Para Peserta Wisata Rumah Ibadah Berfoto dengan Pengurus Gereja Tenda Biru

Di Gereja Tenda Biru, Ada Cinta dan Haru

BOGOR, ICRP – Ada yang menarik dalam hari kedua Wisata Rumah Ibadah (WRI) yang diselenggarakan Yayasan Cahaya Guru (YCG) dan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Minggu (9/8), tak kurang dari 20 guru yang berasal dari Jabodetabek diajak mengunjungi sebuah gereja katolik di daerah Parung, Bogor.

Perjalanan dimulai dari Megaria, Jaksel pukul 07:15 WIB.  Rombongan tiba di lokasi Gereja daerah Parung tersebut sekitar pukul 09:00. Redaksi ICRP-Online.org yang juga ikut dalam rombongan agak tercengang pada awalnya melihat keramaian di Gereja. Pasalnya, jika terlihat dari depan bentuk halaman depan tidak lah seperti Gereja. Namun, lebih cocok disebut daerah wisata. Bagaiamna tidak, banyak sekali anak-anak bermain di taman yang rapi tertata.

Masuk ke dalam wilayah bangunan Gereja, rombongan kembali tercengang. Gereja Katolik ini memang bukan gereja biasa. Gereja bernama Gereja Yohanes Baptista ini bukanlah sebuah bangunan permanen. Tidak ada tembok yang membatasi bangunan. Hanya terpal biru membentuk semacam kemah dengan tiang-tiang besi layaknya acara pernikahan. Tak heran Gereja Yohanes Baptista ini dinamai “Gereja Tenda Biru”.

Kebetulan para peserta kunjungan tiba ketika misa masih berlangsung. Meski dengan segenap kekurangan bangunan, rombongan bisa merasakan kekhidmatan ibadah umat pagi ini. “Gereja Tenda Biru” seolah memberi kesan paling esensial dalam ibadah pada Tuhan. Soal Keikhlasan.

Menunggu misa selesai, para pesrta nampak menikmati bincang-bincang santai dengan salah satu pengurus Gereja Tenda Biru,Pak Alex. Lelaki dengan rambut yang mulai beruban itu mengulas sedikit mengenai sejarah Gereja Tenda Biru. “Karena kami tidak bisa bangun gereja di lahan kami, maka kami bangunlah tenda ini,” ucapnya menjelaskan alasan pendirian Gereja Tenda Biru pada guru-guru.

Beberapa momen nampak memikat dari kegiatan pasca misa. Sejumlah orang membentuk kelompok-kelompok tertentu di sekitaran gereja. Anak-anak berkumpul di pojok belakang kanan gereja. Mereka nampak tengah menghafalkan beberapa materi. Entah apa yang mereka baca, namun ternyata yang lebih asik adalah mentor mereka mungkin baru seumuran anak SMA. Si kakak ini nampak semangat mengatur adik-adiknya. Terasa ada cinta.

Sementara itu, di teras kiri gereja ada ibu-ibu dan bapak-bapak tengah berbincang-bincang sederhana. Gereja Tenda biru sungguh terasa seperti home bagi yang telah jenuh dengan kepenatan ibukota. Suasananya seperti di kampung-kampung dimana rasa kohesi sosial masih lah tinggi.

Ada kelompok paduan suara berkumpul di pojok kanan Gereja. Mereka nampak serius berlatih menyanyikan lagu-lagu nasional. Tidak lain tidak bukan untuk persiapan 17 Agustusan. Sebuah kondisi yang aneh memang, mencintai republik ketika negara nampak belum serius memberikan layanan pada hak-hak prinsipil warga negara.

Nah, rombongan pun akhirnya diajak untuk beramah tamah dengan pengurus Gereja tenda biru. Tidak ada jamuan yang special, para peserta menikmati teh botol sosro yang diberikan pengurus. Pak Gabriel, peserta sekaligus, salah satu jemaat Gereja Yohanes Baptista ini memulai acara dengan memperkenalkan rombongan dan tujuan kunjungan kali ini pada para pengurus.

Pak Alex mengaku senang sekali dengan kunjungan kali ini. Terlebih, katanya sembari penuh semangat melihat ibu-ibu berjilbab mau hadir ke gereja ini. Menurut Pak Alex hal ini jelas merupakan hal yang penting bagi jemaat. Mengingat, acapkali ada rasa curiga yang belum usai.

Seusai memperkenalkan rombongan, Pak Gabriel mempersilahkan pak Tias Joseph untuk memaparkan Gereja Tenda Biru. Tias Joseph mengaku merasa berbahagia atas kunjungan para peserta Wisata Rumah Ibadah. “Meski sampai saat ini kondisinya masih seperti ini, kami bersyukur yakni bahwa kami tetap bisa beribadah sebagai umat katolik,” ungkap Tias Joseph setelah menceritakan sejarah pendirian gereja ini.

Tias Joseph mengaku gereja yang telah diperjuangkan 25 tahun lalu itu memiliki jemaat yang cukup banyak. “Tadi yang hadir ibadah saja mencapai 1500. Adapun jemaat kami secara keseluruhan berjumlah sekitar 3000. Terus terang ruang lingkup Gereja ini cukup luas. Kami menghimpun tidak kurang dari tujuh kecamatan,” papar Tias Joseph.

Tidak memungkiri, Joseph menilai masih ada resistensi hingga kini. Namun, Joseph mengaku tidak pantang mundur dalam bersosialisasi. Joseph meyakini bahwa jemaat tidak memiliki buruk sama sekali pada warga sekitar. “Sesuatu yang dimulai dengan baik pasti berujung pada hasil yang baik,” ucap Joseph penuh optimisme.

Joseph yakin pada akhirnya masyarakat Parung akan memahami berdirinya gereja Yohannes Baptista. Dengan logat khas orang jawa, Joseph menilai jika pun kelak gereja Yohanes Baptista ini berdiri tidak akan ada rasa berbangga diri di kalangan jemaat. “Bagi kami tidak ada istilah menang kalah. Kalau dapat izin bukan karena kami menang. Kami ingin menggandeng warga dengan rasa cinta kasih,” ucap Joseph.

Seusai Joseph berkisah banyak hal, para peserta nampak antusias ingin mengetahui lebih banyak menyoal Gereja Tenda Biru. Perbincangan pun tampak menarik. Salah seorang peserta yang juga merupakan umat katolik mengaku merasa ada sentuhan yang berbeda dengan banyak gereja di Ibukota. Perbincangan ini akhirnya berujung pada pukul 11:00.

Bu Henny Supolo yang juga turut memberikan komentar pada kunjungan kali ini mengaku ada rasa cinta yang dalam di gereja tenda biru. Ada rasa keikhlasan yang luas biasa dari para jemaat Gereja Yohannes Baptista dengan segala kekurangan kondisi gereja.

Para peserta meninggalkan lokasi dengan keramahan jemaat Gereja Tenda Biru. Sepanjang mengangkatkan kaki untuk keluar dari gereja. Para jemaat memberikan jabatan tangan yang hangat. Senyuman hangat tak henti terpancar dari umat. Seolah ada rasa rindu yang belum usai.

Adakah pemerintah kota Bogor sempat untuk membuka hati mereka melihat keramahan dan ketulusan jemaat Gereja Tenda Biru?

2.300 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

two + 19 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>