Leadership (ilustrasi)

Bedanya Sang Ustadz dan Sang Kyai Kala Ditimpa Masalah…

Kerap kali kualitas seorang pemimpin diukur bagaimana merespon krisis dalam organisasi yang ia gawangi. Setidaknya secara umum ada dua tipe pemimpin dalam hal ini. Pemimpin tipe pertama adalah yang gemar menyalahkan sesuatu pada yang lain atas apa yang ia hadapi. Pemimpin tipe kedua tentu saja yang mengakui kelemahannya lalu mengakui ada peran dirinya dalam suatu krisis yang ia hadapi.

Dua tipikal pemimpin dalam merespon krisis ini sudah tentu memiliki korelasi tentang seberapa baik kualitas karakter seseorang. Yang gemar melimpahkan kesalahan pada orang lain pada umumnya tidak terlalu digemari publik luas. Sebaliknya, tipe pemimpin kedua lebih sering dicinta.

Nah, soal kepemimpinan pula bisa kita maknai secara luas mulai dari kepemimpinan organisasi keagamaan hingga partai politik. Menarik rasanya melihat bagaimana para pucuk pimpinan Partai Dakwah jika disandingkan dengan respon ulama sepuh Nahdlatul Ulama (NU) dalam merespon kegaduhan internal.

Mari kita ambil momen-momen Partai Keadilan Sejahtera kala dirundung isu miring soal korupsi impor sapi. Dan pada momen yang lain, mari kita saksikan bagaimana Gus Mus selaku mantan pejabat Rais Am NU menangani kisruh di muktamar ke-33 NU di Jombang beberapa minggu lalu.

 Untuk kembali diingat, memang skandal korupsi sapi bukan perkara biasa. Bagaimana tidak kali ini pucuk pimpinan partai langsung terjepit. Selain perkara korupsi yang mengigit, isu di seputaran itu juga tak kalah membuat hati kader sakit. Perkara syahwat ikut berkutat. Jelas hal ini membuat hati kader tercoreng setelah selama ini membela sang ustadz.Anis Matta

Namun demikian para pucuk pimpinan Partai Dakwah memang lihai. Anda sudah tahu semua tentu bagaimana reaksi Anis Matta dalam “menenangkan” batin kader kala sang Presiden Partai Dakwah Luthfi Hassan Ishaq terseret korupsi sapi. Seusai menggantikan LHI, Ustadz Anis Matta melihat kasus korupsi sapi sebagai bencana nasional. Karena itu, sang ustadz yang beristri lebih dari satu ini menghimbau seluruh kader untuk melakukan taubat nasional.

Taubat nasional memang menarik dan punya dampak cukup serius terhadap mental kader. Singkatnya sebuah alat konsolidasi partai. Tapi, hal ini terasa janggal mengingat, apa salah kader jika tiba-tiba sang pemimpin partai tersandung kasus asmara dan korupsi lalu malah mereka yang harus membayar dengan bertaubat. Artinya di sini Anis Matta ingin melempar kesalahan kawannya pada kader yang begitu loyal pada impian-impian “Dakwah Partai”.

Hidayat Nur Wahid

Yang lebih “nendang” dipertontonkan ustadz senior Partai Dakwah, Hidayat Nur Wahid. Calon gubernur gagal yang kalah melawan Jokowi-Ahok pada pilgub Jakarta terakhir ini melontarkan ucapan yang cukup fantastis. HNW menuding ada konspirasi besar dalam skandal korupsi sapi yang tujuannya tidak lain adalah menghancurkan PKS dan Islam. Siapa yang jadi kambing hitam? tidak lain dan tidak bukan seperti halnya yang kerap diteriakan kader-kader PKS : ZIONIS.

Bagi kader-kader dan simpatisan PKS, mungkin saja “taubat nasional” dan “zionisisasi” kasus korupsi sapi punya dampak baik, namun bagi publik?. Rasanya, hingga kini kepercayaan publik pada KPK belum tersaingi oleh partai apapun. Bahkan jika partai itu menempelkan jubah agama pada visi misi partai. Singkatnya, bukan saja PKS kala itu turun kepercayaannya, namun juga jadi bahan olok-olokan publik.

Sekarang mari kita lihat bagaimana ulama sepuh sekelas Gus Mus merespon ketegangan kala muktamar NU ke-33 di Jombang tempo lalu. Gus Mus mengawali pidatonya dengan rasa malu terhadap Tuhan dan ulama-ulama pendiri NU atas apa yang terjadi pada organisasi yang ia gawangi saat di muktamar. Sahabat Gus Dur ini pun melanjutkan betapa besar rasa malunya ketika pemberitaan di media massa menyandingkan NU yang muktamarnya gaduh sementara Muhammadiyah begitu teduh.

Gus Mus

Hal yang menggetarkan hati muktamarin dan publik secara umum adalah kalimat-kalimat terakhirnya.

 “Saya sejak belum tidur, bukan apa-apa, karena memikirkan anda-anda sekalian. Saya mohon maaf kepada semua muktamirin terutama yang dari jauh dan tua-tua, teknis panitia yang mengecewakan anda, maafkan lah mereka, maafkan saya. Itu kesalahan saya, mudah-mudahan anda sudi memaafkan saya.”

Gus Mus tidak sedikitpun menyalahkan kericuhan pada muktamirin. Namun, ia justru meminta maaf pada muktamirin atas kericuhan yang terjadi di arena muktamar. Keberanian untuk mengakui adanya peran pemimpin dalam krisis di organisasi sebesar NU yang dilakukan pucuk pimpinan sudah tentu hal yang positif. Selain mencairkan suasana sidang, juga  memecah kebuntuan. Lebih dari itu, pidato Gus Mus juga memulihkan citra NU di hadapan publik sebagai organisasi keislaman yang meneduhkan.

Dengan sedikit saja menggunakan akal sehat dan nurani rasanya tidak mungkin untuk mengatakan kualitas Ustadz Hidayat Nur Wahid bisa disandingkan dengan Ulama sekelas Gus Mus. Namun, jika boleh bertanya mengenai pernak-pernik refleksi dari iman seseorang, bisakah pula kita katakan bahwa sikap Gus Mus semacam ini adalah orang yang memiliki kualitas spiritual yang lebih tinggi dibandingkan dengan para penuding kesalahan di Partai Dakwah?

2.818 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

three × 2 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>