Agama dan Perdamaian Perspektif Hindu

I Ketut Parwata Pengurus PHDI

I Ketut Parwata Pengurus PHDI

Oleh: I Ketut Parwata (Pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia)

Agama sebagai sebuah ajaran yang diturunkan/diwahyukan/difirmankan/disabdakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, pada dasarnya bertujuan untuk mengarahkan umat-Nya pada kedamaian dan perdamaian. Hal tersebut nampak dalam salam yang menjadi ciri khas tiap-tiap agama, seperti sa-lam (Islam), sa-lom (Kristen), sa-nti (Hindu), sa-dhu (Buddha), sa-nzai (Khonghucu), sa-he (Kaharingan), sa-mpurasun (Sunda Wiwitan) yang kesemuanya memiliki arti yang sama yaitu damai. Bila dilihat dari sisi ilmu pembentukan kata (filologis), kata-kata dimaksud berasal dari akar kata yang sama yaitu “sa” yang berarti satu.

Dengan demikian dapat diartikan bahwa setiap agama mewajibkan umatnya untuk memperoleh kedamaian dengan menjaga dan mengembangkan perdamaian di antara sesama manusia karena pada dasarnya kita adalah satu keluarga besar umat manusia. Bahkan disadari atau tidak, ketika kita menyapa orang lain dengan panggilan “sa-udara” sesungguhnya mengandung pengakuan bahwa kita dan liyan adalah berasal dari Yang Maha Esa melalui “kandungan atau perut” (udara) yang satu yakni kandungan “Ibu Pertiwi” yang maha baik.

Dalam alam demokrasi dewasa ini, perbedaan pendapat bahkan “gesekan” antar saudara (baca: sesama manusia) merupakan sesuatu yg lumrah. Dalam masyarakat kekanak-kanakan (immature society) perbedaan apapun dapat menjadi potensi pertikaian sehingga menimbulkan ketidakrukunan, ketidakdamaian, dan ketidakharmonisan. Untuk itu, diperlukan kedewasaan dan kematangan agar segala perbedaan tersebut dikelola dengan baik dan tidak menjadi alat pembunuh apalagi sebagai pemusnah peradaban.

Damai Dalam Ajaran Hindu

Agama Hindu sebagai agama penerus Sanatana Dharma, dengan Pustaka Suci Veda sebagai pedoman perilaku dalam segala peri kehidupan penganutnya, memiliki nilai-nilai luhur (values) dalam menciptakan dan menumbuhkembangkan kedamaian di muka bumi.  Nilai-nilai yang dimaksudkan antara lain Ahimsa (tanpa kekerasan/tidak melakukan penyiksaan), Vasudeva Kutumbhakam (semua ciptaan-Nya bersaudara), Tat Twam Asi (Engkau adalah Aku), Tri Kaya Parisudha (Berpikir, Berkata, dan Berbuat yang baik dan benar), Tri Hita Karana (Keselarasan antara Tuhan, Sesama manusia, dan Lingkungan), Satyam Siwam Sundaram (Kebenaran, Kebajikan, dan Keharmonisan), sarwa prani hitangkarah (semoga semua makhluk berbahagia), loka samasta sukhino bhawantu (semoga yang disini dan di seluruh alam semesta dalam keadaan bahagia), Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa (berbeda-beda tetapi tetap satu), dan sebagainya.

Salah satu mantram Veda terkait perintah untuk menjaga dan menumbuhkembangkan kedamaian adalah: 

  dyauh santir antariksam santih,

  prthivi santir apah santir osadhayah santih,

  vanaspatayah santir visve devah santih,

  brahman santih sarvam santih,

  santir eva santih sa ma santir edhi.  (Yajur Veda XXXVI.17)

 

Artinya:
damailah di angkasa damai di antariksa (luar angkasa),

damai di bumi damai di air damailah segala yang hidup,

damai di hutan dan gunung, para Dewa memperoleh kedamaian,

Tuhan Yang Maha Damai memberi kedamaian pada segalanya,

hanya kedamaian yang dapat menyatukan bukan yang lainnya.

 

 

Membangun Kehidupan Yang Damai

Secara empiris, indahnya ajaran damai dalam setiap agama, tak serta merta mewujud dalam kehidupan umat manusia. Sudah barang tentu, kesenjangan tersebut bukan terletak pada ajaran agamanya tetapi pada bagaimana umat memahami ajaran agama itu sendiri. Hal ini tentu saja menjadi catatan bersama terkait bagaimana proses internalisasi ajaran agama ke dalam pemahaman setiap umatnya.

Manusia, dalam pandangan Hindu memiliki 3 (tiga) karakter utama yang saling mempengaruhi yang disebut Tri Guna, yang terdiri atas Satwam, Rajas, dan Tamas.

  • Dalam hal manusia didominasi oleh karakter Satwam, maka manusia tersebut akan menampilkan karakter yang tenang, sabar, toleran, akomodatif, peduli, bijaksana, welas asih dan sebagainya.
  • Dalam hal manusia didominasi oleh karakter Rajas, maka manusia tersebut akan menampilkan karakter yang bersemangat, ambisius, pantang menyerah, memaksakan kehendak dan sebagainya.
  • Dalam hal manusia didominasi oleh karakter Tamas, maka manusia tersebut akan menampilkan karakter malas, apatis, tidak peduli, dan sebagainya.

