak melihat yang lain sebagai entitas yang salah dan pasti masuk neraka.

Selain membahas mengenai gereja Katolik, Romo Magnis juga menyinggung mengenai pluralisme di Indonesia. Menurut budayawan terkemuka ini situasi keberagamaan di Indonesia sudah cukup baik meski dengan sekian catatan. Malam itu, ia memberikan sejumlah resep bagi para agamawan agar kondisi keberagamaan di Indonesia membaik.

“Pertama, (agamawan) perlu menolak kekerasan, memenagkan Tuhan itu tidak perlu. Kedua, agamawan mesti rendah hati. Jika seorang agamwan itu arogan sudah pasti itu kontradiktif dengan ajaran Tuhan. Ketiga, nah ini saya suka mengambil istilah dalam Islam, agamawan harus menyiarkan agama dengan penuh Rahmatan Lil Alamain,” tutur Romo Magnis.

 

 

2.629 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

10 + twelve =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>