Madara Uchiha (kiri) dan Naruto (kanan)

Naruto dan Madara Menyoal Perdamaian…

Apakah anda pernah membaca komik dari Negeri Sakura atau yang kerap disebut Manga? Jika belum maka coba lah googling sebuah Manga berjudul Naruto. Manga karangan  Mashashi Kishimoto ini termasuk deretan papan atas alias amat populer di majalah Shonen Jump. Rating komik yang mengisahkan perjalanan seorang ninja ini beberapa kali menempati kasta paling tinggi di dunia manga.

Kata Naruto diambil dari nama tokoh utama protagonisnya sendiri di dalam manga, Naruto Uzumaki. Sebagai anak yang terlahir yatim piatu, Naruto digambarkan sebagai sosok yang jenaka, bodoh, dan nakal. Keisengan dari Naruto luar biasa menyebalkan. Seolah, Naruto ingin mendapat perhatian dari semua orang dengan keisengan yang dia perbuat. Hal ini disebabkan rasa kesendirian Naruto yang dinihilkan dari masyarakat. Apa sebabnya? Silahkan Anda coba baca manga ninja jenaka ini.

Singkat cerita, seiring berjalannya kisah petualangan sang ninja, Naruto memiliki banyak kawan. Bahkan sejumlah lawan pun akhirnya menjadi rekan setelah berjumpa dengan sang tokoh protagonis. Naruto berhasil menjadi sosok yang dikenal baik oleh banyak orang.

Apa yang menarik dari sosok Naruto? Tentu penikmat manga ini punya banyak perspektif melihat sang ninja. Namun, jika saya boleh memberi pendapat salah satu hal yang menarik dari Naruto adalah prinsip hidupnya. Lebih spesifik lagi soal bagaimana dia melihat hubungan antara dirinya dengan orang-orang di sekelilingnya.

Mashashi Kishimoto menggambarkan Naruto sebagai anak yang selalu belajar ingin memahami orang-orang di sekitarnya. Meski memiliki kemahiran dalam bertarung, Naruto cenderung tidak mau merendahkan yang lain. Baginya, kerjasama dan persahabatan adalah kekuatan utamanya.

Karakter Naruto yang demikian, Mashashi Kishimoto kontraskan dengan sosok utama antagonis bernama Madara Uchiha. Sang antagonis yang hidup puluhan tahun sebelum Naruto terlahir ini dikenal sebagai ninja jenius, ahli dalam berperang, sosok kharismatik yang ditakuti lawan. Bahkan, sebagian melihat karena kekuatannya yang mengerikan, Madara acapkali  dinilai memiliki kekuatan sekelas dewa.

Pemimpin klan Uchiha ini menilai orang-orang selain dari klannya hanya sampah. Madara amat terobsesi untuk menjadi jauh lebih kuat dari yang lain. Madara percaya hanya dengan kekuatan akan tercipta perdamaian. Karena itu, Ia percaya setiap orang harus tunduk pada kemauan dirinya. Untuk membuat dunia yang demikian, Madara membuat sebuah rencana untuk menidurkan setiap orang. Dimana, Madara mengontrol imajinasi dalam impian setiap orang. Ini yang disebut rencana “Mugen Tsukuyomi”.

Lalu bagaimana bisa kedua sosok ini berjumpa?

Madara membuat semacam strategi agar bisa dihidupkan kembali. Pada session terakhir Naruto, akhirnya sang tokoh protagonis dan antagonis berjumpa. Madara sukses untuk bisa hidup kembali dan hampir berhasil menjalankan rencana “Mugen Tsukuyomi”.

Dalam pertempuran terakbar pada kisah ninja, Madara dan Naruto beberapa kali beradu argumen soal dunia yang ideal. Madara amat tidak percaya dengan manusia. Baginya, cita-cita untuk menjalin kerjasama dan persahabatan dengan menggunakan sistem apapun hanya berujung sia-sia belaka. Manusia, selalu pada kondisi tertentu, terdesak untuk mengenyahkan yang lain untuk melindungi hal-hal yang ia cintai. Perang adalah sebuah keniscayaan.

Bagi Madara, rencana menidurkan setiap orang adalah yang paling ideal. Madara bisa memberi setiap orang apapun  yang ia mau di dalam mimpi. Tidak ada lagi perbedaan pendapat, tidak ada lagi kericuhan, tidak lagi ada konflik, dan tidak ada lagi keinginan yang nyata kecuali keinginan Madara. Semua orang diseragamkan dengan cara tertidur. Ini lah dunia ideal versi sang antagonis.

Naruto menilai dunia ideal menurut Madara hanya bohong belaka. Naruto bersikeras bahwa perdamaian adalah sebuah proses yang mesti dijalani dengan cara saling mengenal, berkawan, bekerjasama, dan saling memahami satu dengan yang lain. Membuat hanya satu orang yang mengatur segalanya bukan lah sebuah perdamaian yang hakiki. Naruto mengakui itu dunia ideal versi dirinya bukan jalan yang mudah. Namun, ide untuk menyeragamkan semua orang ke dalam sebuah imajinasi atau mimpi bukanlah sebuah perdamaian.

Bagaimana akhir cerita komik  dengan jumlah 700 bab ini? lagi-lagi silahkan Anda baca sendiri.

Tapi ngomong-ngomong apa sebenarnya penulis menceritakan kisah ninja fiktif Naruto ke dalam tulisan di ICRP-Online.org ini?

Kerap kali saya perhatikan cara berpikir kelompok ekstrimis baik yang kerap menggunakan kekerasan fisik maupun verbal punya corak pikir sama seperti Madara Uchiha. Menurut mereka dunia yang ideal adalah dunia yang tidak ada perbedaan dalam berpikir, bertindak, berperilaku, dan atau berbudaya.

Dunia yang ideal  bagi FPI atau HTI misalnya adalah berada di bawah naungan “Tauhid”. Yang tidak bertauhid hanya akan menyebabkan kekacauan. Karena, dalam asumsi FPI maupun HTI, hanya “islam ya islam” lah jalan kebenaran.  Karenanya, FPI atau kelompok serupa ingin menyeragamkan agama hingga corak berpikir setiap orang. Perbedaan bukan dipandang sebagai rahmat Tuhan, namun ancaman.

Sebaliknya, di kalangan pro pluralisme mirip dengan corak pikir naruto. Sudah tentu aktivis pro pluralisme adalah orang-orang yang melihat keberagaman sebagai simbol kasih Tuhan di dunia. Karena keimanan mereka pada kasih Tuhan itu lah orang-orang pro pluralisme mendorong adanya upaya-upaya memahami yang lian. Perdamaian hanya bisa dicapai, meski pun butuh waktu yang panjang, dengan cara-cara memahami, dan belajar dari yang satu sama lain.

Pertanyaan besarnya, manakah yang kelak akan memenangkan ruang wacana? apakah kelompok yang ingin menyeragamkan atau kelompok yang ingin merayakan keberagaman?

1.666 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

1 × three =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>