Karakter atau sifat seseorang akan mempengaruhi  pemahaman dirinya terhadap ajaran agamanya. Ada yang memahaminya secara inklusif, tetapi tidak sedikit pula yang memahami ajaran tersebut secara eksklusif. Perbedaan pemahaman akan berpengaruh terhadap aktualisasi ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, dalam Kitab Bhagawad Gita III.32 disebutkan:

ye tvetad abhyasuyanto,

nanuthistanti me matam,

sarva jnana vimudhams,

tan viddhi nastan acetasah.

 

artinya:

mereka yang menyimpang,

tidak mengikuti ajaran-Ku,

adalah tidak berpengetahuan, bingung,

tersesat dan akan hancur oleh kebodohannya.

Bila sloka (ayat) tersebut dipahami secara eksklusif maka dapat diartikan bahwa “Ajaran-Ku” yang dimaksud adalah Ajaran Hindu (atau bahkan hanya Hare Krishna), sehingga selain umat Hindu (atau Hare Krishna) adalah termasuk orang-orang tidak berpengetahuan, bingung, tersesat dan akan hancur oleh kebodohannya. Tetapi bila sebaliknya – sloka (ayat) tersebut dipahami secara inklusif – maka dapat diartikan bahwa yang dimaksud dengan “Ajaran-Ku” bukanlah ajaran Hindu (atau Hare Krishna) saja, tetapi seluruh ajaran yang tertuang dalam berbagai kitab suci yang membentuk agama-agama yang berbeda.

Di samping itu, seiring dengan perkembangan daya pikir manusia dan meningkatnya populasi umat manusia,  semakin meningkatkan persaingan antar sesama manusia dalam mengakses dan memperebutkan sumber daya alam guna mempertahankan hidup dan kehidupannya. Sebagai akibat lanjutannya adalah adanya sebagian umat manusia yang cenderung terjebak pada dua karakter yaitu rajas dan tamas dengan mengesampingkan karakter satwam.   Inilah yang mengakibatkan  akhir-akhir ini dengan mudahnya kita menemukan orang-orang yang cenderung menonjolkan sifat dan sikap hipokrit, permisif, materialistis, hedonis, individualis, egois, narsis, sadis bahkan bengis. Manusia yang satu adalah serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus).

Selain karakter atau sifat dasar manusia tersebut di atas, dalam hal terjadinya konflik sosial yang tidak jarang dengan mengatasnamakan agama, salah satu penyebab yang sering dikemukakan adalah adanya “ke-tidak adil-an” di berbagai bidang.

Dalam bidang politik, dengan perubahan sistem politik (khususnya dalam mekanisme pemilihan kepala daerah), maka tiada hari tanpa transaksi politik yang tidak jarang berlangsung dengan hingarbingar terkait pemilukada di berbagai daerah, yang tidak sedikit pula berujung di Mahkamah Konstitusi (MK) akibat ketidakpuasan salah satu atau beberapa pasangan calon. Dalam bidang hukum, ditengarai adanya sistem  tebang pilih dari sebagian aparat penegak hukum. Sementara dalam bidang ekonomi, memang harus diakui telah terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi, tetapi yang patut disayangkan adalah bahwa meningkatnya pertumbuhan ekonomi belum diikuti dengan meningkatnya pemerataan bahkan semakin melebar.

Untuk membangun kehidupan yang damai bahkan lebih daripada itu untuk menciptakan  keharmonisan antar sesama manusia, ajaran Hindu mewajibkan umatnya untuk senantiasa mengedepankan dan berpedoman pada prinsip Satyam, Siwam, Sundaram. Satyam berarti Kebenaran, Siwam berarti Kebajikan, dan Sundaram berarti Keharmonisan.

Kebenaran yang kita yakini, ketika bertemu dengan kebenaran orang atau kelompok lain, maka kebenaran tersebut menjadi relatif. Kebenaran yang kita yakini tidak bisa kita paksakan kepada orang lain. Sebuah kebenaran seyogyanya disampaikan dengan penuh kebajikan untuk memperoleh keharmonisan. Tanpa keharmonisan, mustahil akan tercipta kedamaian dalam diri setiap manusia dan perdamaian antar sesama manusia.  Harmoni akan tercipta manakala segala perbedaan yang ada dapat diselaraskan dalam sebuah kesadaran bersama.

 

Penutup

Kedamaian umat manusia dan perdamaian antar sesama manusia menjadi sebuah kebutuhan hakiki setiap insan guna mewujudkan kebahagiaan dalam dirinya. Kita semua sebagai makhluk yang berbudhi (disamping berakal dan bernaluri), hendaknya dapat menciptakan kedamaian dimanapun di seluruh alam semesta ini di tengah segala perbedaan yang sudah menjadi kodrat-Nya. Agama diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa, tiada lain adalah untuk menuntun umat manusia memperoleh kedamaian sejati (sa-nti, sa-lam, sa-lom, sa-dhu, sa-nzai, sa-he, dll).

Demikian, semoga bermanfaat.

3.870 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

five × one =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>